Connect with us

Berita

Tak Ada Senjakala di Armada Bus Kita

Published

on

Photo : Faisal

Pulau Indah Jaya mempertahankan trayek Samarinda-Balikpapan. Bahkan via tol berjarak 59.9 kilometer selama 1 jam 3 menit waktu normal. Perusahaan Otobus atawa PO legendaris itu nyaris kolaps akibat pelbagai gempuran, tetapi mereka menolak terkubur hidup-hidup ditengah perubahan zaman.

BUS Hino dominasi kuning itu bersandar di sekitar Jalan Untung Suropati, Kamis 14 Oktober
2021. Tak banyak aktivitas di sana, selain hilir-mudik pria bertubuh mungil yang nyaris menatap
tajam ke semua kendaraan yang melintas. “Balikpapan kah? Ayo, ayo,” ucapnya, sembari
mengarahkan penumpang untuk segera masuk ke dalam bus.

Pria itu adalah Dasu, salahsatu kernet bus PO Pulau Indah Jaya berumur 45 tahun. Pekerjaan
utamanya bukan hanya memandu supir, dia juga bertugas mencari penumpang. Sudah 5 tahun
terakhir pria kelahiran Bone –Sulawesi Selatan– itu bekerja dibawah bendera Pulau Indah Jaya.
Bus yang dikawalnya hari ini adalah bus premium fasilitas AC dengan bayaran Rp 43 ribu untuk
1 penumpang. Namun, dia tak ikut serta dalam perjalanan menuju Kota Minyak. Jarak tempuh
yang pendek membuat Dasu memilih bertahan mencari penumpang lain untuk trayek bus
berikutnya.

Jalan Untung Suropati sendiri bukanlah pangkalan legal bus antar kota/provinsi seperti Pulau
Indah Jaya. Lokasi itu merupakan tempat singgah sementara dari pangkalan resmi menuju dan
dari Terminal Sungai Kunjang. “Lima menit lagi berangkat itu busnya,” kata Dasu, kepada
seorang penumpang yang bertanya kepadanya. Perkataan Dasu memang bukan sesumbar. Lima
menit berselang, bus benar-benar berjalan. Padahal, jumlah penumpang hanya 3 orang yang
duduk di kursi depan.

Namun ternyata, bus tak langsung menuju Kota Minyak yang berakhir di Terminal Batu Ampar –
-Jalan Pattimura. Ada persinggahan kedua untuk mencari sekaligus membawa penumpang lebih
banyak di sekitar Jalan Cipto Mangun Kusumo –Samarinda Seberang. Hanya sekira 10 menit,
56 seat yang tersisa terisi penuh dengan tujuan serupa.

Kondisi pangkalan bayangan di dua tempat tadi –Jalan Untung Suropati dan Jalan Cipto Mangun
Kusumo– nyaris berbeda bila dibandingkan 2 dekade lalu. Bus yang singgah di lokasi tertentu
biasanya langsung menjadi target para pengamen, pengemis, dan penjaja makanan-minuman
ringan. Dalam perjalanan menuju Balikpapan itu, nyaris tak ada “layanan tambahan” tersebut.
Sebagian penumpang yang biasanya risih karena hal demikian, kini dapat menikmati perjalanan
dengan nyaman. Pun, saat melintas di tol via Gerbang Tol Palaran.

—-
MELINTASI rute Samarinda-Balikpapan via Gerbang Tol Palaran mungkin merupakan hal baru
bagi supir bus antar kota seperti Maman. Beberapa tahun lalu –sebelum tol dibangun– Maman
justru sering melintasi rute Samarinda-Balikpapan melalui jalan poros.

Rute ini memang memiliki waktu cukup lama untuk dilintasi. Dengan panjang 125 kilometer dan
waktu tempuh sekira 3 jam, jalan poros Samarinda-Balikpapan cukup menguji tenaga dan skill
berkendara para supir PO. Namun, dari bermacam jenis pengemudi, mereka yang rutin melahap
trayek ratusan kilometer harus ditempatkan dalam kasta yang amat berbeda; kasta manusia
super!

