Connect with us

People With Passion

People with Passion: Mad Distro (2-Habis)

Published

on

Mad Distro pernah mengorganisir gigs legendaris “Samarinda Bergerak” di rentang waktu 2003 hingga 2004. Band-band lokal dengan pelbagai genre musik underground kala itu bergantian tampil, dari siang hingga sore.

SATU diantaranya boleh disebut sangat bersejarah. Dibantu rekan-rekannya di tongkrongan, Mad Distro melakukan live record di Auditorium Universitas Mulawarman. Saat itu, komputer masih berbentuk seperti televisi tabung 21 inch dengan layar cembung.

Momen itu terjadi sekira 18 tahun lalu. Puluhan band yang tampil tak hanya dari Kota Samarinda. Tetapi juga dari Kota Balikpapan, Kota Tenggarong, Kota Bontang, hingga Kota Banjarmasin. Hasil rekaman live itu rencananya akan dibuat album kompilasi. Sayang, mimpi itu berakhir berantakan. Hasil rekaman tak sesuai. Hanya segelintir band yang rekamannya baik. Meski gagal, rekaman itu tetap disimpan sebagai kenangan.

Ini merupakan bagian kedua sekaligus sesi terakhir wawancara Tripia.id kepada Achmad Zulkarnaen a.k.a. Mad Lori a.k.a. Mad HC a.k.a. Mad Distro, beberapa waktu lalu mengenai sejarah gigs skena underground di Kota Samarinda.

Soal gigs, kamu kan salah satu sosok yang berperan besar tuh atas terselenggaranya gigs “Samarinda Bergerak” di Auditorium Unmul sejak 2003. Prosesnya gimana tuh, kan dulu serba ribet…
Seingat saya, setelah gigs “Anti Penindasan I” pertama (cikal bakal gigsSamarinda Bergerak“, malam Tahun Baru 2003, Red.), teman-teman di United Freedom (tongkrongan di parkiran Mal Lembuswana, Red.) sepakat pengin meneruskan gigs underground di Samarinda. Saya kemudian dibantu beberapa teman yang sefrekuensi (seide dan sepaham, Red.) untuk fokus pada proses kerjanya. Tapi kami juga minta pendapat dari teman-teman lain di tongkrongan, jadi bukan hanya kami saja. Dari beberapa teman ini ternyata punya hubungan yang intens dengan aktivis-aktivis di Unmul (Universitas Mulawarman, Red.). Akhirnya gigs bisa berjalan karena kerjasama United Freedom dan aktivis-aktivis itu. Mereka bahkan menfasilitasi lokasi gigs, listrik, sampai perizinan. Jadi sebenarnya gigs ini bagian dari kegiatan mereka juga.
Soal alat-alat band, biasanya kami sewa. Sebagian juga ada yang pinjam sama teman di tongkrongan. Sebenarnya, aktivis-aktivis Unmul itu tidak cuma berperan saat gigs “Samarinda Bergerak” saja. GigsAnti Penindasan II” dan “Anti Penindasan III” di Auditorium Unmul mereka juga sudah berperan. Ya, awalnya memang ribet. Tapi terbiasa kemudian. Kalau pendapat saya, konsep “Samarinda Bergerak” mungkin berbeda dengan konsep di gigsAnti Penindasan”. Tapi saya ikut bantu di dua gigs itu. Di gigsSamarinda Bergerak” kami selalu berusaha untuk tetap di jalur DIY (Do It Yourself, Red.) tanpa melibatkan sponsor apalagi korporasi. Ini benar-benar kolektif dari teman-teman di skena.
Mulai dari patungan band yang tampil sampai sumbangan perorangan. Kalau kolektif dari teman-teman yang punya usaha seperti distro, masih dipertimbangkan untuk ikut. Tapi itu tidak pernah terjadi dulu. Kami juga pakai tiketing dengan harga terjangkau saat itu. Murah meriah pokoknya. Segala biaya disesuaikan untuk cukup. Misalnya biaya sewa alat. Biasanya dihitung dulu dari jumlah band yang main, dana kolektif yang tersimpan, dan jumlah penonton yang diperkirakan akan datang. Dari situ nanti yang menetukan alat yang disewa baik atau buruk kualitasnya. Ya, di momen ini, saya juga mau minta maaf kepada teman-teman yang berpartisipasi dulu karena enggak bisa menyewa alat yang bagus, yang sesuai harapan teman-teman. Karena danyanya sangat pas-pasan.
Selain itu juga, secara teknis, durasi tiap band yang tampil kami beri jatah. Kami usahakan sesuai agar semua band bisa tampil. Makanya saya minta maaf kalau dulu waktu tampilnya jadi ada yang enggak puas karena sebentar. Masalah ini sebenarnya berkaitan dengan waktu yang diberikan untuk menggunakan auditorium. Karena kalau malam eggak boleh. Cuma dari siang sampai sore saja. Masalahnya ada di keamanan dan tentunya dulu di Unmul kalau malam sepi.

 

Kenapa pilih nama gigs “Samarinda Bergerak”?
Penginnya sih nama yang lain, tapi kami sepakat pilih “Samarinda Bergerak”. Kalau saya mendefinisikan “Samarinda Bergerak“, artinya ya kami berharap masing-masing skena underground sama-sama bergerak maju kedepan. Proses menuju kedepan kan memang panjang. Tapi dari situ, kami pengin teman-teman tidak melihat hasilnya, tapi menikmati prosesnya untuk selalu berusaha di jalur DIY.

