Connect with us

Entertainment

Siapa Papa Khan, Musisi EDM Kalimantan yang Berkolaborasi Dengan DJ Marshmello?

Published

on

Disc Jockey (DJ) kondang Amerika Serikat, Marshmello, mengejutkan Dunia Electronic Dance Music (EDM) Indonesia –khususnya Pulau Kalimantan. Ia mengumumkan proyek kolaborasinya bersama Papa Khan, musisi muda dari Kota Palangka Raya –Provinsi Kalimantan Tengah.

NAMA Akhmad Iqbal Ansyari alias Papa Khan tiba-tiba menjadi sorotan musisi dan pencinta musik EDM dunia gara-gara cuitan DJ Marshmello di Twitter. Ya, tahun lalu benar-benar jadi angin segar bagi musisi dan pecinta EDM Tanah Air. Kabar tersebut mulanya tersiar melalui akun resmi Twitter Marshmello. Melalui cuitannya, Marshmello mengabarkan single berjudul “Rain” tersebut akan dirilis melalui Joytime Collective.

Disertai video teaser, lagu ini mendapat sambutan yang meriah. Tak mau ketinggalan, sang kolaborator pun turut mengabarkan berita gembira ini.

Sebelumnnya, Juni tahun lalu, Papa Khan sempat memutar preview lagu “Rain” dengan durasi 32 detik. Ternyata, postingan ini mendapatkan antusias yang besar di komunitas EDM Indonesia dan mancanegara.

Dari cuplikan pendek itu, banyak penikmat musik menjadi kecanduan mendengarkan EDM. Bahkan lagu ini menjadi pembicaraan di banyak forum. “Rain” juga mendapatkan lebih dari 100.000 tayangan di Twitter, dan mendapatkan banyak permintaan untuk segera merilis versi penuhnya.

Dalam cuitannya, Papa Khan mengatakan, “this song is for my future gf but idk who it could be you”.
Nama Papa Khan sendiri mulai muncul di dunia EDM bermula dari gelaran virtual. Penggagasnya adalah label EDM Insomniac Bassrush yang bermarkas di Amerika Serikat. Nama Papa Khan kian mentereng setelah dia kerap memadukan musik tradisional Indonesia dengan musik modern berbasis elektronik.

Sebelumnya Papa Khan juga sempat merilis album penuh bertajuk “Anti-Normal” yang dilepas 2019 lalu. Dalam album tersebut Papa Khan berkolaborasi juga bersama berbagai musisi dunia, diantaranya bersama Vuture dalam lagu “Machinery“, Jojo J dalam “High Spit” dan bersama AGNLRE dalam lagu “Venom“.

Papa Khan mulai populer dengan lagu “Demon” yang mengusung genre dubstep dan mulai mendapat atensi yang tinggi dari kalangan muda penggemar house music.

Meski berada di Pulau Kalimantan, Papa Khan tak pesimistis. Beberapa kontes musik pun dia jajal. Salahsatunya adalah lomba remix contest yang diadakan oleh Weird Genius, trio elektronika asal Kota Jakarta yang beranggotakan Reza Arap, Eka Gustiwana, dan Gerald. Melalui lomba yang diadakan Weird Genius tersebut Papa Khan masuk sebagai 3 besar pemenang lomba.

 

AKHMAD Iqbal Ansyari, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Papa Khan, adalah nama yang saat ini paling moncer di industri musik elektronik lokal. Terlebih, dia berasal dari Pulau Kalimantan. Tepatnya di Kota Palangka Raya –Provinsi Kalimantan Tengah.

Dia mulai populer dengan rilisan lagunya “Demon” bergenre dubstep yang mampu memikat kalangan muda lewat bersama rapper asal Kota Palangka Raya, Dwicki CJ. Pemuda yang lahir di Kota Banjarmasin –Provinsi Kalimantan Selatan– ini merupakan jebolan dari label lokal XOXLTN yang berbasis di Kota Palangka Raya.