Ini belum mencakup bagaimana medan aspal di sekujur Samarinda-Balikpapan dulu dikenal
rusak, berliku, dan curam. Kombinasi tersebut –mau tak mau– membuat para penumpang Pulau
Indah Jaya tak ubahnya berada dalam petualangan yang teramat melelahkan.

Agar perjalanan lancar, PO butuh pengemudi yang mumpuni. Tidak bisa tidak, ketika
membicarakan supir Pulau Indah Jaya –misalnya– maka nama Maman berada pada salahsatu
daftar teratas.

Lelaki yang berusia hampir 50 tahun ini sudah menjadi supir bus sejak dekade 1990-an. Sepak
terjangnya dalam lingkaran PO bus tak perlu diragukan lagi: Maman tercatat pernah bekerja dari
satu PO ke PO yang lain, salah duanya yaitu Samarinda Lestari dan Bintang Mas.

Setelah malang melintang, pada awal 2000-an, Maman bergabung dengan Pulau Indah Jaya, dan
langsung memperoleh tugas mengendarai bus jurusan Samarinda-Balikpapan –rute yang saat itu
paling ramai digunakan. Dalam sehari, Maman bisa 3 kali pulang-pergi dari Kota Tepian ke Kota
Minyak. Posisi ini nyaris tak goyah dan terus dia jalani dalam kurun dua dekade.

Dulu, Maman mengaku, membawa bus dari Samarinda-Balikpapan membutuhkan persiapan
yang ekstra, baik secara fisik maupun mental. Pertama kali menjalani pekerjaannya, Maman
mengaku sempat ketakutan bila di jalan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lambat laun,
ketakutan tersebut menjelma jadi keberanian tanpa batas.

“Kuncinya cuma banyak vitamin, berdoa, dan lagu dangdut,” akunya dengan nada yakin.
“Karena tanpa itu, kita (para supir) akan mudah sekali mengantuk dan enggak fokus
(mengemudi).”

Menjadi supir Pulau Indah Jaya, untuk seorang Maman, tak cuma sebatas profesi. Pulau Indah
Jaya –di lain sisi– serupa ruang yang membuatnya mampu mengenali banyak wajah manusia,
utamanya para perantau. “Ada (penumpang) yang tetap berkomunikasi sampai sekarang (dengan
saya),” jelasnya. “Hubungan kami bahkan tak sekadar supir dan penumpang saja, tapi juga
saudara.”

Perjalanan Maman sebagai pengemudi bus tak melulu bahagia. Beberapa kali dia mesti
tersungkur, terlebih saat jumlah penumpang Pulau Indah Jaya yang terus menurun sehingga
berimbas pada pendapatannya sebagai sopir. Namun, Maman percaya bahwa sebagaimana roda
bus, kehidupan terus berputar, terkadang di bawah dan tak jarang di atas.

Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah senantiasa memacu pedal gas dan menemani
manusia-manusia yang tengah berupaya memenuhi harapan. “Belum kepikiran pensiun dari
supir, selama fisik dan pikiran masih kuat, ya, gas aja” tukasnya.

—–

PO Pulau Indah Jaya adalah penyedia jasa transportasi darat legendaris di Kalimantan. Berdiri
sejak 1985, perusahaan ini bergerak melayani rute antar kota/provinsi di Kalimantan Timur dan
Kalimantan Selatan. Penyedia jasa transportasi darat seperti ini, kerap diprediksi akan
mengalami senjakala. Namun faktanya, mereka mampu beradaptasi dan berubah.

Jika Anda melakukan pencarian digital, mungkin Anda akan terkejut melihat PO ini telah
memiliki web bernama pulauindahjaya.com yang nangkring di list pertama mesin pencarian
Google. Web ini menjadi wadah pemesanan tiket via online bagi pengguna jasa PO Pulau Indah
Jaya yang kini juga menjangkau layanan via Play Store dan App Store.

Menariknya, selain Pulau Indah Jaya, web ini juga menjadi wadah pemesanan tiket bagi
pengguna jasa PO Samarinda Lestari dan PO Bintang Mas –dua pemain jasa transportasi darat
lain yang masih bertahan di Pulau Kalimantan.

