Connect with us

Artikel

Solo Exhibition by SENA: Bomber Grafiti yang Melahirkan 476 Karya di Jalanan Kota Samarinda

Published

on

Street artist dari Kota Samarinda, SENA, menggelar pameran tunggal di Kedai Kopi Muzzle. Berlangsung sejak Sabtu 27 Agustus 2002 hingga Minggu 4 September 2022, sejumlah karya dihadirkan lewat instalasi atraktif.

DI ruang depan, disajikan sebuah pengantar dari Samar Project –kurator “Solo Exhibition by SENA“. Lewat media tembok berwarna putih, Samar Project mengejawantahkan sosok SENA sebagai bomber grafiti paling produktif di Provinsi Kalimantan Timur saat ini. Predikat itu tentu bukan sesumbar. Sejak 2011 hingga 2022, ada 476 karya dengan tag SENA yang dapat ditemui di Kota Samarinda dan sekitarnya. “Keberadaannya tentu tidak lepas dari kontroversi. Namun bagaimanapun, praktiknya yang dirangkum di ruangan ini adalah respon terhadap praktik seni dan produk visual yang ada di Samarinda,” tulis Samar Project.

Bagi Robby Oktovian dan Syahrullah –Samar Project– bila diamati, produk visual di ruang terbuka Kota Samarinda hanya didominasi tiga citra dominan. Pertama adalah kampanye politik, kedua adalah iklan, dan ketiga adalah mural. SENA sendiri mewakili citra dominan mural yang cukup konsisten menghiasi pelbagai ruang terbuka Kota Tepian. Berbeda dengan produk visual lain, mural SENA tidak memiliki tendensi promosi apapun selain aktualisasi. Samar Project menangkap pesan, secara ideologis apa yang dilakukan SENA adalah bentuk “provokasi”, bahwa warga sipil pun mempunyai hak untuk berkarya secara radikal di ruang terbuka.

Samar Project melihat, meskipun pada tingkat global grafiti telah terestablish menjadi bagian dari praktik seni publik, namun di Kota Samarinda praktik itu kerap dilihat sebelah mata. Praktik seni di Kota Samarinda sendiri berjalan dengan cara organik dan institusional yang kaku. Akibatnya, keberadaan galeri sangat minim. Pun hanya dikuasai oleh kelompok tertentu. Beberapa praktik tak lagi sesuai dengan visi estetik, berdampak pada perkembangan seni yang berjalan pincang. “Praktik SENA yang membuat seisi ruang kota sebagai ‘galerinya’, memecahkan dan melawan kondisi tersebut,” jelas Samar Project.

Pengantar “olo Exhibition by SENA” oleh Samar Project. (FOTO: Tripia.id)

UNTAIAN tirai plastik bergoyang perlahan menuju ruang utama pameran. Lewat variasi warna cerah dan gelap, SENA mengucapkan selamat datang melalui kalimat “Outside In“. Grafiti yang terkesan asal itu nampak estetik jika diamati, baik dari depan maupun dari belakang. Dan seperti banyak karya yang telah dia dibuat, tag SENA hadir diantara coretan-coretan grafiti itu.

Tirai plastik menjadi medium pembeda di “Solo Exhibition by SENA”. (FOTO: Tripia.id)

SENA yang dikenal akrab dengan medium dinding beton, mencoba mengimplementasikan idenya lewat medium lain di solo exhibition ini. Selain di tirai plastik, penggunaan medium berbeda juga terlihat di instalasi 4 rambu jalan berbentuk lingkaran dan segi empat. Cerita dibalik hadirnya rambu jalan ini juga cukup menarik. SENA mendapatkannya di pelbagai lokasi di Kota Samarinda. Namun salah satunya justru ditemukan di Kota Sangatta –Kabupaten Kutai Timur. Rambu itu berbentuk larangan untuk kendaraan dengan spesifikasi tertentu.

Instalasi kaleng cat semprot bekas dan rambu lalu lintas di “Solo Exhibition by SENA”. (FOTO: Tripia.id)

Deretan 4 rambu jalan yang tergantung rapi di atas koleksi kaleng cat semprot bekas itu, turut pula diubah menjadi artistik. Selain itu, ada pula road barrier. Selain berisi coretan cat semprot, diantaranya juga bersanding deretan stiker ucapan para pengunjung yang menjalar hingga di sebuah tiang ruangan yang digunakan sebagai pengganti daftar buku tamu.

Medium lainnya adalah kertas. Sebanyak 40 desain grafiti di paper itu juga dihadirkan sebagai bagian dari proses kreatif SENA memadukan pelbagai warna. Jenis grafiti seperti bubble, throw up, dan roll up, menghiasi keseluruhan karya ini.