Dengan berbekal software dan alat produksi musik yang seadanya, Papa Khan yang akrab disapa “Papa” oleh para penggemarnya, tidak menyerah. Bahkan dia mampu untuk membuat musik berkualitas yang tidak kalah dengan jebolan label ternama mancanegara maupun lokal.

Alasan mengapa dia terjun ke dunia musik elektronik diawali ketika sedang ramainya genre house music sekira 2010. Lagu pertama yang membuatnya tertarik dengan bass music adalah ketika mendengarkan lagu dari Flux Pavilion dengan judul “I Can’t Stop”.

“Saya mau jadi producer, ya karena saya ingin tahu gimana sih cara buat musik seperti itu. Eh, sampai sekarang malah ketagihan dan malah jadi karier,” ungkapnya.

Inspirasi Papa Khan bersumber dari produser musik elektronik mancanegara. Seperti Xilent, Marauda, Space Laces, dan Svdden Death, yang mempunyai irama serta juga hentakan yang mampu membuat penggemarnya menganggukan kepala alias headbang dan moshing.

Saat ditanya mengenai genre yang menjadi arah bermusiknya ke depan, Iqbal mengatakan bahwa dia tidak berpatokan harus bermain hanya dalam satu genre.

Asal tetap punya karakteristik yang unik dan berciri khas, untuk saat ini dia lebih memilih untuk memproduksi genre dubstep dan juga riddim yang masih tergolong underrated di Indonesia.

Ciri khas dari musik Papa Khan adalah Machine Gun Bass dimana bass yang digunakan sama seperti pada umumnya. Tetapi yang membedakannya dengan yang lain adalah bass jenis ini sering muncul diketukan triplet dan suaranya seperti tembakan senjata api.

Semua lagu yang dirilisnya pun merupakan hasil karyanya dari lirik sampai melodi. “Saya cuma modal speaker dangdutan sama laptop kentang aja,” jawabnya perihal alat yang digunakan untuk bermusik.

Dirinya tak menyangka saat diumumkan sebagai 3 besar pemenang lomba Remix Contest yang diadakan oleh Weird Genius, grup musik elektronik bergenre electro yang beranggotakan Reza Arap, Eka Gustiwana, dan juga Gerald.

Sayembara mengaransemen ulang lagu dari flickshot milik mereka rupanya mendapatkan antusias yang sangat ramai dari para produser lokal, ini adalah kesempatan emas untuk unjuk kebolehan Papa Khan.

Fakta unik sebelum mengikuti kontes ini adalah dia hanya membuat hasil karyanya dalam satu malam. Oleh karena itu, dia sangat terkejut saat diumumkan menjadi salahsatu pemenangnya.

Wah, enggak nyangka banget, kan genre saya yang kurang lazim di telinga orang-orang awam biasanya. Agak heran juga kok bisa menang ya, tapi syukur alhamdulillah bisa menang. Thanks to Weird Genius yang sudah kasih kesempatan untuk produser Indonesia yang masih berkembang.” ucapnya, mengenang.

 

BANYAK dukungan dan reaksi positif dari penggemar sampai produser musik lokal kepada Papa Khan.
Hal itu terlihat dari kolom komentar akun resmi Instagram Weird Genius saat mengumumkan pemenang remix contest flickshot. Ini membuktikan bahwa Papa Khan dan juga musiknya mulai diterima di hati masyarakat. Papa Khan sendiri membuat remix flickshot ini dengan genre Psytrance/Tearout.

Beberapa tahun lalu, tepatnya pada 29 November 2019, Papa Khan baru merilis single terbarunya yang berjudul “Holdin”, berkolaborasi bersama Brave. Dengan memasukkan unsur genre trap/experimental, karyanya diunggah di Youtube. Hanya dalam 2 hari tayang jumlah penontonnya mencapai 1.000 orang.

Proses pembuatan video klip yang digarap oleh Rai Andika Sadewa, Vrilizia, Andri Maulana, Reza Sofyan, dan juga Iqbal ini menghasilkan video klip yang dramatis dan sesuai dengan makna lagu. Reaksi positif ditunjukkan oleh netizen yang menonton video klip ini serta mendukung penuh atas keberhasilan Papa Khan serta tim.