Gigs “Samarinda Bergerak” sempat bertahan berapa lama?
Dulu “Samarinda Bergerak” pertama dilaksanakan 31 Desember 2003, dan “Samarinda Bergerak” kedua dilaksanakan 18 Juli 2004. Dua gigs itu dilaksanakan hari Minggu di Auditorium Unmul. Jadi sebenarnya baru 2 kali gigsSamarinda Bergerak” terlaksana.

Pernah tekor enggak gara-gara mengorganisir gigs? Bagaimana proses kalian mengevaluasi gigs yang pernah diselenggarakan?
Alhamdulillah enggak pernah tekor. Pas saja (uangnya, Red.). Evaluasinya ya coba hitung-hitung lagi. Berapa sewa alat lengkap, cari yang murah dan bagus. Kalau uangnya banyak pasti cari alat yang lebih bangus lagi. Kami juga mengatur ulang jumlah band yang akan main. Lalu menetapkan biaya kolektif untuk band yang tampil. Kalau uangnya masih kurang, kami biasanya memperkirakan jumlah penonton yang datang dengan harga tiket yang terjangkau. Kalau masih kurang juga uangnya, baru kami cari dari kolektif perorangan. Sebenarnya, kami tidak memakai uang itu untuk hal lain diluar biaya-biaya yang paling kami anggap pokok untuk berlangsungnya gigs. Contohnya biaya sewa alat, publikasi flyer, stiker tiket, stempel, dan lain-lain. Kalau untuk konsumsi, pulsa, bensin, dan lain-lain, saya biasa pakai uang pribadi.

Kenapa dulu konsep gigs melibatkan semua genre musik underground untuk perform dalam satu wadah?
Maklum, skena underground (khususnya di Kota Samarinda, Red.) di sini teman semua. Kenal satu dengan yang lain. Bahkan sampai di luar kota. Dan dulu memang jarang banget masing-masing skena underground menggelar gigs sendiri sesuai genrenya. Kebanyakan malah perform di festival dan parade musik yang diselenggarakan pemerintah, swasta, kampus, sekolah, bahkan partai. Itu karena gigs underground memang sangat jarang waktu itu. Makanya banyak band-band underground tampil di event-event itu. Sebenarnya, dari gigsAnti Penindasan” sampai gigsSamarinda Bergerak“, kami lebih mengutamakan teman-teman hardcore/punk. Biasanya setelah kuota band hardcore/punk terpenuhi, baik dari Samarinda dan dari luar kota, baru kami buka slot untuk teman-teman skena metal.
Kami pengin menampung semua genre di skena underground dan tidak membeda-bedakan. Tapi kami juga punya misi lebih mendorong kreativitas teman-teman hardcore/punk. Dan tentunya saya mohon maaf kepada teman-teman di skena metal karena dulu pernah kecewa.

Bagaimana cara berkomunikasi ke teman-teman yang perform di gigs? Kan alat komunikasi juga cukup terbatas waktu itu…
Email saja banyak yang enggak punya. Kalaupun punya ya enggak bisa cara pakainya. Apalagi jarang yang bisa pakai internet. Beberapa teman komunikasinya via Friendster. Ada juga yang pakai SMS dan telepon rumah. Cara komunikasi lainnya lewat flyer, titip ke teman-teman ditempel dan disebar.

Gigs “Samarinda Bergerak” pernah bikin sejarah, melakukan rekaman secara langsung. Kamu dan teman-teman sampai bawa komputer di lokasi gigs. Ceritain ide awalnya dong…
Itu cuma percobaan. Penasaran awalnya bagaimana hasil rekaman kalau live gigs. Kalau teman-teman hardcore/punk di Balikpapan kan waktu itu banyak yang merilis album saat live record di studio, murah biayanya. Nah, saya penasaran bagaimana live record ketika gigs. Ternyata hasilnya enggak sesempurna live record studio. Jangan ditiru ya. Ha-ha.

Lalu hasil rekaman live waktu itu bagaimana nasibnya? Katanya banyak yang berantakan ya?
Ha-ha. Sangat hancur. Pokoknya kurang bagus kalau live record untuk album. Tapi kalau untuk video live sih no problem. Memang live record di studio lebih bagus. Jujur saja, hanya beberapa band yang lumayan hasil rekamannya. Tapi sebenarnya enggak memuaskan juga. Pernah saya paksakan jadi demo album dalam format kaset tape. Saya coba tawarkan barter dengan rekaman demo album dari studio, langsung ditolak. Ha-ha. Enggak berharga sama sekali demo album itu. Mungkin cocoknya hanya sekadar yang dibagikan gratis untuk teman-teman dikalangan sendiri. Sayangnya, saya juga eggak ada modal untuk diperbanyak saat itu. Saya dulu sangat berharap ada banyak lagi band-band lokal yang rekaman, lebih serius. Sedikit sekali waktu itu yang punya album. Apalagi sekadar mini album.

Dulu kalau gigs berapa uang kolektifnya untuk satu band?
Kira-kira 50 ribu.

Untuk tiket bagaimana?
Dulu kalau enggak salah 3 ribu sampai 5 ribu.

Selama mengorganisir gigs, dalam sehari berapa band paling banyak perform?
Kira-kira 25 band.

