Connect with us

Warta

Siapa Papa Khan, Musisi EDM Kalimantan yang Berkolaborasi Dengan DJ Marshmello?

Published

on

Disc Jockey (DJ) kondang Amerika Serikat, Marshmello, mengejutkan Dunia Electronic Dance Music (EDM) Indonesia –khususnya Pulau Kalimantan. Ia mengumumkan proyek kolaborasinya bersama Papa Khan, musisi muda dari Kota Palangka Raya –Provinsi Kalimantan Tengah.

NAMA Akhmad Iqbal Ansyari alias Papa Khan tiba-tiba menjadi sorotan musisi dan pencinta musik EDM dunia gara-gara cuitan DJ Marshmello di Twitter. Ya, tahun lalu benar-benar jadi angin segar bagi musisi dan pecinta EDM Tanah Air. Kabar tersebut mulanya tersiar melalui akun resmi Twitter Marshmello. Melalui cuitannya, Marshmello mengabarkan single berjudul “Rain” tersebut akan dirilis melalui Joytime Collective.

Disertai video teaser, lagu ini mendapat sambutan yang meriah. Tak mau ketinggalan, sang kolaborator pun turut mengabarkan berita gembira ini.

Sebelumnnya, Juni tahun lalu, Papa Khan sempat memutar preview lagu “Rain” dengan durasi 32 detik. Ternyata, postingan ini mendapatkan antusias yang besar di komunitas EDM Indonesia dan mancanegara.

Dari cuplikan pendek itu, banyak penikmat musik menjadi kecanduan mendengarkan EDM. Bahkan lagu ini menjadi pembicaraan di banyak forum. “Rain” juga mendapatkan lebih dari 100.000 tayangan di Twitter, dan mendapatkan banyak permintaan untuk segera merilis versi penuhnya.

Dalam cuitannya, Papa Khan mengatakan, “this song is for my future gf but idk who it could be you”.
Nama Papa Khan sendiri mulai muncul di dunia EDM bermula dari gelaran virtual. Penggagasnya adalah label EDM Insomniac Bassrush yang bermarkas di Amerika Serikat. Nama Papa Khan kian mentereng setelah dia kerap memadukan musik tradisional Indonesia dengan musik modern berbasis elektronik.

Sebelumnya Papa Khan juga sempat merilis album penuh bertajuk “Anti-Normal” yang dilepas 2019 lalu. Dalam album tersebut Papa Khan berkolaborasi juga bersama berbagai musisi dunia, diantaranya bersama Vuture dalam lagu “Machinery“, Jojo J dalam “High Spit” dan bersama AGNLRE dalam lagu “Venom“.

Papa Khan mulai populer dengan lagu “Demon” yang mengusung genre dubstep dan mulai mendapat atensi yang tinggi dari kalangan muda penggemar house music.

Meski berada di Pulau Kalimantan, Papa Khan tak pesimistis. Beberapa kontes musik pun dia jajal. Salahsatunya adalah lomba remix contest yang diadakan oleh Weird Genius, trio elektronika asal Kota Jakarta yang beranggotakan Reza Arap, Eka Gustiwana, dan Gerald. Melalui lomba yang diadakan Weird Genius tersebut Papa Khan masuk sebagai 3 besar pemenang lomba.

 

AKHMAD Iqbal Ansyari, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Papa Khan, adalah nama yang saat ini paling moncer di industri musik elektronik lokal. Terlebih, dia berasal dari Pulau Kalimantan. Tepatnya di Kota Palangka Raya –Provinsi Kalimantan Tengah.

Dia mulai populer dengan rilisan lagunya “Demon” bergenre dubstep yang mampu memikat kalangan muda lewat bersama rapper asal Kota Palangka Raya, Dwicki CJ. Pemuda yang lahir di Kota Banjarmasin –Provinsi Kalimantan Selatan– ini merupakan jebolan dari label lokal XOXLTN yang berbasis di Kota Palangka Raya.

Dengan berbekal software dan alat produksi musik yang seadanya, Papa Khan yang akrab disapa “Papa” oleh para penggemarnya, tidak menyerah. Bahkan dia mampu untuk membuat musik berkualitas yang tidak kalah dengan jebolan label ternama mancanegara maupun lokal.