Atas keberhasilannya setelah jatuh bangun di dunia permusikan yang belum mendukung penuh kariernya, dia berharap bisa menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan maupun keluarga tidak akan berpengaruh jika mempunyai passion dan juga tekad yang kuat untuk bergelut di dunia musik seperti dirinya.

“Belajar terus. Cari motivasi dan inspirasi sebanyak mungkin. Jangan pernah menyerah, dan apapun genrenya jangan pernah merasa tidak akan pernah dapat audience dari genre tersebut. Dan yang terpenting niat itu wajib ada. Niat dan semangat itu pondasi dalam berkarier menurut saya,” urainya.

“Kalau niat dan semangat itu lemah, ya akan susah untuk maju. Buat musik seunik mungkin, musik yang unik akan menarik perhatian orang dan artis yang lebih besar,” timpal Iqbal.

Kedepan, Iqbal berencana menggandeng salahsatu rapper kondang Indonesia dan juga mancanegara untuk berkolaborasi. (*)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Entertainment

Melihat Dunia Down Syndrome Dari Alunan Nada Math-Rock Kota Samarinda

Published

on

By

Grup math-rock asal Kota Samarinda –Provinsi Kalimantan Timur– Murphy Radio, mengajak pendengar musik mereka memasuki dunia yang jarang tersentuh. “Autumn” dan “Sandy” menjadi representasi mereka agar kita melihat kondisi down syndrome yang dimiliki oleh sebagian orang.

DARIPADA memberikan rasa kasihan dan menulis musik mellow, Murphy Radio nyatanya menghadirkan musik yang penuh semangat.
Mewakili bahwa walaupun dalam kondisi yang berbeda para penyandang down syndrome dan disabilitas lainnya juga mampu melakukan hal yang sama, bahkan bisa lebih karena mereka dapat melihat cerita dan warna mereka sendiri. Dalam video musik ini Murphy Radio bekerjasama dengan SLBN Pembina Samarinda.

“Awalnya kami sangat kesulitan dalam mewujudkan ide kami dalam video ini. Sampai kami dipertemukan dengan salah satu senior dalam skena musik Samarinda, Yadhie Jombank, yang kebetulan bekerja di SLB tersebut,” ungkap Aldi dan Wendra perihal proses pengerjaan music video ini.

“Lalu kami dibantu untuk bertemu dengan pihak sekolah untuk menyampaikan konsep dan meminta izin. Diluar ekspektasi, ternyata Kepala Sekolah beserta seluruh staf menerima dan mendukung penuh kami untuk membuat video di sana,” lanjut mereka.

Murphy Radio melibatkan para murid SLBN Pembina dengan menampilkan aktivitas reguler mereka ketika berada di kelas. Serta mengajak salahsatu murid untuk menjadi tokoh utama dalam video ini.

Proses teknis video dilakukan oleh Resa Alif dan Mademun dari ThreeAM Creative House. Sementara proses audio lagu Murphy Radio masih dikerjakan secara penuh oleh Arie Wardhana dari Backstage Studio. (*)

Continue Reading

Entertainment

Cerita Manjakani: Cinta, Cita-cita, dan Asa Bermusik Dari Pulau Kalimantan

Published

on

By

Dari kuliah di kampus yang sama, hingga menjalin hubungan pada 2014, Manjakani akhirnya lahir dari dua sosok yang memiliki hasrat dan kecintaan musik yang sama.

MANJAKANI bermula dengan nama “Nabilla dan Taufan”. Mreka tampil pada sebuah acara kampus di 2015, dengan membawakan sejumlah cover lagu. Penampilan yang mengesankan, membuat teman-teman sekampus mendorong keduanya serius terjun di dunia musik.

Itulah awal perjalanan duo Nabilla dan Taufan dalam meniti karier di dunia hiburan Indonesia. Manjakani kemudian dipilih sebagai nama duo yang memainkan musik merdu dan mendayu ini.