Dulu, siapa band lokal yang paling kamu ingat paling sering tampil di gigs?
BH Smile, Kaos Kutang, Ca’adoet, InFact, Devastation, Trali Besi, Figh For Life, SepakxTerjang, Beerbong. (tripia)

Literasi:
– Gigs adalah istilah acara musik dalam kultur hardcore/punk. Biasanya diorganisir dan menampilkan musisi dari komunitas mereka sendiri.
– Do It Yourself atau DIY secara umum dipahami sebagai kemandirian dalam kultur hardcore/punk.
– Kolektif dalam kultur hardcore/punk adalah sekumpulan orang yang berkumpul untuk tujuan tertentu tanpa ada hirarki di dalamnya. Dalam istilah lokal, kolektif bisa pula berati sumbangan berupa materi.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

People With Passion

People with Passion: Fajar Alam, Komunitas Samarinda Bahari (2-Habis)

Published

on

By

Latar belakang pendidikan sebagai geologis tak menyurutkan hasrat Fajar Alam –founder grup sosial media, “Samarinda Bahari”– menulis sejarah Kota Samarinda.

SECARA akademik, Fajar adalah sarjana Teknik Geologi di Universitas Gadjah Mada –Yogyakarta. Dia juga merupakan sarjana Magister Ilmu Lingkungan di Universitas Mulawarman –Samarinda. Kini, pria berkacamata itu bahkan menjadi dosen di Program Studi Teknik Geologi di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur.

Fajar mengaku, ada ketertarikan khusus terhadap sejarah. Pun dengan koleganya, Muhammad Sarip, yang juga memiliki latar belakang akademik yang jauh dari dunia sejarah. “Tapi karena minat kami sama, ya sudah, kami menulis dan menggali sejarah dengan gaya kami masing-masing,” katanya.

Kendati begitu, latar belakang geologi diakui Fajar sangat membantu perspektifnya dalam menilik sejarah. Seperti diketahui, geologi merupakan kelompok ilmu yang membahas tentang sifat-sifat dan bahan-bahan yang membentuk bumi. Mulai dari struktur, proses-proses yang bekerja –baik di dalam maupun di atas permukaan bumi– kedudukannya di alam semesta, serta sejarah perkembangannya sejak bumi lahir di alam semesta hingga sekarang. Prinsip-prinsip dasar dalam geologi ini diakui Fajar cukup membantunya dalam merekonstruksi sebuah fragmen sejarah.

“Saya lebih suka dengan gaya penuturan langsung di lokasi, atau flashback ketika ketemu literasi dulu lalu saya kaitkan dengan kondisi sekarang,” ujarnya. “Contohnya kalau ada foto lama, saya bisa bandingkan dengan foto terkini. Kalau Sarip lebih ke behind the desk, riset di balik meja. Kecuali memang tidak ada data sama sekali baru kami sama-sama di lapangan,” timpal Fajar.

Berkat hasratnya dalam menulis sejarah, salah satu karya Fajar yang diingat publik adalah lahirnya buku “Sejarah Loa Kulu Kejayaan & Keruntuhan Kota Tambang Kolonial di Tanah Kutai 1888–1970“. Perihal buku ini, Fajar menjelaskan jika ihwal buku setebal 142 halaman itu bermula dari sang mbah.

“Saya punya paman dari bapak saya yang saya panggil mbah, yang sejak lahir kami tinggal bareng. Bapak saya sudah lama tinggal di sana sejak bujang. Beliau guru SMA 1 zaman itu tahun 70-an. Cuma beliau kelahiran Loa Kulu tahun 1943. Cerita beliaulah yang menjadi dasar pembuatan buku ini,” bebernya.

Kata Fajar, sang mbah masih mengingat fase di zaman Belanda beraktivitas di Loa Kulu pada era 1943 sampai 1947. Menurut Fajar, 1945 Indonesia memang telah memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Namun, sebut Fajar, kemerdekaan itu hanya berlaku di Pulau Jawa, Pulau Sumatera, dan Madura saja. Itu sebabnya, pada 1947, Negara Kincir Angin kembali lagi memasuki tanah Indonesia, terutama di wilayah Kesultanan Kutai.

“Mereka tetap melakukan aktivitas pertambangan ketika Jepang pergi. Jika dilihat sejarah, Belanda benar-benar pergi dari Indonesia setelah Konferensi Meja Bundar. Kalimantan bukan merdeka di 45. Kalau tidak salah, sekitar 49, kalau saya tidak salah kutip, Kalimantan sudah menyatakan berkhidmat dengan republik. Tapi Kesultanan masih diberikan hak, seperti daerah istimewa. Makanya dulu namanya Daerah Istimewa Kutai. Mungkin ini jarang terdengar,” bebernya.

Fajar mengungkapkan, sebelum buku tersebut drilis, awalnya dia hanya sekadar membuat catatan singkat mengenai sejarah Kecamatan Loa Kulu. “Saya mencoba mengkoversi cerita mbah saya di Loa Kulu lewat tulisan. Ya saya buat saja, tapi tidak tahu mau diapain. Saya hanya tidak ingin memori beliau cuma sampai di saya. Setelah saya buat tulisannya, akhirnya saya unggah di internet,” akunya.

Tulisan itu memang tak sekadar sekonyong-konyong mewartakan sejarah. Fajar menyatakan, tulisan dalam buku tersebut memiliki latar belakang akademik lantaran keterlibatan Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kalimantan Timur dan mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau MIPA Unmul.