Desain grafiti bubble, throw up, dan roll up dengan medium kertas milik Sena turut dihadirkan di “Solo Exhibition by SENA”. (FOTO: Tripia.id)

Maju selangkah, peta Kota Samarinda kemudian terlihat terbentang di dinding tembok berwarna putih –tepat di sebelah kanan ruang pameran utama. Beberapa kelurahan di sekitar 10 kecamatan, diberi pin bertali yang dihubungkan dengan deretan dokumentasi foto-foto grafiti yang pernah dibuat SENA. Dari peta tersebut tergambar, jejak karya SENA banyak berpusat di Kecamatan Samarinda Ilir. “Dokumentasi ini baru sebagian,” jelas Sena.

Instalasi dokumentasi yang dikombinasikan dengan peta Kota Samarinda. (FOTO: Tripia.id)

Di samping instalasi itu, tersedia pula televisi dan Playstation 2. Gim yang disediakan bagi pengunjung adalah Marc Eckō’s Getting Up: Contents Under Pressure. Ruang kecil ini seolah menceritakan bagaimana SENA memulai ketertarikannya terhadap dunia grafiti lewat sebuah gim. Ya, perjalanan Sena dan grafiti memang bermula pada gim Marc Eckō’s Getting Up: Contents Under Pressure di Playstation 2. Trane, seniman amatir yang menjadi tokoh di gim itu, menggunakan grafiti sebagai bentuk protes terhadap Kota Orwellian yang mengalami distopia dan korup. Di gim itu, kebebasan ekspresi ditekan oleh pemerintah kota yang kejam. “Saya terinspirasi karena gim ini,” akunya.

Di bagian lain, tembok putih besar lain disediakan bagi pengunjung yang ingin mencoba membuat mural langsung ditembok. SENA menyediakan secara gratis beragam cat sempot untuk digunakan. Selanjutnya adalah instalasi koleksi cat semprot bekas. Beberapa diantaranya termasuk jadul dan tidak dijual di Kota Samarinda. Cat semprot merek Diton 300 CC –misalnya– turut dipamerkan dan menjadi saksi perjalanan SENA di dunia grafiti. “Dulu dibuang begitu saja. Baru ini mulai dikumpulkan lagi,” katanya. “Ini baru sebagian, di rumah masih ada,” timpal Sena.

Karya SENA dengan medium plywood, dikombinasikan dengan uang pecahan Rp 1.000. (FOTO: Tripia.id)

Dari semua instalasi itu, yang paling menarik adalah karya grafiti lewat medium plywood yang membentuk nama SENA. Di dalam media itu, disusun rapi lembaran uang pecahan Rp 1.000 dari waktu ke waktu. Paling dominan tentu saja uang pecahan Rp 1.000 yang dirilis pada 2000 dan 2016. SENA juga menyelipkan easter egg dalam karya itu berupa uang pecahan Rp 1.000 bergambar Danau Toba dan Loncat Batu di Nias yang beredar pada 1992.“

CERITA GRAFITI DI FLYOVER JEMBATAN MAHAKAM IV

Solo exhibition by SENA” merupakan puzzle penting dari perjalanannya selama 1 dekade lebih Sena sebagai street artist. Meski banyak terlibat dalam pelbagai eksibisi grafiti, pameran tunggal ini menjadi bukti tak terbantahkan eksistensinya dalam dunia street art lokal. Sepanjang perjalanan itu, salah satu karya yang diingat publik adalah grafitinya di flyover Jembatan Mahakam IV di Jalan Slamet Riyadi –tepat di depan Polres Samarinda. Kepada Tripia.id, Sena mengungkapkan banyak hal mengenai cerita dibalik grafiti itu.

Kata Sena, dalam setahun sekali, dia selalu memiliki “tradisi” melakukan sesuatu yang berbeda. Aktivitas ini dilakukannya sejak 2017. Mulai dari kolaborasi hingga kegiatan antar komunitas. Di 2021 –setahun setelah peresmian Jembatan Mahakam IV– Sena memutuskan untuk melakukan grafiti di flyover Jembatan Mahakam IV itu. “Saat itu belum ada yang grafiti di sana. Daripada menunggu yang lain, saya nekat saja bikin grafiti di lokasi itu,” terangnya.