Alasan mengapa dia terjun ke dunia musik elektronik diawali ketika sedang ramainya genre house music sekira 2010. Lagu pertama yang membuatnya tertarik dengan bass music adalah ketika mendengarkan lagu dari Flux Pavilion dengan judul “I Can’t Stop”.

“Saya mau jadi producer, ya karena saya ingin tahu gimana sih cara buat musik seperti itu. Eh, sampai sekarang malah ketagihan dan malah jadi karier,” ungkapnya.

Inspirasi Papa Khan bersumber dari produser musik elektronik mancanegara. Seperti Xilent, Marauda, Space Laces, dan Svdden Death, yang mempunyai irama serta juga hentakan yang mampu membuat penggemarnya menganggukan kepala alias headbang dan moshing.

Saat ditanya mengenai genre yang menjadi arah bermusiknya ke depan, Iqbal mengatakan bahwa dia tidak berpatokan harus bermain hanya dalam satu genre.

Asal tetap punya karakteristik yang unik dan berciri khas, untuk saat ini dia lebih memilih untuk memproduksi genre dubstep dan juga riddim yang masih tergolong underrated di Indonesia.

Ciri khas dari musik Papa Khan adalah Machine Gun Bass dimana bass yang digunakan sama seperti pada umumnya. Tetapi yang membedakannya dengan yang lain adalah bass jenis ini sering muncul diketukan triplet dan suaranya seperti tembakan senjata api.

Semua lagu yang dirilisnya pun merupakan hasil karyanya dari lirik sampai melodi. “Saya cuma modal speaker dangdutan sama laptop kentang aja,” jawabnya perihal alat yang digunakan untuk bermusik.

Dirinya tak menyangka saat diumumkan sebagai 3 besar pemenang lomba Remix Contest yang diadakan oleh Weird Genius, grup musik elektronik bergenre electro yang beranggotakan Reza Arap, Eka Gustiwana, dan juga Gerald.

Sayembara mengaransemen ulang lagu dari flickshot milik mereka rupanya mendapatkan antusias yang sangat ramai dari para produser lokal, ini adalah kesempatan emas untuk unjuk kebolehan Papa Khan.

Fakta unik sebelum mengikuti kontes ini adalah dia hanya membuat hasil karyanya dalam satu malam. Oleh karena itu, dia sangat terkejut saat diumumkan menjadi salahsatu pemenangnya.

Wah, enggak nyangka banget, kan genre saya yang kurang lazim di telinga orang-orang awam biasanya. Agak heran juga kok bisa menang ya, tapi syukur alhamdulillah bisa menang. Thanks to Weird Genius yang sudah kasih kesempatan untuk produser Indonesia yang masih berkembang.” ucapnya, mengenang.

 

BANYAK dukungan dan reaksi positif dari penggemar sampai produser musik lokal kepada Papa Khan.
Hal itu terlihat dari kolom komentar akun resmi Instagram Weird Genius saat mengumumkan pemenang remix contest flickshot. Ini membuktikan bahwa Papa Khan dan juga musiknya mulai diterima di hati masyarakat. Papa Khan sendiri membuat remix flickshot ini dengan genre Psytrance/Tearout.

Beberapa tahun lalu, tepatnya pada 29 November 2019, Papa Khan baru merilis single terbarunya yang berjudul “Holdin”, berkolaborasi bersama Brave. Dengan memasukkan unsur genre trap/experimental, karyanya diunggah di Youtube. Hanya dalam 2 hari tayang jumlah penontonnya mencapai 1.000 orang.

Proses pembuatan video klip yang digarap oleh Rai Andika Sadewa, Vrilizia, Andri Maulana, Reza Sofyan, dan juga Iqbal ini menghasilkan video klip yang dramatis dan sesuai dengan makna lagu. Reaksi positif ditunjukkan oleh netizen yang menonton video klip ini serta mendukung penuh atas keberhasilan Papa Khan serta tim.

Atas keberhasilannya setelah jatuh bangun di dunia permusikan yang belum mendukung penuh kariernya, dia berharap bisa menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan maupun keluarga tidak akan berpengaruh jika mempunyai passion dan juga tekad yang kuat untuk bergelut di dunia musik seperti dirinya.

“Belajar terus. Cari motivasi dan inspirasi sebanyak mungkin. Jangan pernah menyerah, dan apapun genrenya jangan pernah merasa tidak akan pernah dapat audience dari genre tersebut. Dan yang terpenting niat itu wajib ada. Niat dan semangat itu pondasi dalam berkarier menurut saya,” urainya.