Saat mendengar nama Manjakani, benak kita sering berpikir tentang tanaman tradisional. Namun Taufan dan Nabilla punya makna sendiri tentang nama Manjakani. “Manjakani memiliki khasiat untuk merapatkan telinga pendengar yang mendengar lagu-lagu dari Manjakani,” kata Taufan.

Lagu pertama yang dibuat oleh Nabilla dan Taufan adalah “Asmaraweda“. Lagu tersebut bercerita tentang fitrah manusia. Dalam lagu tersebut digambarkan dengan seekor burung yang seharusnya terbang bebas, bukan di dalam sangkar, bahwa manusia harus hidup bersosialisasi, hidup bersama manusia lainnya.

Hingga saat ini, Manjakani telah mencipatakan 10 lagu. Namun “Asmaraweda” yang paling memberikan kesan kepada Nabilla dan Taufan. “Yang paling berarti dalam proses pembuatannya, kami rasakan di lagu pertama Asmaraweda. Sebab sebuah lagu kami ibaratkan seperti anak sendiri, yang kami lahirkan, dan kami kemas dengan baik. Proses penciptaan “Asmaraweda” juga menjadi permulaan bagi kami dalam membentuk musik khas dari Manjakani. Lagu ini menjadi modal awal untuk perjalanan panjang,” kata Nabilla.

Manjakani hadir dengan ciri khasnya yang unik. Berbeda dari musisi Kota Pontianak –Provinsi Kalimantan Barat– lainnya, 10 lagu yang diciptakannya bertema tentang kasih sayang, keluarga, kerinduan, perbedaan dan juga kematian.

“Tidak melulu kami gambarkan cerita sepasang kekasih, walau mungkin beberapa lagu yang ditulis rekan penulis kami berkaca pada kami yang berpacaran. Adapun lagu yang diadopsi dari kisah kami, bercerita tentang semangat dan ambisi dalam perjalanan musik kami, bukan perjalanan cinta,” kata Nabilla.

PANGGUNG PEREDA KONFLIK

Nabilla dan Taufan mengaku kerap mengalami konflik berdua, baik itu saat latihan, membuat lagu, bahkan sesaat sebelum tampil.
“Kami tidak punya strategi khusus dalam menangani permasalahan yang sering terjadi sebelum manggung. Kadang semua terjadi begitu saja. Setelah turun panggung, keadaan membaik, tanpa sadar seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Bagi kami, panggung adalah penetralisir dan sangat magical,” ungkap Taufan.

Suka duka sudah sering dilalui oleh kedua alumni Prodi Seni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak ini. Kini mereka terus mengukirkan sejarah dari setiap perjalanan, hingga musik Manjakani diterima oleh masyarakat di Indonesia.

Atas usaha dan kerja kerasnya, Manjakani telah tampil dalam berbagai acara dan festival musik skala besar, seperti Folk Musik Festival di Malang, Jogja Migunani di Yogyakarta, Pesta Warna Semarang, Soundrenaline GWK di Bali, Bima Day di Bandung, Syncronize Festival, Archipelago Festival, dan Sound Of 3 (SO3) di Jakarta, juga Kuching, Malaysia.

“Berada di panggung SO3 menjadi pengalaman berkesan dan berharga sepanjang prosesnya. Bertemu dan berkomunikasi bersama musisi hebat di panggung dan belakang panggung. Bekerja sama dengan orang-orang hebat, melakukan proses rekaman dan pembuatan video musik dengan fasilitas yang belum pernah terjamah sebelumnya. SO3 memberikan semangat positif, dan dari hasil itu kami dapat menyebarluaskan musik lewat media RBT dan Youtube SO3,” kata Taufan.

Tak hanya itu, Manjakani kini menjadi brand ambasador dari Tri Indonesia, dan menjadi bintang iklan untuk provider seluler tersebut. “Sungguh pengalaman luar biasa bagi kami. Selain karena baru pertama kali, kami berharap dari sini musik kami dapat semakin menyebar luas ke setiap penjuru nusantara,” kata Taufan.