Instagram @real_sena

Sena mengaku sempat melakukan survei lokasi lebih dulu. Setelah setengah jam berada di sana, dia lalu mulai menyemprotkan cat ke dinding flyover. Berbeda dengan kebanyakan karya yang dibuat, grafitinya kali ini memang terlihat sederhana dengan menggunakan warna hitam. Namun menariknya, grafiti tersebut dibuat menggunakan Alat Pemadam Api Ringan atau APAR yang telah dimodifikasi. “Medianya juga besar. Makanya pakai APAR. Kalau pakai cat semprot, jaraknya hanya 2 meter. Dengan APAR jaraknya bisa sampai 4 meter dan mudah dinotice orang,” sebutnya.

Bagi Sena, lokasi itu dipilih karena terlihat sangat kaku. Apalagi saat itu belum ada penghijauan di sekitar flyover. Penerangan yang minim saat malam hari juga menambah kesan muramnya flyover Jembatan Mahakam IV di Jalan Slamet Riyadi tersebut. Sena menyatakan, grafiti pada dasarnya tak mengubah fungsi dari medium yang digunakan. Grafiti hanya memberi warna bagi bagian bangunan yang monoton. “Setidaknya saat orang lewat, mereka melihat sesuatu untuk dinotice,” paparnya.

Keberadaan grafitinya di flyover tersebut tentu saja menimbulkan pro-kontra. Pagi harinya, kabar munculnya grafiti di flyover Jembatan Mahakam IV tersebar di media sosial. Alih-alih memperbincangkan tujuan hadirnya grafiti di tempat tersebut, publik justru lebih tertarik memperbincangkan siapa sosok yang melakukannya. Bahkan, akun Instagram miliknya tak luput dari pesan dari pelbagai pihak seperti pemerintah dan aparat. (fa)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel

TRIPIA RESEARCH: Akhir Hidup Battousai dan Para Hitokiri (4-Habis)

Published

on

By

Tidak banyak literasi mengenai Tanaka Shinbei dan Kirino Toshiaki –dua Hitokiri lain selain Kawakami Gensai dan Okada Izo dari era Bakumatsu. Mereka memilih jalan pedang hingga akhir hayat.

MENURUT catatan sejarah, Tanaka Shinbei melakukan pembunuhan sejak 1860 ketika Shogun klan Tokugawa masih berkuasa. Dia dipercaya bekerja dibawah komando Takechi Hanpeita –pemimpin Tosa Kinno-to. Aksinya yang paling terkenal terjadi ketika menghabisi nyawa Li Naosuke –salah satu pejabat Shogun klan Tokugawa.

Korban Shinbei tersebut memang bukan orang sembarangan. Naosuke adalah Daimyo di Hikone. Dia pula merupakan salah satu Tairo di pemerintah Shogun klan Tokugawa. Tairo atau Go Tairo berarti Dewan Lima Tetua. Tairo adalah kelompok yang terdiri dari lima penguasa feodal terkuat yang dibentuk 1598. Apalagi, Naosuke juga merupakan tokoh penting terjadinya penandatanganan Perjanjian Harris –perjanjian pertama The Ansei Treaties– dengan Amerika Serikat yang memberikan akses ke pelabuhan untuk perdagangan kepada para pedagang dan pelaut Amerika serta ekstrateritorial kepada warga Amerika.

Shibei sebenarnya memiliki latar belakang keluarga petani miskin. Makanya, sebelum pembunuhan Naosuke terjadi, Shibei kerap dianggap sebelah mata oleh para samurai lain. Kendati begitu, aksinya dituding sebagai pemicu kekerasan dan pembunuhan lain selama bertahun-tahun di Jepang, terutama di Edo –Kyoto, ibukota Jepang dulu.

Pembunuhan kepada Naosuke memang hanya satu dari sekian pembunuhan yang dilakukan para Hitokiri di era 60-an sebelum pasukan Shinsengumi dibentuk oleh Tokugawa Yoshinobu. Kendati begitu, diantara tiga Hitokiri lain, Shibei disebut-sebut melakukan pembunuhan paling banyak. Sayangnya, tak ada catatan khusus mengenai jumlah korban. Lantaran kebengisan itu, dia bahkan dijuluki “Ansatsu Taicho” atau “Kapten Pembunuh”.

Di pelbagai literasi, korban Shinbei disebut tak hanya Naosuke. Sederet nama yang pro terhadap Shogun klan Tokugawa, dibantai tanpa ampun. Diantaranya adalah Shimada Sakon, Ukyo Omokuni, dan Homma Seiichiro –politisi yang mendukung pemerintah Shogun klan Tokugawa. Shinbei juga dicurigai melakukan pembunuhan terhadap seorang perempuan muda bernama Komichi.