“Karena ketika ekspedisi ke sana bersama mereka. Dokumentasinya ada. Mbah saya di video, suaranya juga direkam, dan menceritakan apa saja yang terjadi di sana waktu itu. Ada pula cerita bagaimana masyarakat digaji per minggu, masuk jam berapa. Jadi seperti reportase,” akunya.

Kendati mendapat informasi dari sang mbah, Fajar mengatakan tetap melakukan validasi dengan mencari sumber lain. Hasilnya tak sia-sia. Fajar menemukan sumber kredibel di internet melalui hasil unggahan pustaka lama. Narasi dari daratan Eropa itu banyak mendokumentasikan wajah Kecamatan Loa Kulu di masa lalu.

“Termasuk saya menemukan catatan aktivitas pertambangan di Palaran di era itu, seperti berapa ton batubara yang diambil per tahunnya. Itu ada semua catatannya. Bagi saya literasi seperti ini seperti menemukan harta karun. Saya menemukan pilihan selain ke ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia, Red.) dan lain-lain untuk mendapatkan informasi berharga itu,” jelasnya.

DULU HANYA 3 KECAMATAN
Kota Samarinda –di usia ke 354 pada 2022– telah mengalami banyak perubahan. Hal ini diungkapkan Fajar saat menjelaskan Kota Tepian dari sudut pandang wilayah. “Kalau kita sebut wilayah administratif, Kota samarinda juga mengalami perubahan,” sebutnya.

Menurut Fajar, saking luasnya, pernah dalam suatu masa wilayah Kota Samarinda pernah melingkupi tiga wilayah yang kini masuk dalam administrasi Kabupaten Kutai Kartanegara. Diantaranya adalah Kecamatan Samboja, Kecamatan Sangasanga, hingga Kecamatan Loa Janan. “Itu bagian dari Samarinda dulu. Awalnya 3 kecamatan saja. Ulu, Ilir, dan Seberang. Intinya Kota Samarinda pernah ada di masa lebih luas dari sekarang,” ujarnya.

Protektorat wilayah Samarinda, lanjut Fajar, juga berbeda-beda. Dalam perkembangannya dulu, tentu harus merujuk kepada naskah-naskah. “Tapi kita harus mengakui bahwa pencatatan kejadian sebelum Republik Indonesia berdiri itu tidak terlalu bagus di wilayah Kalimantan Timur sebenarnya,” akunya.

Itu sebabnya, Fajar cukup menyayangkan bangunan-bangunan sejarah di Kota Samarinda kini banyak diabaikan. Padahal, terkait dengan hal itu, ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. “Sebelumnya sudah ada undang-undang di mana isi dan pasalnya lebih lugas dalam pemanfaatan cagar budaya. Sehingga kalau dulu hanya fungsi konservasi yang membuat itu tetap lestari, tapi sekarang bagaimana juga bisa bermanfaat bagi ekonomi masyarakat. Jadi maksudnya tidak hanya melindungi semata, tetapi juga mensejahterakan masyarakat sekitar sebagai lokasi kunjung,” paparnya.

Bagi Fajar, dari sekian banyak kecamatan di Samarinda, wilayah yang banyak teridentifikasi terkonservasi ada di sebelah selatan Sungai Mahakam, di daerah yang sekarang masuk Samarinda Seberang. “Di sana misalnya ada masjid besar, Masjid Shiratal Mustaqiem. Kalau dilihat, keberadaan masjid yang berukuran besar pasti untuk mengakomodir jumlah umat yang besar pula. Artinya, wilayah masjid di sana pasti sudah ramai sejak masa lampau. Ini juga termasuk jika kita melihat ukuran Masjid Raya Darussalam,” tukasnya. (fa)

Continue Reading

People With Passion

People with Passion: Fajar Alam, Komunitas Samarinda Bahari (1)

Published

on

By

Dia adalah salah satu founder grup sosial media Facebook, “Samarinda Bahari”. Bersama koleganya, Muhammad Sarip, sang geologis berupaya merekonstruksi sejarah Kota Tepian di seluruh zaman agar generasi mendatang tak terputus pada masa lalu.

TRIPIA.ID berkesempatan mewawancarai Fajar Alam, satu dari empat admin grup “Samarinda Bahari”, beberapa waktu lalu. Pelbagai hal diungkapkan pria berkacamata itu perihal sejarah Kota Samarinda. Pun dengan Kalimantan Timur secara umum. Dibalik usahanya mendokumentasikan sejarah Kota Samarinda

Seperti diketahui, grup “Samarinda Bahari” merupakan wadah berbagi informasi, artikel, dokumen, foto, gambar, dan video tentang Kota Samarinda di era lampau. Tujuannya, membantu menghimpun sumber sejarah atau heuristik sebagai tahap awal metode penelitian sejarah. “Samarinda Bahari” bukan perkumpulan biasa yang sekadar membangkitkan kenangan masa lalu atau nostalgia yang terbatas pada dekade tertentu. “Samarinda Bahari” adalah kelompok studi ilmiah yang berupaya merekonstruksi kesejarahan Samarinda pada seluruh zaman.

Fajar mengisahkan, “Samarinda Bahari” berdiri pada 15 Desember 2014. Grup ini boleh disebut sebagai respon Fajar dan Muhammad Sarip –admin “Samarinda Bahari” dan pegiat literasi sejarah Samarinda dan Kalimantan Timur– terhadap tren retro yang sedang naik daun di sosial media. “Saat itu ada grup (Facebook, Red.) di Jakarta yang mengulas tentang nostalgia era 60, 70, 80-an. Saat itu tren itu juga ada di Samarinda,” katanya.