“Kalau niat dan semangat itu lemah, ya akan susah untuk maju. Buat musik seunik mungkin, musik yang unik akan menarik perhatian orang dan artis yang lebih besar,” timpal Iqbal.

Kedepan, Iqbal berencana menggandeng salahsatu rapper kondang Indonesia dan juga mancanegara untuk berkolaborasi. (*)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Warta

Si Ngerik, Influencer Kreatif yang Tak Ingin Mengungkap Identitas Aslinya

Published

on

By

Karya Si Ngerik mempertegas satu hal; sketsa komedi masih banyak dinikmati. Ya, influencer dari Sebulu, Kutai Kartanegara, merupakan konten kreator yang mengisi momen frustasi kita selama pandemi 2 tahun terakhir. Karya-karyanya justru menjadi viral saat konten kreator lain memilih hiatus.

DI lain hal, Si Ngerik tak sekadar mengubah paradigma influencer lokal yang kadang tak ramah dengan fans, tetapi juga membawa perubahan untuk masyarakat lewat konten yang dibuat. Mewakili Tripia.id, berikut rangkuman obrolan Si Ngerik bersama dua kru kami, Deswynta Abelia dan Aisha Salsabila, ngobrol santai di Salman Avenue –Jalan Siradj Salman, Samarinda– Minggu 13 Maret 2022.

Dari semua influencer lokal, Si Ngerik mungkin sosok yang paling berbeda. Tidak hanya sebagai konten kreator dan penampilan –dengan ciri khas rambut pirang. Di mana pun, dia tetap menggunakan persona Si Ngerik sebagai identitas saat di kamera maupun di luar kamera.

Ada alasan mengapa Si Ngerik enggan menyebutkan nama aslinya. Dia ingin masyarakat lebih mengenal sosok Si Ngerik yang kondang menghibur masyarakat –nama yang dibawanya 3 tahun terakhir. Ya, Si Ngerik meminta tidak memuat nama asli serta sejumlah identitas dirinya. Hal ini diharapkan tidak mengurangi kekhasan yang dia miliki.

PHOTO: Instagram @si_ngerik

Menariknya, perjalanan memilih nama Si Ngerik sebenarnya sudah lama digunakan. Dulu, ketika masih menjadi fotografer lepas, dia acap kali menggunakan kata “Ngerik” untuk mendeskripsikan karya foto yang diunggah di sosial media. Kata tersebut digunakannya dalam hastag.

Dalam pandanan bahasa Indonesia, “Ngeri” merupakan ekspresi ketakutan atau kekhawatiran. Di Kalimantan Timur –meski dibeberapa kondisi dimaksudkan untuk mengekspresikan dua hal tadi– kata “Ngeri” didefinisikan untuk menggambarkan reaksi atas sesuatu hal yang hebat, jago dan bagus. Nah, definisi “Ngeri” ala lokal ini, kata dia, dipilih agar setiap orang yang mengucapkan kata “Ngeri” mengingat sosoknya.

Si Ngerik mengatakan, personanya di internet sebenarnya tak jauh berbeda ketika di keseharian. Sebab, seperti banyak diketahui, kebanyakan influencer memiliki karakter yang berbeda saat di depan kamera dan di belakang kamera. “Enggak ada yang berubah. Mau saat di depan kamera maupun di belakang kamera, karakter saya ya begini,” katanya.

Sebelum menjadi kreator konten, Si Ngerik melakoni banyak pekerjaan. Si Ngerik pernah bekerja sebagai kuli panggung di sebuah event organizer pada 2005. Saat itu tugasnya sekadar membantu tim untuk mendirikan panggung, mengangkat sound system, dan pekerjaan berat lainnya.

Si Ngerik juga sempat bekerja sebagai sales multi produk dengan menjelajahi pelbagai daerah. Ia mengaku pernah ditempatkan di Manado, Pulau Jawa, dan Bali. Sampai akhirnya memilih menetap hidup di Balikpapan.

Filosofi hidup Si Ngerik sejatinya sederhana; buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi, buah yang dimaksud Si Ngerik adalah buah kelapa yang jatuh ke sungai dan berjalan mengikuti aliran airnya. Dia mengaku tak ingin bernasib seperti ayahanda sebagai petani saja, meski Si Ngerik mengaku snagat menghormati sosok kedua orangtuanya.