 

Pada akhirnya, pembunuhan yang dilakukan Shibei terhenti dalam sebuah momen. Dia tertangkap tangan saat melakukan pembunuhan seorang pejabat senior Shogun klan Tokugawa, Anegakoji Kintomo. Shibei kemudian dibawa ke Kyoto dan diinterogasi. Di saat itulah, Shibei konon diberi pilihan; mengaku atau mengakhiri hidupnya sendiri. Shibei pada akhirnya memilih melakukan Seppuku.

Sosok di Hitokiri terakhir adalah Kirino Toshiaki. Nama lainnya adalah Nakamura Hanjiro. Aliran pedangnya yang terkenal adalah Ko Jigen-ryu –cabang dari aliran pedang Jigen-ryu. Seperti Kawakami Gensai, aliran pedang ini juga mengandalkan kecepatan. Toshiaki tercatat melakukan pembunuhan di awal dan pertengahan 60-an. Aksinya sebagian besar berpusat di Kyoto. Sayangnya, tidak ada pernyataan resmi mengenai jumlah korban yang dibunuhnya.

Toshiaki sempat menjadi salah satu petinggi angkatan darat kekaisaran Jepang di awal pemerintahan Meiji setelah Perang Boshin. Kehidupannya berubah tatkala kekaisaran yang dibelanya membuka pintu kerjasama dengan pihak asing. Toshiaki yang kecewa lalu membelot. Dia bergabung dengan pasukan Saigo Takamori –salah satu samurai berpengaruh di Jepang.

Takamori merupakan salah satu dari tiga bangsawan besar yang memimpin Restorasi Meiji. Dia memimpin penggulingan pemerintah Shogun klan Tokugawa, yang kemudian berbalik menjadi lawan pemerintah Meiji setelah melihat Kekaisaran Jepang begitu lemah. Di titik itu, Toshiaki didapuk menjadi komandan pasukan dan terlibat dalam Pemberontakan Satsuma.

Pemberontakan Satsuma sendiri tercatat dalam sejarah Jepang sebagai perang saudara terbesar dan terakhir di Jepang. Dalam pemberontakan ini, para samurai dari klan Satsuma yang dipimpin Saigo Takamori melakukan perlawanan terhadap tentara kekaisaran Jepang. Perang Satsuma berlangsung selama 11 bulan sejak awal Pemerintahan Meiji.

Meski anti barat, hal menarik dari Toshiaki adalah dia sangat suka menggunakan Eau de cologne –parfum– dari Prancis. Kirino bahkan menggunakan parfum tersebut saat pertempuran terakhirnya di Shiroyama. Pada akhirnya, Kirino tetap menghunus pedangnya bersama Takamori. Dia kemudian terbunuh di akhir pemberontakan. Jenazahnya kemudian dimakamkan bersama Takamori dan para samurai legendaris lainnya. Diantaranya Beppu Shinsuke, Katsura Hisatake, Murata Shinpachi, Shinohara Kunimoto, dan Oyama Tsunayoshi. Mereka dikubur di pemakaman Nanshu yang terletak di Kagoshima.

Bila ditelusuri, kehidupan Toshiaki sebenarnya hampir sama seperti Gensai. Dia memiliki istri bernama Hisa yang juga terampil dalam bela diri. Dalam sebuah karya seni Ukiyo-e, Hisa bahkan digambarkan terlibat dalam pemberontakan melawan Pemerintah Meiji dan memimpin pasukan perempuan. Tak seperti Toshiaki, Hisa berhasil selamat dan hidup hingga 1920. (fa)

Continue Reading

Artikel

TRIPIA RESEARCH: Akhir Hidup Battousai dan Para Hitokiri (3)

Published

on

By

Nasib malang Kawakami Gensai juga dialami Hitokiri lain. Persamaan mereka; membelot kepada kekaisaran yang dulu dibela.

EMPAT pembunuh berantai Hitokiri diklaim berada dibawah naungan Tosa Kinno-to –partai yang mendukung Restorasi Meiji untuk mengembalikan kekuasaan kepada kekaisaran dari tangan Shogun klan Tokugawa. Partai ini dikenal dengan statemennya; Sonno Joi –secara umum berarti “Hormati Kaisar, usir orang barbar!” Dalam operasinya, mereka menggunakan istilah “Hukuman Surga” untuk membunuh mereka yang melawan kekaisaran.

Tripia.id tidak menemukan informasi apapun mengenai keterlibatan Gensai di Tosa Kinno-to dan bagaimana dia mengenal tiga pembunuh lainnya. Sebab, Gensai justru bergabung dengan gerakan Jyoi –salah satu faksi pendukung kekaisaran– saat melakukan pembunuhan. Pun tidak ada keterangan apakah gerakan Jyoi merupakan bagian daripada Tosa Kinno-to. Satu-satunya persamaan Jyoi dan Tosa Kinno-to adalah mereka mendukung penggulingan Shogun klan Tokugawa di pemerintahan Jepang.