Ketika itu –memang– ada grup serupa. Namun genre konten yang dihadirkan tidak spesifik mengenai sejarah lokal Kota Samarinda dan hanya berkutat pada romansa masa lalu. “Misalnya ya tentang nostalgia kaset pita, karet gelang yang jadi penghapus setelah diikat di ujung pensil, dan lain-lain. Arahnya bebas, pokoknya apa yang pernah dialami anggota grup saat dulu,” ujarnya.

Lantaran banyak anggota di grup tersebut berasal dari Kota Samarinda, pada akhirnya konten-konten yang diunggah banyak mengulas soal Kota Samarinda. “Seperti bioskop dulu di mana saja, misbar (gerimis bubar, Red.) di mana saja, atau tren Farid Harja,” kisah Fajar.

Di momen itulah Fajar kemudian bertemu Muhammad Sarip yang mengajaknya untuk membuat grup baru di Facebook. Namun dengan materi konten ke arah literasi lokal. “Maksudnya sih biar kami tidak melulu terjebak di dokumentasi gaya hidup 60, 70, atau 80-an. Makanya fokus kami Samarinda saja, makanya kemudian namanya ‘Samarinda Bahari’. Kami mengulas apa saja yang pernah terjadi di Samarinda dalam kurun waktu tertentu,” jelasnya. “Sarip memang suka sejarah melalui pencarian sumber-sumber pustaka. Kami satu SMP, pernah satu kelas juga. Kalau saya minatnya ke penelusuran situs-situs atau lokasi-lokasi yang dianggap punya nilai sejarah. Saya lebih suka menulisnya seperti ekspedisi,” timpalnya.

Bagi Fajar, awalnya dia bersama Sarip hanya sekadar menulis fragmen-fragmen peristiwa di Kota Samarinda. Hal itu dilakukannya secara bergiliran bersama Sarip di grup Facebook itu. “Misalnya kalau ketemu foto lama, foto itu lalu saya narasikan,” paparnya.

Sejak 2015 hingga sekarang, ada pelbagai agenda yang telah dijalankan “Samarinda Bahari”. Di antaranya, selain menerbitkan buku, semua dokumentasi di “Samarinda Bahari” telah dikompilasi dalam bentuk tulisan. “Sarip lebih agresif soal itu dibanding saya,” celotehnya.

Selain menulis, agenda lain yang pernah dilakukan “Samarinda Bahari” adalah membuka trip gratis. Inisiasi ini dilakukan Fajar saat dia masih aktif sebagai pengurus di Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Kaltim. “Saya buat trip gratis di Loa Kulu. Kan dulu di sana juga ada sejarah kolonialnya,” bebernya.

Fajar menguraikan, ulasan sejarah “Samarinda Bahari” sebenarnya tak terjebak pada periode tertentu. “Kami bergantian menulis artikel. Kami lebih ke penulisan. Beda dengan grup Facebook yang sifatnya nostalgia. Kalau grup nostalgia itu seperti crowd data. Misalnya ada foto terus diunggah lalu dikomentari oleh anggota grup. Kalau kami membuat narasi semi utuh atau utuh dari suatu peristiwa yang kami capture dalam tulisan kami. Komentar baru bermunculan kemudian. Tapi dari awal memang kami yang menarasikan topiknya. Kalau tahun apa saja yang kami capture, itu tidak ada spesifiknya,” bebernya.

Fajar mengungkapkan, “Kadang kala ketika ngobrolin seperti kapan pemukiman di tepian Mahakam ditertibkan, itu kami harus mundur ke belakang. Misalnya dari era Kadrie Oening (walikota ke 3 Samarinda, Red.), itu dari kawasan sekitar pelabuhan (Jalan Niaga Timur, Red.). sampai ke arah sekitar muara (Jalan R.E. Martadinata, Red.). Misalnya lagi periode Waris Husain (walikota ke 6 Samarinda, Red.), kalau enggak salah dari arah muara (Jalan R.E. Martadinata, Red.) sampai ke arah Jembatan Mahakam (Jalan Slamet Riyadi, Red.). Ya sekali lagi itu tergantung fragmen”.

UPAYA PELESTARIAN SEJARAH
Sebelum ada “Samarinda Bahari”, Fajar menyebut sebenarnya sudah ada upaya inisiasi untuk melakukan konservasi narasi sejarah Kota Samarinda. Itu dilakukan Ellie Hasan –admin “Samarinda Bahari”. Menariknya, Ellie Hasan adalah satu dari sekian cucu Aminah Sjoekoer (Aminah Syukur, Red.) yang bernama asli Atje Voorstad –tokoh keturunan Belanda yang memperjuangkan kesetaraan pendidikan untuk kaum wanita di zaman penjajahan kolonial Belanda. Ia juga pendiri Neisjes School, sekolah untuk kaum wanita di Kota Samarinda Kalimantan Timur sekira medio 1928.