Si Ngerik mengaku, butuh 3 tahun proses yang harus dilaluinya hingga menjadi sekarang. Saat memulai, Si Ngerik justru tidak terpikir hasil karyanya akan diapresiasi banyak orang dan mampu menghasilkan. Si Ngerik bahkan pernah menjadi fotografer wedding. Dimana, di fase inilah nama “Si Ngerik” ditemukan dan dijadikan hastag dalam setiap karya jepretannya.

Bagi Si Ngerik, untuk menjadi konten kreator andal, hal yang harus dilakukan adalah konsistensi. Hal tersebut, tak hanya berlaku pada upaya untuk menciptakan karya-karya baru yang fresh, tetapi juga konsisten melakukan apa yang telah dilakukan.

PHOTO: Instagram @si_ngerik

Soal teknis, Si Ngerik mengatakan tak menjadi penghalang bagi siapapun untuk menjadi konten kreator. Dia sendiri mengaku, awalnya menggunakan ponsel untuk merekam sketsa komedi yang dibuatnya. “Proses editingnya ya pakai aplikasi di ponsel,” ungkapnya.

Perjalanan karir Si Ngerik sebagai konten kreator tak lepas dari peran penikmat karyanya di pelbagai platform sosial media. Tidak heran, kreativitas pria yang memiliki ciri khas rambut pirang ini kerap dilirik para pejabat dan tokoh masyarakat. Beberapa kali, Si Ngerik mengakui sering diminta bertemu pejabat dan tokoh masyarakat yang meminta untuk berkolaborasi.

Meski demikian, Si Ngerik mengaku enggan jika kolaborasi tersebut dikaitkan di ranah politik. Makanya, setiap konten yang dibuat bersama pejabat dan tokoh masyarakat, Si Ngerik meminta agar identitas dan simbol-simbol partai tidak digunakan.

Alasan tidak bermain di ranah politik ini ternyata bersumber permintaan followers yang menginginkan Si Ngerik agar tetap menjadi sosok netral yang menghibur masyarakat. Meski dekat dengan pejabat dan tokoh masyarakat, karya-karya Si Ngerik juga tak lepas dari pesan moral dan kritik membangun yang ternyata berdampak langsung kepada masyareakat. Salah satunya adalah video viral miliknya mengenai jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki selama bertahun-tahun di Kukar pada 2021 lalu.

Di video itu, Si Ngerik menunjukkan salah satu akses menuju kampung halamannya di Desa Selerong, Sebulu, yang rusak parah dengan gaya komedi. Beberapa hari setelah video itu viral, jalan menuju ke Desa Selerong tersebut diperbaiki.

Si Ngerik mengaku tak ada maksud untuk memojokkan pihak mana pun. Terkecuali untuk memanfaatkan media sosial menjadi ruang informasi yang bermanfaat. Bahkan gara-gara itu, banyak followers dan netizen yang melapor kepadanya untuk memviralkan kondisi akses jalan yang rusak di pelbagai tempat di Kaltim. Sayangnya, Si Ngerik enggan melakukannya lantaran tak mengenal kondisi daerah-daerah tersebut.

“Tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya prihatin jalan menuju ke kampung saya rusak. Tiap saya mau pulang, saya pasti tanya kondisi cuaca kepada ibu. Kalau hujan, sudah pasti saya enggak pulang. Saya menolak (membuat video jalan rusak di tempat lain, Red.) karena saya memang enggak paham kondisi di sana,” tukasnya.

TONGKRONGAN SI NGERIK
Si Ngerik memang bukan sekadar konten kreator. Pria kelahiran Selerong, Kutai Kartanegara, ini juga mengembangkan bakatnya sebagai pengusaha dengan membuka kedai bernama “Tongkrongan Si Ngerik”. “Tongkrongan Si Ngerik” terletak di Jalan Mayjend Sutoyo, No. 2, Klandasan Ilir, Balikpapan Selatan dan berdiri sejak Maret tahun lalu. Berbeda dengan kebanyakan kedai, di tempat ini Si Ngerik justru mengusung konsep sederhana dan khas tongkrongan.