Kuat dugaan, pembunuhan yang dilakukan Gensai memang terpisah dengan Hitokiri lain seperti Kirino Toshiaki. Sebab sejarah mencatat, hanya Tanaka Shinbei dan Okada Izo yang pernah melakukan pembunuhan bersama atas perintah Takechi Hanpeita –pemimpin Tosa Kinno-to.

Nah, salah satu Hitokiri terkenal di Tosa Kinno-to adalah Okada Izo yang lahir pada 14 Februari 1838. Laman Wikipedia menulis, Izo banyak melakukan operasi pembunuhan di Kyoto bersama Tanaka Shinbei. Konon, adik Izo, Okada Keikichi, juga merupakan anggota Tosa Kinno-to.

Izo merupakan putra pertama Okada Yoshihira –samurai dari Tosa. Awalnya, Izo belajar memainkan samurai secara otodidak. Dia lalu menjadi murid Hanpeita di sekolah bela diri Nakanishi-ha Itto-ryu –cabang dari sekolah bela diri Ono-ha Itto-ryu. Izo yang kadung mengikuti jejak Hanpeita, ikut pula bertolak ke Kyoto. Di sana dia sempat pula memperdalam ilmu samurainya dengan belajar Kyoshin Meichi-ryu di Shigakukan.

Izo yang sempat pergi ke Kyoto, kembali lagi ke Tosa pada April 1862. Di tahun itulah, Izo disebut bergabung dengan Tosa Kinno-to yang diorganisir Hanpeita dan setia kepada gerakan Sonno Joi. Kabar yang beredar, nama Izo kemudian dicoret sebagai anggota Tosa Kinno-to. Kuat dugaan, hal itu sengaja dilakukan Hanpeita untuk menghilangkan jejak Okada Izo di partai sebelum ditugaskan sebagai pembunuh.

Catatan pembunuhan Izo sendiri konon dimulai dari Inoue Saichiro –prajurit pemerintah Shogun klan Tokugawa yang bertugas di Tosa. Berikutnya adalah seorang samurai, Honma Seiichiro –diklaim sebagai rekannya sendiri. Nama lainnya yang meregang nyawa ditangan Okada Izo adalah Ikeuchi Daigaku, Mori Magoroku, Ogawara Juzo, dan Watanabe Kinzan. Selanjutnya adalah Ueda Jonosuke –pejabat pemerintah Shogun klan Tokugawa, serta Yoriki di Kyoto.

Izo juga tercatat melakukan pembunuhan kepada Tada Tatewaki –putra Nagano Shuzen, pejabat Shogun klan Tokugawa, yang sempat memimpin penangkapan dan pembunuhan kepada mereka yang tidak sepakat dengan kebijakan luar negeri pemerintah Jepang dibawah Shogun klan Tokugawa. Saking bengisnya, Izo dikisahkan menggantung tubuh Tada Tatewaki di sebuah jembatan agar jenazahnya bisa dilihat masyarakat. Seperti ketiga rekannya yang lain, Izo juga merupakan Hitokiri yang paling ditakuti pada masa itu.

Kehebatan Izo dalam menggunakan samurai tergambar pada 1863. Itu terjadi saat dia menjadi pengawal Katsu Kaishu –seorang negarawan dan insinyur angkatan laut Jepang selama akhir Shogun dan awal era Meiji. Ketika itu, Katsu Kaishu diserang oleh tiga pembunuh. Izo yang berada di dekat tuannya, langsung menghunus samurai dan bertarung melawan tiga orang sekaligus. Sial, satu dari tiga pembunuh itu terkena tebasan samurai Izo. Lantaran meraung kesakitan karena luka, dua pembunuh lain justru kabur melarikan diri meninggalkan rekannya yang sekarat.

Cerita kehebatan Izo menjadi mengawal justru diceritakan oleh Katsu Kaishu. Makanya, dia kemudian diminta menjadi pengawal Nakahama Manjiro –penerjemah bahasa di masa transisi Jepang, sekaligus salah satu orang Jepang pertama yang pernah mengunjungi Amerika Serikat saat itu. Kehebatan Izo dalam membunuh lawannya disaksikan sendiri oleh Manjiro. Saat itu, Manjiro disergap oleh empat pembunuh ketika dia bersama Izo mengunjungi sebuah pemakaman bergaya barat di Jepang yang telah rampung. Tempat ini sendiri dibangun oleh Manjiro.