Kata Fajar, Elli Hasan saat ini berada di Jerman. Istimewanya, selain punya garis keturunan dari Aminah Sjoekoer, Ellie Hasan juga memiliki kekerabatan dengan istri Presiden Soekarno ke 9, Heldy binti Jafar di Tenggarong. “Jadi, ada masa di mana Presiden Soekarno berkunjung ke Samarinda pertama kali tahun 50-an, terkait dengan peresmian Kaltim sebagai provinsi baru di Republik Indonesia setelah sebelumnya menjadi bagian dari Kalimantan. Nah, satu dari sekian keluarga besar Aminah Syukur ini, khususnya kerabat Ellie Hasan, ada seorang fotografer. Dia waktu itu banyak mengabadikan kegiatan Presiden Soekarno ketika berkunjung ke Samarinda. Termasuk ketika mengunjungi Gedung Juang. Jadi Ellie Hasan banyak mengumpulkan foto hasil karya kerabat beliau. Semua di pigura dengan baik dan buat mini galeri,” tutupnya. (fa)

Continue Reading

People With Passion

People with Passion: Mad Distro (1)

Published

on

By

Dia salah satu sosok yang berjasa mendistribusikan pelbagai produk dari genre musik underground ke Kota Samarinda di era 2001; kaset tape, CD, VCD, t-shirt, stiker, pin, emblem, belt spike, hingga zine.

MENEMUKAN benda-benda di atas mungkin cukup mudah saat ini. Tapi coba bayangkan jika hal itu terjadi dalam rentang waktu ketika pilihan sangat terbatas. Terlebih ketika internet tak sepopuler sekarang.

Saat kebanyakan anak muda hanya memahami Disc Tarra sebagai satu-satunya tempat membeli kaset tape, CD, dan VCD, tentu sangat mengejutkan saat mengetahui bahwa barang-barang itu ternyata bisa dibeli di lapak pinggir jalan. Hal yang paling mengejutkan adalah produk-produk yang dijual justru antimainstream dan tidak beredar di tempat-tempat komersil, melainkan di komunitas-komunitas –dulu disebut– independen.

Mad Distro, adalah salah satu nama populer dikalangan skena musik underground lokal era 2000-an yang membuka ruang ketidakmungkinan itu. Tetapi, jangan bayangkan jika nama Mad Distro berarti sebuah lokasi berbelanja yang terletak di sebuah ruko atau space di dalam mal. Mad Distro adalah nickname sekaligus nama lapak yang dijalankan secara mandiri. Mad Distro menyediakan produk-produk tak terjangkau di masa itu. Seperti artinya, distro adalah distribution, Mad Distro mendistribusikan pengetahuan soal genre musik yang dulu minoritas itu kepada generasi muda era 2000-an.

Tripia.id mewawancarai Achmad Zulkarnaen a.k.a. Mad Lori a.k.a. Mad HC a.k.a. Mad Distro, beberapa waktu lalu mengenai pelbagai hal. Mulai soal distribusi barang-barang tersebut ke Kota Samarinda termasuk aktivitasnya di skena underground Kota Tepian, khususnya di skena musik hardcore/punk.

Halo Mad, apa kabar?
Halo juga. Alhamdulillah baik, sehat walafiat, tak kurang suatu apapun. Semoga kalian semua juga sama. Amin.

Lagi sibuk apa sekarang?
Biasa rutinas bantu ortu, kerja diusahanya milik ortu.

Ditongkrongan, teman-teman lebih mengenalmu dengan nickname Mad Distro. Ceritain dong sejarah nama panggilan itu, kan kamu enggak punya distro. He-he…
Memang sih enggak punya distro. Tapi waktu itu kira-kira tahun 2001-an saya coba ngemper. Awalnya menawarkan ke teman-teman lewat hand to hand, baik di tongkrongan atau datang ke rumahnya sekalian. Saya bawa pakai tas. Kalau kaset disusun di kotak sandal atau sepatu Selain kaset tape, CD, VCD, saya juga bawa beberapa kaos band, emblem, stiker, pin, zine. Pada akhirnya, untuk memudahkan identitas nama distribusinya, saya pakai singkatan Mad Distro. Mad = Achmad, dan Distro = Distribution. Nama itu saya pakai setelah beberapa kali ngemper di tongkrongan dan gigs, baru tercetus ide nama itu. Saya sampai buat stikernya dan kasih nomor kontak di stiker itu. Lalu saya sebar. Sampai akhirnya teman-teman datang ke rumah saya langsung.

Ceritain dong pengalaman pertama kali ngemper, di mana dan kapan?
Waktu itu kira-kira tahun 2001-an. Awalnya ya tadi, bawa dagangan menawarkan ke teman-teman pakai cara hand to hand di tongkrongan atau ke rumahnya sekalian. Karena barang yang dibawa cukup banyak, saya mulai coba ngemper. Selain ngemper di tongkrongan parkiran Mal Lembuswana sama Billy (vokalis band grunge, BH Smile, Red.), kami juga beberapa kali ngemper di kampus Politeknik Samarinda Seberang, di depan kantinnya. Memang saya pernah dengar di situ banyak anak band pada kuliah, jadi kita coba jualan di sana. Pernah juga ngemper di trotoar jalan, di Jalan Pembangunan.

Dulu, t-shirt, kaset, CD, sampai merch hardcore/punk kan sulit didapat. Bisa ceritain darimana bisa mendapatkan barang-barang itu?
Awalnya kalau di Kalimantan Timur dari Dwin (Bandit Distro, Red.), skena di Balikpapan. Kebetulan waktu sering ke Balikpapan, saya sering mampir ke distronya yang ternyata dekat dengan tempat usaha ortu saya. Di sana ya beli merchandise band yang belum saya punya. Setelah beberapa kali ketemu, saya berkeinginan mencoba bantu memasarkan produk-produknya untuk saya jual di Samarinda. Akhirnya setuju. Saya dititipin beberapa barang, enggak banyak juga. Hanya kaset beberapa buah, stiker, emblem juga. Saya jual dari hand to hand, saya datangin rumah teman-teman, saya bawa juga ke tongkrongan di parkiran Mal Lembuswana. Lumayan laku dan akhirnya order barang berkelanjutan, terus kerja sama.