Makanya, dia enggan menyebut kedainya itu sebagai coffe shop alias warkop. Konsep nongkrong ini pula yang diakui Si Ngerik membuatnya bebas berekspresi dan tidak terbebani dengan pilihan menu. Saat ini “Tongkrongan Si Ngerik” hanya menjual minuman. Sementara untuk makanan dia berkolaborasi dengan Kedai Sabindo yang lokasinya bersebelahan. “Jadi kalau mau makanan berat tinggal masuk ke dalam pesan makanan. Saya hanya menjalankan bisnis minuman dan makanan ringan,” katanya.

Kedai ini sendiri diakui Si Ngerik dibangun dari hasil yang didapatnya sebagai influenser dan brand ambassador. (*)

Continue Reading

Warta

Kami Bicara Dengan Kakak-Adik Penulis Best Seller dari Samarinda tentang Masa Hiatus dan Sisi Gelap Dunia Publishing

Published

on

By

Mewakili Tripia.id, tiga kru kami –Deswynta Abelia, Reza Padillah, dan Aisha Salsabila– ngobrol ringan bersama Hendra Putra dan Heri Putra. Di Cafe Satu Kata –Jalan Basuki Rahmat– keduanya menguraikan pelbagai hal. Ini merupakan tulisan kedua setelah QnA Tripia.id bersama penulis kakak beradik tersebut.

PROJECT menulis buku biografi-politik salah satu tokoh di Kota Tepian membuat Hendra Putra terpaksa meninggalkan banyak hal. Satu diantaranya adalah keputusan hiatus dari semua aktivitasnya. Termasuk di akun sosial media. Pilihan itu disesalinya dikemudian hari. Setelah project tersebut rampung, Hendra merasa harus memulai segalanya dari nol kembali. “Satu tahun vakum itu bikin saya sadar, kalau saya enggak cocok menulis buku seperti itu,” katanya, suatu sore.

Selama tidak menulis dan mempublish karyanya, Hendra merasa banyak kehilangan. Tidak hanya berimbas pada menurunnya follower di sosial media. Pembaca setianya –khususnya fan girl— juga meninggalkannya. Itu musababnya, saat comeback tahun ini, Hendra mencoba untuk melakukan rebranding atas karya-karyanya dengan pelbagai cara. Semua sosial media yang dia miliki, dimaksimalkan untuk membangkitkan kembali hype pembaca atas karya-karyanya. Termasuk memberikan giveaway kepada pembaca setia karya-karyanya.

Untuk membangkitkan tulisannya di aplikasi Wattpad agar banyak dibaca –misalnya– Hendra kembali update setiap hari. Usaha itu akhirnya membuahkan hasil. Meski demikian –setelah diamati– Hendra menarik kesimpulan jika penulis baru di aplikasi Wattpad memiliki penghasilan lebih banyak. Bahkan ada penulis muda berumur 14 tahun bisa memiliki penghasilan besar dengan cepat.

Hendra memang bukan sosok baru di dunia novel Tanah Air. Pada Desember 2013, Novelnya berjudul “Deep: Tak Ada Jalan Pintas Menuju Kebahagiaan“, yang diterbitkan oleh publishing bernama Matahari mendapat respon positif pembaca. Saat novel romantis setebal 264 halaman tersebut dirilis, Hendra masih menjadi kreator di sosial media Twitter dengan nickname @tweetnesian yang memiliki 558 ribu followers. Ya, dulu, Hendra merupakan sosok dibalik akun Twitter @tweetnasian yang sering menulis cerita tentang wartawan remaja.

Dibalik kesuksesannya tersebut, Hendra mengaku pernah terjebak dalam permainan oknum publisher di masa awal meniti karir. Dia pernah tertipu. Meski tidak menjelaskan secara detail, Hendra berharap para penulis baru yang ingin menerbitkan karyanya harus berhati-hati. “Jangan asal pilih penerbit,” pesannya.

Dari pengalamannya, penerbit yang baru berdiri biasanya memanfaatkan penulis baru untuk mempublikasikan karyanya. Modusnya, penulis dikenakan biaya. Pun, ada pula penerbit yang justru tidak memberikan bayaran yang sesuai kepada penulis. “Sebenarnya untuk mengirimkan karya tulisan ke publisher tidak perlu bayar,” ucapnya.

Menjadi penulis, sejatinya bukan cita-cita Hendra. Namun karena terbiasa, Hendra memilih jalan tersebut sebagai garis hidup.

