Connect with us

Business

Kopitiam, Riwayat Penyebutan Kedai Kopi Pusaka Peranakan Tionghoa (2-Habis)

Published

on

Di Singkawang, kopitiam yang dikelola orang Tionghoa dinamai warung kopi atau kedai kopi, bahkan tidak ada orang Melayu di Singkawang yang membuka kedai kopi.

MENGHERANKAN memang, mengingat bahwa mayoritas penduduk Singakawang adalah etnis Cina dan mereka hanya menggunakan ‘warung kopi’ sebagai penyebutan tokonya. Kebanyakan warung kopi di Singkawang memakai nama orang atau pemiliknya, misalnya Warung Kopi Acoy, Warung Kopi Apui, dan lainnya.

Salah satu kopitiam tertua di Singkawang adalah Warung Kopi Nikmat yang terletak di Jalan Diponegoro. Ia sudah berdiri sejak 1930-an, sekarang sudah dipegang oleh generasi ke empat.

Menurut Abui (39) pengunjung warung tersebut yang juga pengusaha warung kopi, kata warung kopi lebih menyesuaikan pada konsumen.

“Sedari dulu, pelanggan terbanyak warung kopi adalah orang Melayu, mereka suka sarapan, istirahat makan siang atau ngopi sore hari di warung kopi. Jadi mungkin supaya lebih ramah di telinga warga Singkawang digunakanlah kata warung kopi,” ujarnya sambil menyeruput kopi pancung.

“Kopi pancung” adalah penyebutan pada minuman kopi yang disajikan dalam cangkir dengan ketinggian hanya setengah dari tinggi cangkir. Kata “pancung” berasal dari 半 “pan” yang berarti setengah dan 中 “cung” yang berarti tengah.

Tak hanya kopi pancung yang menjadi favorit para penikmat kopi di Singkawang. Masih ada kopi hitam pahit, kopi hitam manis, kopi susu, es kopi, dan teh. Salah satu sajian teh yang menjadi primadona warung kopi di Singkawang adalah teh tarik: Teh dengan campuran gula dan susu yang menghasilkan teh dengan paduan rasa gurih dan manis legit.

Fenomena warung kopi pun kemudian merebak di Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, dalam lima tahun belakangan. Sebutlah Jalan Gajah Mada, di sana berderet sejumlah warung kopi, diantaranya yang terkenal adalah Warung Kopi Winny dan Warung Kopi Aming.

Jika warung kopi di Singkawang tampak sederhana dengan fasilitas seadanya, warung kopi di Pontianak memiliki fasilitas setara kopitiam di ibu kota negara: sambungan internet nirkabel dan buka nyaris 24 jam.

Warung kopi pun kemudian menjadi tempat utama, selain klenteng dan perkumpulan marga. Banyak warga di Singkawang dan Pontianak datang ke warung kopi untuk tujuan tertentu, misalnya berdiskusi, mengadakan pembicaraan bisnis dan pembicaraan yang bersifat transaksional. Bahkan, jelang pemilu 2014, warung kopi merupakan tempat yang ideal bagi warga untuk menentukan siapa pemimpin yang hendak mereka pilih, bahkan para caleg pun memanfaatkan tempat ini sebagai sarana sosialisasi.

Warung kopi tak hanya sebagai tempat penggila dan penikmat kopi bercengkrama dengan rasa, tetapi juga sebagai tempat untuk mendapat pelbagai informasi dan transaksi.

Sejarah kopitiam di Asia Tenggara memang merupakan sejarah perkembangan warung kopi transnasional, tak kalah dengan gerai warung kopi yang datang dari negeri Paman Sam atau pun dari daratan Eropa. Seperti yang dipaparkan Johanes Herlijanto, kopitiam merupakan bentuk adaptasi orang Tionghoa terhadap lingkungan sekitar di mana pun mereka menetap.

Tak dapat dipungkiri, kopitiam, warung kopi, atau kedai kopi juga merupakan salah satu sumbangsih orang Tionghoa terhadap khasanah kuliner di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.

Sementara warung-warung kopi tradisional saat ini harus bertahan menghadapi warung kopi waralaba, mereka pun harus menemukan inovasi untuk tetap dapat beroperasi. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Business

Kopitiam, Riwayat Penyebutan Kedai Kopi Pusaka Peranakan Tionghoa (1)

Published

on

By

Anda yang tinggal di kota-kota besar, kemungkinan tidak asing dengan Kopitiam –beraneka merk. Gerainya bahkan terbesar di pusat perbelanjaan bergengsi.

KOPITIAM tumbuh besar seiring dengan tren kopitiam di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Namun di balik kopitiam yang terkenal itu, ada banyak kopitiam tradisional yang tersebar di beberapa tempat kantong-kantong masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia.

Kopitiam merupakan paduan kata Bahasa Melayu dan Bahasa Cina dialek Amoy atau dialek Hokkian, “kopi” dan “tiam”. “Tiam” adalah lafal dialek Hokkian yang berarti “toko”, yang dalam Bahasa Mandarin adalah 店 (pinyin: dian).