Tercatat ada 8 trayek yang mereka buka dari dan menuju Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda,
Amuntai, Bontang, Tenggarong, Martapura, dan Barabai. Layanan jasa transportasi via web ini
juga memungkinkan Anda untuk memesan bus secara online dengan fasilitas AC, toilet, TV,
hingga free WiFI.

Laiknya jasa transportasi modern, PO Pulau Indah Jaya juga bertransformasi dalam proses
transaksi. Jika 2 dekade lalu proses pembayaran hanya bisa dilakukan via tunai di loket resmi,
kini pengguna jasa mereka bisa membayar menggunakan kartu kredit, transfer ATM, dan
internet banking.

Meski terlihat sederhana, web pulauindahjaya.com setidaknya menjadi bukti bahwa mereka juga
telah berevolusi. (fa)

Berita

Hiyung, Cabai Terpedas di Indonesia Ada di Kalimantan (2)

Published

on

By

Cabai hiyung diperkirakan ada sejak 1993. Berawal dari seorang petani bernama Soebarjo yang membawa bibit cabai dari desa tetangga, yaitu Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin.

SEBELUMNYA, wilayah Desa Hiyung didominasi oleh lahan gambut, sehingga membuat wilayahnya kurang subur dan selalu gagal jika ditanami padi. Selain itu, juga banyak hama yang muncul.

Kondisi tersebut membuat warga sekitar pasrah. Namun, langkah Soebarjo yang membawa bibit cabe dari desa sebelah itu menjadi jalan keluar.

Bibit itu berhasil ditanam dan membuat cabe yang dihasilkan memiliki tingkat kepedasan yang tinggi.Sejak saat itulah, masyarakat sekitar beralih menjadi petani cabe.

Pertumbuhan cabe hiyung pun sangat berkembang pesat. Hal tersebut memunculkan sebuah perkumpulan yang diberi nama Asosiasi Cabe Rawit Hiyung di daerah tersebut.

Asosiasi tersebut diketuai oleh Junaidi. Ia menyebutkan bahwa masyarakat bisa menghasilkan 2 ton cabe per masa panen sebanyak 30 kali dalam satu tahun. Harga tertinggi cabe ini mencapai Rp 70 ribu-Rp 90 ribu per kg.

Harga di pasaran bisa lebih mahal dari harga tersebut. Keuntungan itu juga bersamaan dengan masyarakat luar yang tak henti memesan cabe hiyung dari para petani di Desa Hiyung.

“Saya sekarang punya sedikitnya 35 pelanggan. Itu dari pengepul, pengecer, dan rumah makan. Kalau lokasi pemesannya dari Kalimantan Selatan sampai daerah Jawa juga ada,” ungkap Junaidi. (*)

Continue Reading

Berita

Tionghoa Kalimantan Barat: Ekspedisi Kubilai Khan Sampai Mangkuk Merah (2-Habis)

Published

on

By

Photo: Istimewa

Seiring waktu, kongsi-kongsi ini berkembang pesat. Dua kongsi menjadi kekuatan dominan, yakni Federasi 14 Kongsi Heshun Zongting yang berdiri pada 1776, dan Kongsi Lanfang yang berdiri setahun setelahnya.

ADA sedikit salah kaprah bahwa kongsi-kongsi ini adalah negara dalam negara. Padahal, mereka awalnya hanya mengorganisasi diri supaya hidupnya lebih baik, teratur, dan tidak konflik,” papar Hasan Karman, mantan walikota Singkawang.

Menurut Hasan, kesalahpahaman ini dimulai dari penggunaan istilah “republik” oleh Dr J. J. M. De Groot, sinolog asal Belanda.

Akan tetapi, cap “republik” sendiri memang tidak mengherankan. Hal ini disebabkan karena setiap federasi memiliki wilayah, aturan, anggota, mata uang, pasukan keamanan, dan pimpinan yang dipilih secara demokratis.