KOLABORASI BERSAMA SANG KAKAK

Sebutan sebagai penulis best seller memang tidak sembarangan. Nama Hendra sendiri masuk dalam jajaran Top 10 penulis nasional. Itu menandakan, nama Hendra berdiri diantara penulis besar seperti Tere Liye, Wina Efendi, dan lain-lain.

Hendra mulai menulis karyanya sejak 2013. Novel pertamanya berjudul “Deep: Tak Ada Jalan Pintas Menuju Kebahagiaan“, diterbitkan pada tahun yang sama oleh Matahari. Seiring waktu, karya novel Hendra bertambah. Mulai dari “Goodbye You“, “Romantis Boy” –ditulis bersama sang kakak, Heri Putra– dan “Pangeran Kelas“. Setali tiga uang, Heri Putra, juga memiliki pelbagai karya novel yang telah dirilis. Diantaranya “Hurt: Cinta Itu Datang Untuk Pergi” dan “Second Hurt: Luka Itu Tidak Datang Sekali“.

Saat ini, Hendra bersama Heri punya novel terbaru berjudul “Surat Dari Primus” yang telah digarap sejak 7 Januari 2022 lalu. Berbeda dengan novel yang pernah digarap, “Surat Dari Primus” ditulis di aplikasi Wattpad. Di sosial media Twitter@suratdariprimus— Hendra dan Heri membuatnya dengan bentuk tulisan Alternate Universe atau AU –cerita fiksi dimana sebuah cerita dibuat dengan dimensi yang berbeda dari yang seharusnya. Apa alasannya? “Tulisan AU banyak diminati pengguna Twitter dan pembaca. Kami berdua membuat AU untuk mengikuti trend saat ini,” kata Hendra.

Dalam “Surat Dari Primus“, Hendra dan Heri menggunakan sosok Na Jae-min untuk menggambarkan sosok Primus. Na Jae-min sendiri adalah member Neo Culture Technology/NCT, boy group asal Korea Selatan yang dibentuk oleh South Korean Multinational Entertainment Company/SM Entertainment. Untuk memasarkan karya-karyanya, Heri dan Hendra sepakat melakukannya secara mandiri tanpa melibatkan pihak lain.

Hendra dan Heri memang sama-sama penulis. Namun, keduanya memiliki perbedaan dalam pelbagai hal. Di genre tulisan, Hendra mengangkat dunia remaja dan pelbagai dinamikanya sebagai tema besar. Sementara Heri, bermain di tema-tema dewasa lantaran tema anak muda dianggap tidak related dengan sosoknya saat ini. Di aplikasi Wattpad, keduanya juga punya cara berbeda. Hendra memiliki nickname user dengan nama asli. Sementara Heri, justru menggunakan nama pena.

Dalam hal membaca, Hendra suka menikmati novel dengan genre remaja. Pun, dia pula tertarik membaca novel-novel karya penulis nasional. Sementara Heri lebih menyukai penulis internasional. Bagi Hendra dan Heri, penulis harus inovatif dan adaptif mengikuti zaman agar pembaca tertarik. Makanya, baik Heri maupun Hendra sama-sama mencoba pelbagai jenis tulisan untuk meningkatkan jumlah pembaca mereka.

Dulu saat membaca novel, keduanya hanya sekadar membaca. Namun kini mereka menyimaknya, mengambil ilmu dari apa yang dibaca. Bagi Hendra, ilmu menulis berawal dari membaca.

MENEMBUS PASAR NASIONAL

Menurut Heri, untuk mempubikasikan tulisan saat ini cukup susah jika hanya bermodal mengirim naskah ke penerbit. “Sekarang kebanyakan penerbit melirik penulis lepas di sosial media seperti Wattpad dan Twitter,” ucapnya.

Beberapa tahun lalu, Indonesia digempur buku-buku terjemahan dari luar negeri. Namun pada 2018 –sebagaimana penuturan Heri– novel dengan judul bahasa Indonesia mulai populer. Untuk menjadikan sebuah karya tulisan menjadi best seller, memang tidak mudah. Butuh perjalanan panjang. Bagi Hendra, banyak penulis di Kota Samarinda yang piawai menulis. Sayangnya, kemampuan itu tidak diimbangi dengan penguasaan marketing. Kata Hendra, “Tipsnya sederhana saja, aktif dipelbagai sosial media, kerja sama dengan penerbit, dan jangan lupakan interaksi dengan pembaca.”