Bagaimana dengan proses bayarnya? Kalau barang-barang itu enggak laku bagaimana?
Sistemnya setor, bayarnya nanti kalau laku, dan bayarnya ketika saya ke Balikpapan. Nanti dilihat, yang susah lakunya dikembalikan lalu ditukar dengan barang lain. Jadi selalu ada yang baru.

Barang pertama apa yang dijual? Berapa harganya?
Kaset, stiker, dan emblem. Kalau masalah harga jual dibuat sama dengan harga di Balikpapan. Kalau kaset tape, CD, VCD, rata-rata 15 ribu. Stiker 2 ribu. Emblem yang paling murah 4 ribu.

Biasanya barang-barang apa saja yang diorder dan dijual?
Stiker dan emblem paling laku, karena mudah jualmya dan murah. Kalau kaset, sedikit agak susah. Dan yang paling susah kaos karena agak mahal.

Pas ngemper pernah ngutangin teman-teman enggak?
Pernah. Tapi jarang banget. Sistemnya dulu malah ada yang minta disimpan dulu barangnya biar enggak dijual ke lain karena belum ada duitnya.

Ngomong-ngomong, bagaimana proses mengenal genre musik hardcore/punk? Di zaman itu kan sumber literasi musik masih sangat sulit…
Dulu pas tinggal di Jakarta tahun 1996 sampai 2001, pas kuliah dan sempat nyambi kerja. Di tahun-tahun itu, kampus saya beberapa kali menggelar acara band. Beberapa diantara mereka ada mahasiswa dari kampus saya. Di acara itu juga ada bintang tamunya. Kadang dari Jakarta sendiri dan dari kota lain seperti Bandung. Ternyata selama acara enggak semua band yang tampil beraliran pop, rock, alternatif, atau new metal. Malah ada yang beraliran punk, hardcore, dan ska. Waktu itu genre ska sedang booming. Banyak dari band-band yang tampil di kampus saya dulu akhirnya sukses jadi artis dan sering muncul di televisi. Akhirnya saya mulai ketagihan nonton acara band. Mulai dari kampus, cafe, gelanggang olahraga, sampai nonton di gedung serbaguna. Yang awalnya cuma suka nonton band-band alternatif dan new metal, jadi suka dengan genre hardcore dan punk. Dari situ jadi sering juga ke toko-toko kaset di mal seperti di Blok M, emperan anak-anak punk di Blok M, maupun di acara band. Apalagi waktu itu beberapa radio di Jakarta juga sering memutar lagu cadas.

Band hardcore/punk pertama yang didengar apa?
Sebagian yang ada di toko kaset zaman itu. Seperti Rancid, Ramones, Sex Pistols, Madball, Dog Eat Dog, dan Biohazard. Selebihnya sih cari yang enggak pasaran, band lokal ataupun mancanegara.

Kan kamu dari Jakarta. Ketemu punker lokal seperti Johnny, Budi, dan Cambang (personel band street punk, Ca’adoet, Red.) dan bikin tongkrongan di parkiran Mal Lembuswana bagaimana ceritanya?
Ketika ayah meninggal 2001, saya pulang ke kembali Samarinda. Ternyata enggak balik lagi ke Jakarta selamanya. He-he. Waktu di Samarinda, saya lihat mereka (punker lokal, Red.) dari tahun 2000 sudah nyetreet. Lengkap dengan dandanan mohawk dan boot. Kalau enggak salah ketemu mereka di Jalan Dr Soetomo dan di sekitaran Mal Lembuswana. Itu ketika mereka tinggal di basecamp di Gang 3, Jalan Dr Soetomo. Jadi akhirnya sekira 2001 saya baru main ke tempat mereka.

Sejak kapan skena punk di Samarinda ada, terutama tangkrongan di parkiran Mal Lembuswana?
Kalau enggak salah 2001.

Kondisi skena waktu itu bagaimana? Seenggaknya di tahun pertama deh…
Awalnya tentu masih sedikit, tapi lambat laun terus berkembang. Paling banyak remaja sih yang datang, mungkin lagi cari jati diri. Berekspresi lewat punk, berkarya lewat musik. Dari dulu nongkrongnya memang dipusatkan di parkiran Mal Lembuswana. Posisinya dulu pas di dekat dua patung Lembuswana. Setelah itu tongkrongan bergeser ke depan, di dekat tiang reklame KFC. Terakhir bergeser di teras gerai Telkomsel. Karena dipakai untuk pakiran motor, jadi kurang asyik nongkrongnya. Kalau saya nongkrong sekalian ngemper.