Taufan berharap, dapat segera mengeluarkan album perdana mereka, yang rencananya akan rilis tahun ini. Ia pun ingin musik Manjakani didengar lebih luas. “Kami ingin pergi, menuju tempat-tempat baru, dengan musik kami. Bertemu teman baru, terus berjejaring, dan musik kami menyebar seluas samudera. Kami ingin, Manjakani tua seiring usia kami. Manjakani terus bersama kami, hingga kelak kami bergenerasi dan dipisahkan oleh Tuhan,” ungkap Taufan. (*)

Continue Reading

Entertainment

Musisi Kota Bontang Meretas Asa: Dari Cover Lagu Hingga Rilis Single

Published

on

By

Bagi penggemar musik melalui Youtube, nama Dita Firdatia Razak tentu sudah tak asing lagi. Beragam lagu dinyanyikan ulang dan mendulang viewers serta penggemar.

TAK heran jika channel Youtube-nya kini hampir menyentuh angka 1 juta subscriber. Penggemarnya pun bertebaran hampir di seluruh Indonesia. Menekuni dunia musik sejak duduk di bangku SMP, Dita Firdatia Razak atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrab Della, sukses menjadi seorang penyanyi. Della, dara kelahiran Kota Bontang, Kalimantan Timur ini berhasil mengeluarkan lagu ciptaan sendiri.

Perempuan berusia 22 tahun ini kembali merilis single keduanya yang berjudul “Rindu Ini”. “Ini ada pengalaman pribadi sih, intinya tentang LDR (Long Distance Relationship, Red.) dirilis tanggal 6 Juni,” kata Della menjelaskan lagu ciptaan terbarunya.

Sukses menjadi penyanyi seperti yang dicita-citakan, tak terlepas dari dukungan sang ibu. Tak hanya di dunia tarik suara, perempuan yang dikenal suka meng-cover lagu sendu ini, juga pandai dalam memainkan keyboard.

Sebelum terkenal seperti sekarang, ia kerap ikut festival musik di Kota Bontang. Terakhir Della mengikuti ajang pencarian bakat di salahsatu stasiun televisi nasional. “Dari kecil emang udah suka musik, pernah punya band, malah ikut les juga, cuma mulai serius pas SMA,” ujarnya.

Pada 2016 ia mulai menginjakkan kaki di Yogjakarta. Menjadi penyanyi yang banyak dikenal seperti sekarang ini, tak didapatkan secara instan. Mahasiswa Semester 8 program studi penyajian musik di ISI Yogyakarta ini, sempat mengelilingi kafe-kafe yang ada di kota tempatnya kuliah. “Dari awal aku memang ingin jadi penyanyi terkenal, aku kelilingi kafe-kafe di Jogja ini,” ujarnya.

Bukan hanya penyanyi, Della pun memantapkan diri sebagai youtuber dan sukses berkat kepiawaiannya membawakan lagu hits dengan caranya sendiri.
Selama dua tahun terakhir, diakuinya stigma penyanyi cover lagu-lagu milik penyanyi terkenal mulai membuatnya risih. Apalagi lagu yang dinyanyikan bernada sendu. “Jujur mulai agak gak nyaman, makanya aku berusaha untuk tidak cover lagu lagi mulai akhir Juni, aku mau up karya-karyaku sendiri,” tegasnya.

Mantan atlet dansa ini pun telah memiliki jam terbang panggung yang cukup tinggi, terutama di wilayah pulau Jawa. Namun di tengah pandemi, sejumlah kegiatan bernyanyinya harus di pending, sehingga ia lebih produktif membuat karya.

Menurut dara kelahiran 7 Februari 1998 itu, ia berniat mengeluarkan album. Sejumlah lagu ciptaannya sendiri pun telah siap digarap. “Sekarang fokus buat karya, karena harapannya kedepan aku benar-benar dikenal karena karya aku, lagu aku, bukan karena cover lagu-lagu orang. Aku niatnya setiap 3 bulan sekali keluarin single, insya Allah mohon doanya, sekarang sudah nabung sekitar 5 lagu,” katanya. (*)

Continue Reading

Trending

© 2021 Dibuat dengan Bangga di Kota Tepian — Tripia.id