Itu sebabnya, baik karya Hendra dan Heri cukup tak dikenal di Kota Samarinda. Namun ada cerita menarik soal ini. Dulu, penulis AU Twitter dengan novel berjudul “Dikta dan Hukum“, Dhia’an Farah, pernah meminta Hendra untuk Meet and Greet Book Launching di Kota Samarinda. Namun, tawaran itu ditolaknya. Hendra sadar –jangankan novelnya– namanya tidak begitu dikenal di Kota Tepian yang tak lain adalah tanah kelahirannya. Dia justru dikenal di luar Kota Samarinda. Makanya, saat Meet and Greet Book Launching, Hendra tidak menggelarnya di Kota Samarinda lantaran tidak ada pembacanya. Dia justru memilih Kota Depok sebagai lokasi launching. Walau terkenal di luar kota, Heri dan Hendra sejatinya tumbuh besar di Kota Samarinda. Tepatnya di Kelurahan Karang Mumus, Kecamatan Samarinda Kota.

Bertahun-tahun menjadi penulis, ada secarik harapan yang diinginkan Hendra dan Heri. Keduanya berencana membuat publishing dengan brand sendiri. Jika terwujud, “Surat Dari Primus” menjadi novel pertama yang mereka edarkan. Perjalanan Heri dan Hendra menjadi penulis best seller, memang dilalui dengan banyak hal. Membeli banyak buku untuk dibaca –sekaligus belajar– adalah satu dari sekian tahapan yang mereka lalui. “Jika ingin menjadi penulis andal, harus banyak membaca dan menulis,” tutur Hendra.

TENTANG “PANGERAN KELAS”

Novel “Pangeran Kelas” punya pengaruh besar bagi Hendra. Dari pelbagai karya yang telah dibuat, novel inilah yang paling banyak menyita perhatian. Di aplikasi Whattpad saja, “Pangeran Kelas” dibaca 9 juta kali. Bahkan kini “Pangeran Kelas” naik cetakan ke 5 sejak dirilis 2017 lalu oleh Bintang Media.

Cerita “Pangeran Kelas” cukup sederhana. Alurnya mewartakan cinta dua sejoli di sekolah yang sama bernama Bagas Arsenio Risjad (Gaga) dan Ashila Anindita Putri (Ashila) yang awalnya saling membenci satu dengan yang lain.

Kata Hendra, “Pangeran Kelas” berawal dari aplikasi Wattpad yang kemudian dilirik oleh penerbit. Dulu, cerita Hendra, “Pangeran Kelas” pernah mendapat tawaran 13 penerbit di Jakarta. Tak tergiur dengan pelbagai tawaran tersebut, Hendra memiliki tetap setia dengan penerbit andalannya, Bintang Media.

Dibalik kepopuleran novelnya tersebut, Hendra menceritakan bagaimana karakter Gaga dan Ashila diciptakan. Gaga, kata Hendra, merupakan cowok dengan karakteristik badboy. Dia berpendapat, pembaca novelnya yang perempuan lebih menyukai laki-laki dengan karakter demikian. Sementara Ashila, memiliki karakter sebagai cewek pemberani dan suka adu mulut dengan siapapun. Ada alasan mengapa Hendra masih bertahan menulis dengan tema remaja. Kenakalan yang terjadi di dunia anak muda, dan suasana sekolah, baginya cukup menginspirasi. (*)

Continue Reading

Warta

Obrolan Bersama Penulis Best Seller dari Samarinda yang Hampir Semua Novelnya Bicara Cinta Masa Remaja

Published

on

By

Bila diingat, tidak banyak penulis muda dari Kota Samarinda yang mampu menembus level nasional. Tapi, nama Hendra Putra bisa jadi pengecualian.

PANGERAN Kelas” –novel romantis– yang dibuatnya, ramai dibaca kaum muda seantero Nusantara. Cinta masa remaja menjadi tema utama cowok yang tinggal di Kelurahan Sungai Dama –Kecamatan Samarinda Ilir– tersebut. Mewakili Tripia.id, Deswynta Abelia a.k.a. Abel ngobrol bareng Hendra Putra dan Heri Putra sambil nangkring sore di Cafe Satu Kata –Jalan Basuki Rahmat– sambil membicarakan karya-karya novelnya, sekaligus bicara soal pembajakan buku.