Skena di Mal Lembuswana kenapa bubar?
Pendapat saya mungkin berbeda dengan yang lain. Menurut yang saya rasakan dan dengar, entah benar atau salah, mulai ada tuduhan kriminal ke teman-teman bahwa di parkiran Mal Lembuswana telah terjadi tindak pidana pencurian. Apalagi ketika ada kaca mobil yang pecah, teman-teman yang disalahin. Tapi memang pelakunya bukan dari kami. Belum lagi kalau ada teman-teman yang tertangkap bawa narkoba di parkir Mal Lembuswana, jadi mulai disoroti keberadaan kami di sana. Teman-teman yang mengamen dan nyetreet di lampu merah banyak dituduh menggores mobil pengendara. Apalagi mulai susah dibedakan mana anjal (anak jalanan, Red.) dan mana punker. Sekitaran Mal Lembuswana jadi terasa enggak Kondusif.

Kenapa dulu nongkrongnya cuma tiap malam minggu?
Malam minggu adalah waktu yang pas untuk nongkrong, kesempatan jalan-jalan malam mingguan ke luar rumah pokoknya. Teman-teman ada juga sekalian cuci mata di dalam mal, mampir ke toko kaset. Memang Sabtu sore sampai Minggu kebanyakan waktunya sangat luang. Dan gigs juga biasanya hari Minggu, dari pagi sampai malam. Dulu nongkrong seminggu sekali ketemu di parkiran Mal Lembuswana sudah cukup mengobati perasaan kangen ketemu teman-teman. Dari ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya lahir obrolan yang serius. Misalnya diskusi soal pergerakan kami seperti bikin gigs. Kami juga diskusi bagaimana mengkoordinir teman-teman di luar kota. Mulai dari penyebaran pamflet, pendaftaran band, dan nomor kontak mereka. Setelah itu ya evaluasi gigs dan kolektif di parkiran Mal Lembuswana. Sebenarnya teman-teman dari komunitas lain kadang mampir juga nongkrong di parkiran Mal Lembuswana. Entah dari skena yang berbeda sampai dari kota lain.

Setelah tongkrongan di Mal Lembuswana bubar, teman-teman sempat nongkrong di beberapa tempat. Mulai dari teras Mal SCP, sekitar Stadion GOR Segiri di depan rumahmu, lalu terakhir pindah ke Wartel Sumangat di Jalan Agus Salim. Ceritanya gimana tuh?
Setelah dari parkiran Mal Lembuswana, teman-teman memang ada yang nongkrong di teras Mal SCP. Tapi saya sempat dengar kalau di sana juga enggak bertahan lama, karena ada pertikaian dengan security dan preman setempat. Waktu itu saya memilih ngemper sama Billy di trotoar Jalan Pembangunan. Di sana juga enggak bertahan lama sebenarnya, karena Billy sedang ada kesibukan lain. Jadi saya enggak ada teman ngemper. Apalagi di situ juga jualan kurang laku. Belum lagi kalau gerimis, pasti bubar. Di Jalan Pembangunan sebenarnya ada juga emperan lain dari teman-teman skena metal dan jadi lokasi tongkrongan mereka. Akhirnya, saya sama teman-teman yang dulu nongkrong di parkiran Mal Lembuswana, memutuskan bikin kolektif di depan teras rumah saya. Nama kolektifnya PunkShit. Nama itu diilhami dari warung mie pangsit yang jualan di depan rumah saya. Tempat nongkrong ini juga enggak bertahan lama, karena saya sudah fokus bantu ortu di Jalan Agus Salim. Jadi teman-teman memutuskan pindah tongkrongan di Jalan Agus Salim juga. Setelah sekian lama, bubar juga. Penyebab awalnya karena sering ada sweeping dan razia dari aparat terhadap anak-anak motoran yang sering nongkrong di pinggir Jalan Agus Salim. Sialnya, teman-teman kena razia saat nongkrong. Setelah insiden itu, enggak ada lagi teman-teman yang nongkrong di Jalan Agus Salim. Akhirnya jalan masing-masing. Ada yang nongkrong di Air Hitam, ada yang fokus bikin gigs dan buat kolektif baru.

Setelah semua tongkrongan bubar, lalu bagaimana nasib barang-barang emperan kamu?
Sempat masih saya usahakan dijual, tapi memang enggak selaris dulu. Lebih susah penjualannya. Alhamdulillah dulu sempat sebar flyer, stiker, dan info lapak jualan saya ke mana-mana, jadi teman-teman langsung ke rumah saya. Di rumah saya yang terletak di sekitar stadion timur GOR Segiri, saya buat ruang kerja khusus untuk terima teman-teman yang lagi cari barang-barang underground. Waktu itu saya juga melayani pesanan Mp3 dan video dalam format burn ke CD, DVD, dan copy ke kaset tape untuk genre underground. Saya juga buat VCD kompilasi dari koleksi yang saya punya. Sempat saya titip ke distro dekat rumah, dan lumayan laku. (tripia/bersambung)

Literasi:
– Zine dalam kultur hardcore/punk merupakan media publikasi nonresmi yang dibuat secara mandiri oleh satu orang –bahkan lebih. Zine sendiri berisi pelbagai macam tema mulai dari opini, wawancara, review, rekomendasi, dan lain-lain yang berhubungan atau bersinggungan dengan hardcore/punk. Zine kemudian difotokopi dan disebarluaskan secara gratis –meski ada yang menjual, harganya sangat murah. Zine hanyalah salah satu produk media dari kultur hardcore/punk selain fanzine dan newsletter.
– Ngemper atau mengemper adalah istilah lain dari membuka lapak jualan. Dalam kultur hardcore/punk lokal, ngemper bisa dilakukan di mana saja. Seperti di trotoar, halte, saat gigs, atau tempat-tempat lain.

Continue Reading

Trending