Ketika itu, dua dari empat pembunuh tersebut bersembunyi diantara batu nisan. Izo yang merasakan ada yang tidak beres dengan deretan batu nisan tersebut meminta Manjiro untuk tidak melarikan diri dan tetap berada di sisinya. Dua pembunuh yang bersembunyi tadi seketika meregang nyawa setelah menerima sabetan samurai Izo. Seperti yang terjadi kepada Kaishu, dua pembunuh yang menyaksikan itu langsung melarikan diri.

Di fase ini, tidak ada catatan spesifik mengenai alasan Izo mengawal Kaishu dan Manjiro yang notabene bertolak belakang dengan prinsip Izo yang menentang kehadiran pihak asing. Namun, dipilihnya Izo sebagai pengawal Kaishu konon berkat jasa Sakamoto Ryoma –salah satu samurai terkenal di era Bakumatsu yang mendukung kekaisaran Jepang.

Pada 1864, Izo sempat ditangkap oleh seorang pejabat Shogun klan Tokugawa. Dengan pelbagai tuduhan, dia kemudian diasingkan ke luar Kyoto. Pada saat pengasingan itu, Izo justru ditangkap oleh seorang pejabat dari Tosa dan membawanya ke kampung halaman. Setelah di Tosa dan bebas –pada 1865– Izo diketahui terlibat dalam pembunuhan lagi. Kali ini korbannya adalah Yoshida Toyo –calon pemimpin di wilayah Tosa. Pembunuhan itu berlangsung sebelum Yoshida Toyo dilantik. Gara-gara pembunuhan itu, Izo dan sejumlah rekannya di Tosa Kinno-to ditangkap. Mereka juga dituduh atas pelbagai pembunuhan yang terjadi di Kyoto. Beruntung, Keikichi –adik Izo– berhasil melarikan diri dari penangkapan.

Keikichi yang mengetahui sang kakak ditangkap, menulis sepucuk surat untuk memberi kabar orangtuanya di Tosa. Isi surat tersebut menunjukkan bagaimana Keikichi merasa akan ada hal buruk terjadi kepada Izo. “Lebih baik bagi orang bodoh seperti itu untuk segera mati, dan bagaimana orangtuanya akan meratapi dia karena kembali tanpa rasa malu di kampung halamannya,” tulis Keikichi, seperti dikutip Tripia.id dari laman Wikipedia. Setelah itu, Keikichi dikabarkan sering mengirim surat ke Tosa untuk mengabarkan kondisi terkini kakaknya.

Benar saja, Izo dan rekan-rekannya memang harus menghadapi penyiksaan yang berat selama ditahan. Rekan-rekannya di luar penjara –terutama di Tosa Kinno-to– sempat ketar-ketir jika Izo bakal buka suara soal pembunuhan Yoshida Toyo. Jika itu terjadi, maka mereka akan menjadi target selanjutnya. Beredar kabar jika anggota Tosa Kinno-to merencanakan pembunuhan Izo dengan memberikan racun di makanannya. Namun, kabar itu dibantah keras oleh Hanpeita.

Tak diketahui apakah Izo buka suara atau tidak. Namun yang pasti, Izo pada akhirnya dihukum mati setelah mengalami penyiksaan berat selama ditahanan. Kepalanya dipenggal dan dipajang di depan umum. Di laman Wikipedia, sebait puisi tentang kematian Izo diduga ditulis oleh Keikichi; “Hatimu yang penuh pengabdian seharusnya bisa menghilang setelah gelembung-gelembung air menghilang“.

Jenazah Izo kemudian dikubur di makam keluarga. Lokasinya berada di pegunungan sekitar stasiun kereta api Azo di Kota Kochi. Di nisan, tertulis nama aslinya; Okada Yoshifuru.

Sampai saat ini, wajah asli Izo masih menjadi misteri. Meski mesin pencari diinternet banyak menampilkan wajahnya, laman Wikipedia mengklaim wajah Izo sebenarnya tak diketahui. Foto-foto yang beredar justru bukan Izo, melainkan foto Chojiro Kondo dan Seizo Okada. (bersambung/fa)

Continue Reading

Artikel

TRIPIA RESEARCH: Akhir Hidup Battousai dan Para Hitokiri (2)

Published

on

By

Perjalanan hidup Kawakami Gensai penuh dengan penderitaan. Hingga ajal menjemput, dia tetap menolak kehadiran pihak asing di Negeri Matahari Terbit.