PHOTO: Instagram/hendra.putra13

Tripia: Bagaimana proses novelmu yang pertama sampai terbit? Mulai dari mencari ide dasarnya, proses menulisnya, proses sunting, dan lain-lain, berapa lama dan bagaimana proses kerjanya?
Hendra: Prosesnya ya nulis naskah novel dulu, prosesnya 3 bulan kayaknya. Saya sempat galau karena bingung. Tapi berusaha tetap positive thinking. Setelah itu saya kirimkan kepada penerbit. Proses tidak langsung diterima, paling lambat respon publisher itu 3 bulan, bahkan ada juga yang enggak dikabari. Ini beda cerita ketika saya bersama Heri (penyunting novel Hendra Putra), kami langsung mendapatkan respon dari publisher. Setelah diterima, lalu ke proses editing dan layouting, dan akhirnya novel kami tersedia di rak Gramedia.

Tripia: Sejauh ini kamu menulis 3 novel. Dari 3 novel itu, mana proses menulisnya yang paling santai dan yang paling berat?
Hendra: Novel “Pangeran Kelas“. Saya menulis 30 hari nonstop membuat novel tersebut dan memang agak berat proses penulisannya.

Tripia: “Pangeran Kelas” saat ini naik cetakan ke 5. Dan sepertinya di IG, novel ini yang paling sering kamu unggah/promosikan. Kenapa novel ini banyak peminatnya?
Hendra: Karena audiencenya banyak yang remaja dan perempuan, makanya novel kayak ini yang sangat diminati.

Tripia: Dari mana inspirasi 3 novel itu?
Hendra: Dalam membuat novel Teen Fiction, saya terinspirasi dunia remaja dan kenakalan mereka.

Tripia: Dari 3 novel itu, mana yang penjualannya rendah? Kamu tahu alasannya kenapa?
Hendra: Buku pertama saya tidak laku terjual, menurut saya yang paling laku adalah novel berjudul “Pangeran Kelas”.

Tripia: Saat ini semua serba digital. Termasuk buku-buku yang mulai beralih ke format PDF. Respon kamu sebagai penulis bagaimana? Apa kamu juga menjual karya via online/PDF?
Hendra: Kalau buku- buku yang saya buat bersama Heri sifatnya eksklusif dan tidak ada jenis digitalnya. Alasannya karena kami takut dibajak. Banyak buku-buku digital yang beredar dapat dibajak dan dibaca secara gratis. Enggak cuma digital, hari ini juga banyak terjadi pada buku fisik. Banyak buku fisik yang dicetak ulang lalu di jual dengan harga murah. Buku saya bahkan pernah dibajak (dicetak ulang) lalu dijual di online shop.

PHOTO: Instagram/hendra.putra13

Tripia: Banyak masyarakat Samarinda tidak mengetahui karya-karyamu. Kalaupun tahu pasti hanya circlemu saja. Menurut kamu kenapa penulis lokal jarang dikenal sosok dan karyanya?
Hendra: Menurut saya karena soal profesi. Di Samarinda profesi sebagai penulis belum menjanjikan, beda dengan di luar kota. Penulis lokal kadang bingung bagaimana menyalurkan karyanya. Kurangnya pembaca di Samarinda juga menjadi alasan kenapa penulis lokal lebih terkenal di luar.

Tripia: Informasi tips menulis banyak sekali ditemukan. Menurutmu tips-tips itu related enggak saat diaplikasikan?
Hendra: Kalau saya senang saja untuk mencari tips menulis sendiri di sosial media, dengan begitu saya menambah ilmu menulis.

Tripia: Tips dong, bagaimana caranya agar tulisan kita diterima penerbit? Ada step by stepnya enggak? Struktur tulisan, ide cerita, dan lain-lain…
Hendra: Kalau saya tiba-tiba saja menulis setelah dapat ide, lalu mengikuti alur dari idenya. Tapi aturan yang lebih bagus pertama harus membuat plot agar tidak bingung di tengah jalan (ada pegangan). Kadang kalau tidak membuat itu cerita tidak tamat. Tapi menurut saya, kalau di Wattpad lebih suka cerita yang tiada akhirnya. Mau sampai 100 chapter tetap ada pembaca.

Tripia: Bagi mereka penulis pemula, kasih dong penulis rekomendasimu?
Hendra: Saya lebih suka penulis-penulis tua seperti Orizuka (Okke Rizka Septania) dan Winna Efendi. (*)

Continue Reading

Trending