Di daerah Asia Tenggara, kita dapat menemukan kopitiam di Singapura, Malaysia dan Indonesia –berbagai tempat imigran dari Tiongkok daerah Fujian (Xiamen).

Menjamurnya waralaba kopitiam beberapa tahun belakangan ini di Indonesia sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak awal abad ke-20, banyak kopitiam di Hindia Belanda –termasuk di daerah Pontianak dan Singkawang– menggunakan nama warung kopi atau kedai kopi.

Variasi penyebutan kopitiam, warung kopi dan kedai kopi menurut Johanes Herlijanto, pemerhati masyarakat Tionghoa yang juga sinolog, bahwa kopitiam merupakan warisan budaya orang Cina di Asia Tenggara.

Menurutnya, “Jika kedai itu dimiliki orang Tionghoa, warga Tionghoa sekitar langsung menyebutnya sebagai kopitiam. Sebaliknya, jika dikelola orang non-Tionghoa, penyebutannya berganti menjadi kedai kopi”.

Kecenderungan penamaan seperti itu tampak terjadi di daerah Sumatra, contohnya di Medan, Pangkal Pinang,dan Belitung. Namun, ada hal menarik terjadi di Kalimantan Barat contohnya Singkawang. (*)

Continue Reading

Business

Hiyung, Cabai Terpedas di Indonesia Ada di Kalimantan (3-Habis)

Published

on

By

Selain memiliki tingkat kepedasan yang tinggi, cabai hiyung memiliki keunggulan lainnya, yakni dari segi keawetan yang bisa bertahan hingga 8 sampai 10 hari lamanya.

HAL itu juga dibuktikan oleh Junaidi saat dirinya mengantar cabai hiyung ke pameran tingkat nasional di berbagai daerah di Indonesia.

“Boleh dibilang cabe terpedas dan terawet di Indonesia menurut penelitian itu. Kalau di tingkat dunia, belum ya. Tapi kita bangga punya cabai ini,” jelas Junaidi, seperti yang dikutip dari Good News From Indonesia.

Para petani pun memaksimalkan penjualan cabai dengan berinovasi membuat produk lain, seperti Abon Cabe Hiyung yang dihargai seharga Rp 15 ribu perbotolnya. Hal itu pun berbuah manis.

Cabai hiyung dan produk lainnya tidak hanya didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia saja, melainkan hingga ke luar negeri seperti Spanyol dan Jepang.

Kesuksesan petani cabai hiyung turut mendapat dukungan dari pemerintah setempat, karena dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Pemerintah Kabupaten Tapin pun mengembangkan 200 hektare lahan untuk tanaman cabai hiyung di daerah tersebut.

Bukan hanya itu, cabai hiyung sudah terdaftar sebagai varietas tanaman lokal di Kementerian Pertanian dengan nomor 09/PLV/2012. Meski begitu, para petani kerap mengalami hambatan saat menanam cabai hiyung.

Misalnya kondisi alam dan cuaca seperti musim hujan. Selain itu, kebakaran juga pernah menjadi hambatan saat menanam cabe hiyung akibat dari kebakaran hutan dan lahan. (*)

Continue Reading

Business

Hiyung, Cabai Terpedas di Indonesia Ada di Kalimantan (2)

Published

on

By

Cabai hiyung diperkirakan ada sejak 1993. Berawal dari seorang petani bernama Soebarjo yang membawa bibit cabai dari desa tetangga, yaitu Desa Linuh, Kecamatan Bungur, Kabupaten Tapin.

SEBELUMNYA, wilayah Desa Hiyung didominasi oleh lahan gambut, sehingga membuat wilayahnya kurang subur dan selalu gagal jika ditanami padi. Selain itu, juga banyak hama yang muncul.

Kondisi tersebut membuat warga sekitar pasrah. Namun, langkah Soebarjo yang membawa bibit cabe dari desa sebelah itu menjadi jalan keluar.

Bibit itu berhasil ditanam dan membuat cabe yang dihasilkan memiliki tingkat kepedasan yang tinggi.Sejak saat itulah, masyarakat sekitar beralih menjadi petani cabe.

Pertumbuhan cabe hiyung pun sangat berkembang pesat. Hal tersebut memunculkan sebuah perkumpulan yang diberi nama Asosiasi Cabe Rawit Hiyung di daerah tersebut.

Asosiasi tersebut diketuai oleh Junaidi. Ia menyebutkan bahwa masyarakat bisa menghasilkan 2 ton cabe per masa panen sebanyak 30 kali dalam satu tahun. Harga tertinggi cabe ini mencapai Rp 70 ribu-Rp 90 ribu per kg.

Harga di pasaran bisa lebih mahal dari harga tersebut. Keuntungan itu juga bersamaan dengan masyarakat luar yang tak henti memesan cabe hiyung dari para petani di Desa Hiyung.

“Saya sekarang punya sedikitnya 35 pelanggan. Itu dari pengepul, pengecer, dan rumah makan. Kalau lokasi pemesannya dari Kalimantan Selatan sampai daerah Jawa juga ada,” ungkap Junaidi. (*)

Continue Reading

Trending

© 2021 Dibuat dengan Bangga di Kota Tepian — Tripia.id