“Memang mirip, sih, (dengan republik, Red.) karena segala unsur tersebut ada,” ujar Hasan. Namun menurut Hasan, kongsi tidak dapat dikatakan sebagai negara republik karena masih membayar pajak kepada Sultan Sambas.

Lama kelamaan, kongsi-kongsi ini mulai takluk di tangan Belanda. Heshun Zongting yang sedari awal menentang Belanda takluk terlebih dahulu pada 1854.

Sementara itu, Kongsi Lanfang yang lebih kooperatif ditaklukkan Belanda pada 1884. Di bawah pemerintahan Belanda, orang Tionghoa mendapatkan represi serupa yang dialami oleh jajahan Belanda lainnya.

Selang beberapa waktu, Kalimantan Barat diduduki Jepang pada Perang Dunia II. Untuk mencegah pemberontakan, para serdadu Jepang mengeksekusi tokoh-tokoh dan pemimpin Tionghoa di Mandor. Korban dari pembunuhan ini mencapai 21.037 jiwa.

Di masa Indonesia merdeka, orang Tionghoa mendapat tantangan baru. Melalui PP tahun 10 tahun 1959, orang Tionghoa tidak diperbolehkan membuka usaha di atas tingkat kabupaten. Represi ini semakin menguat dengan peraturan diskriminatif pada masa Orde Baru.

Puncaknya, terjadi Peristiwa Mangkuk Merah 1967. Dalam peristiwa ini, pada saat itu ada hasutan terhadap masyarakat Dayak bahwa orang Tionghoa melakukan dukungan terhadap gerakan komunis PGRS/Paraku. Akibat hasutan ini, militer yang dibantu sejumlah warga Dayak melakukan pembunuhan dan pengusiran massal terhadap orang Tionghoa.

Dalam buku Anomie and Violence: Non-truth and Reconciliation in Indonesian Peacebuilding (2010), korban pembunuhan ini diperkirakan mencapai 2.000-5.000 jiwa.

Laman Tirto.id melansir Jurnal Historia FKIP Universitas Muhammadiyah Metro bahwa tragedi ini juga memaksa 50.000-80.000 orang Tionghoa untuk mengungsi ke kota-kota seperti Singkawang dan Pontianak. Sekitar 5.000 jiwa lagi meninggal di kamp pengungsian karena kelaparan dan masalah kesehatan.

Namun pada akhirnya, diskriminasi pemerintah mulai surut pada era Reformasi. Orang Tionghoa di Kalimantan Barat kini menjadi bagian masyarakat yang menentukan masa depan provinsi dan negaranya. (*)

Continue Reading

Berita

Cobain Nih! Jengkol Khas Kalimantan: Tahilala

Published

on

By

OLAHAN jengkol rendang dan semur tentu sudah biasa kamu konsumsi. Lalu bagaimana kalau jengkol diolah dengan santan manis pakai tepung disantap jadi camilan?

Yap, camilan khas Kalimantan ini menyajikan olahan jengkol dengan kuah santan manis mirip bubur kanji dengan bahan dasar santan, gula, dan tepung terigu. Jadi penasaran bagaimana rasanya? Cobain dulu resep Jengkol Tahilala.

Bahan:
– 2 butir kelapa ukuran besar yang sudah diparut, dan kulit arinya dikupas bersih karena kalau tidak akan menghasilkan tahilala yang berwarna kecoklatan.
– Air kurleb 800 ml.
– Secukupnya gula pasir, garam.
– Secukupnya tepung maizena.

Cara Membuat:
– Peras kelapa menggunakan air kurleb 800 ml (menjadi santan kental)
– Hidupkan kompor, rebus santan hingga menyusut,mengental dan mengeluarkan minyak.
– Beri gula pasir dan garam secukupnya, menghasilkan rasa gurih ada manis asinnya.
– Campurkan tepung maizena dengan sedikit air lalu aduk rata.
– Dinginkan suhu ruang, siap disantap.

Tata di piring jengkol rebus lalu siram dengan tahilala, tambahkan merica bubuk agar rasanya semakin nikmat. Nyummy, Jengkol Tahilala kaya akan rasa bakal bikin ketagihan. (*)

Continue Reading

Trending