GENSAI lahir di Kumamoto 25 Desember 1834. Nama aslinya adalah Komori Genjiro, anak kedua dari Komori Sadasuke. Sang ayah –Komori Sadasuke– bekerja untuk Daimyo di Kumamoto yang masih berada dibawah kekuasaan Shogun klan Tokugawa. Ketika berumur 11 tahun, Genjiro diadopsi Kawakami Genbei –seorang pegawai Daimyo. Disinilah kemudian dia resmi berganti nama menjadi Kawakami Gensai –kelak dikenal dalam sejarah sebagai pembunuh berdarah dingin.

Di keluarga baru tersebut, Gensai mulai disekolahkan dan belajar beladiri. Buku biografi “Teihon Kawakami Gensai” yang ditulis Seishi Araki menyebut, di masa itu bakat Gensai dalam memainkan pedang justru tidak terlihat. Malah sering kalah saat melakukan sparing menggunakan Shinai. Gensai bahkan mengatakan jika pedang bambu tidak lebih dari sekadar permainan.

Ketika berusia 16 tahun, Gensai dipanggil bekerja di istana Kumamoto sebagai petugas kebersihan. Meski posisi tersebut paling rendah di sana, Gensai benar-benar menikmati pekerjaannya dengan sepenuh hati. Ditengah rutinitasnya, Gensai ternyata tak hanya berlatih bela diri saat jam istirahat kerja.

Dia menggunakan waktu luang untuk berkesenian, membuat sastra, serta belajar Sado dan Ikebana. Pada momen inilah Gensai bertemu dengan Todoroki Buhe dan Miyabe Teizo, dua sosok yang disebut-sebut sebagai mentornya. Dari keduanya pula, Gensai belajar tentang konsep Kinno yang kelak akan menjadi alasannya mendukung kekaisaran melawan Shogun klan Tokugawa.

Medio 1850-an, Gensai sempat bekerja dengan Kumamoto Hosokawa Narimori –bangsawan Shogun. Dia kemudian dibawa ke Edo –ibukota Jepang, dulu di Kyoto– untuk menemani Narimori melakukan penandatanganan perjanjian dengan pihak asing. Ketika di sana, Komodor Matthew Perry telah mendarat di Jepang. Saat fase transisi inilah, Jepang yang diwakili pemerintah Shogun klan Tokugawa, melakukan perjanjian dengan lima negara. Diantaranya Amerika, Inggris, Rusia, Belanda, dan Prancis.

 

Perjanjian ini dikenal dengan nama The Ansei Treaties. Sebelumnya, banyak negara yang ingin melakukan hubungan dengan Jepang. Namun misi tersebut selalu gagal. Hingga akhirnya Perry datang membawa kapal perang berukuran besar. Di lain sisi perjanjian itu, Perry justru memaksa Pemerintah Jepang untuk mulai melakukan perdagangan dengan dunia luar. Dalam kondisi ini, Shogun klan Tokugawa tak punya pilihan. Perjanjian pun ditandatangani. Namun bagi sebagian pihak, perjanjian The Ansei Treaties dianggap tak adil. Salah satu yang menganggap hal itu adalah Gensai.

Gensai kemudian memilih pergi dari Edo dan kembali ke Kumamoto. Tiba di tanah kelahiran, Gensai memutuskan bersekolah di Oen Kinno yang dimiliki Hayashi Oen –ahli strategi militer nasionalis yang cukup terkenal di era Bakumatsu. Gensai sekolah di sana hingga lulus. Pasca itu, Gensai kembali lagi ke Edo sebelum menikah dengan Misawa Teiko –putri seorang pegawai Daimyo– dan memiliki seorang anak bernama Gentaro. Teiko sendiri disebut terampil dalam menggunakan Naginata.

Medio 1860, Gensai bergabung dengan pasukan khusus Kumamoto yang bertugas menjaga keamanan di Kyoto setelah menikah. Dia kemudian diangkat menjadi pengawal Sanjo Sanetomi –seorang bangsawan kekaisaran Jepang. Semasa menjadi bodyguard inilah –berdasarkan pelajaran yang didapatkan dari Todoroki Buhei, salah satu mentornya di istana Kumamoto– gensai mulai menciptakan Shiranui-Ryu; aliran pedang yang sangat mengandalkan kecepatan. Aliran pedang Shiranui-Ryu ini pula yang disebut-sebut menjadi inspirasi gaya berpedang Hiten Mitsurugi-Ryu milik Kenshin Himura di manga/anime “Samurai X“.

Medio 1864 menjadi tahun duka bagi Gensai. Miyabe Teizo –salah satu mentornya di istana Kumamoto– dibunuh oleh pasukan Shinsengumi yang melakukan penyerangan ke Ikedaya. Kekuasaan Shogun klan Tokugawa yang mulai goyah, membuat pasukan Shinsengumi melakukan pembunuhan kepada mereka yang mendukung Kaisar Meiji. Miyabe Teizo sendiri merupakan pendukung Kaisar Meiji yang loyal dan pernah mengajarkan konsep Kinno kepada Gensai.

Setelah kejadian itu, Gensai memutuskan melepaskan diri dari segala hal yang berkaitan dengan pemerintahan Jepang yang dijalankan Shogun klan Tokugawa. Termasuk di istana Kumamoto. Dia memilih menjadi samurai yang setia kepada kekaisaran dan menjalankan konsep Kinno. Saking setianya pada kekaisaran, Gensai sampai memburu para politisi Jepang yang pro Shogun dan pihak asing. Konon, Gensai bergabung dengan gerakan bernama Jyoi –salah satu faksi yang mendukung kekaisaran Meiji. Kebenaran mengenai informasi ini sendiri masih diragukan.

Tripia.id mencoba menelusuri rekam jejak pembunuhan yang dilakukan Gensai di masa itu melalui pelbagai literasi secara online. Namun, tak ada catatan resmi siapa dan berapa jumlah pembunuhan yang telah dilakukannya. Namun Gensai dipercaya melakukan banyak pembantaian di pelbagai tempat jelang Restorasi Meiji. Hal ini mengingat gelar yang disematkan kepada Gensai saat itu; Hitokiri.

Meski telah melakukan pembunuhan, hanya satu pembunuhan Gensai yang tercatat dalam sejarah dan yang paling dikenal. Yakni pembunuhan kepada Sakuma Shozan pada 12 Agustus 1864. Menurut catatan, pembunuhan ini dilakukan Gensai dengan sekali tebasan bersama tiga samurai lain yang menemaninya di siang bolong pada 12 Agustus 1864. Korban Gensai satu ini memang bukan sembarangan. Shozan tak hanya politisi pendukung Shogun klan Tokugawa. Dia sosok terpelajar yang banyak mempelajari ilmu pengetahuan barat.

Setelah dipercaya terlibat dalam banyak kasus pembunuhan, Gensai pindah ke Chosu. Di sana, dia bergabung dengan pasukan Kiheitai yang bertempur melawan pasukan Shogun untuk mempertahankan Chosun pada 1866. Dalam pertempuran itu, pasukan Kiheitai berhasil menang. Gensai sebenarnya sempat menyerah dalam sebuah pertempuran di Kokura dan dipenjara oleh pemerintah Shogun klan Tokugawa hingga dibebaskan pada 1868 oleh pemerintah Meiji. Catatan sejarah menyebut, Gensai tidak terlibat dalam Perang Boshin karena masih berada dalam tahanan.

Dalam banyak catatan sejarah Jepang, Gensai memang mendukung Restorasi Meiji dan menolak kebijakan Pemerintahan Jepang yang dijalankan Shogun klan Tokugawa. Namun ternyata –dikemudian hari– era Meiji justru setuju dengan konsep dan pandangan Sakuma Shozan –politisi yang dibunuh Gensai– bahwa untuk maju Jepang harus membuka diri, namun tak meninggalkan jati diri mereka. Hal inilah yang membuat Gensai kecewa dan akhirnya menentang pemerintahan Meiji. Bagi Gensai, perjuangannya dan samurai lain yang telah tewas karena membela kekaisaran menjadi sia-sia. Makanya, Gensai kemudian momok berbahaya bagi pemerintahan Meiji.

Dia pun menjadi target para tentara kekaisaran. Sayang, nasibnya berakhir tragis. Pasca pemerintahan Meiji berkuasa, pasukan Kihetai –termasuk Gensai– justru ditangkap dan dipenjara atas pembunuhan yang pernah mereka lakukan dulu. Gensai bahkan dipenjara hingga akhir Restorasi Meiji. Setelah bebas dari penjara, Gensai mengganti namanya menjadi Kouda Genbei. Dia lalu pulang ke kampung halamannya di Kumamoto. Selain menjadi pejabat militer di sana, Gensai juga menjadi guru pedang yang membuka dojo di Kumamoto.

Sayangnya, lantaran dituduh menyembunyikan mantan pasukan Kihetai lain yang masih menjadi buronan pemerintahan Meiji, Gensai ditangkap kembali pada November 1870. Dia lalu dieksekusi di Tokyo pada 13 Januari 1872. Sementara Teiko dan Gentaro tetap hidup setelah Gensai dieksekusi hukuman mati. Tubuh Gensai kemudian dikubur di Ikegami Honmon-Ji di Tokyo. Hingga kini, makam Gensai masih ada di sana. (bersambung/fa)

Continue Reading

Trending