Connect with us

Berita

Bahasa Asli di Ibukota Baru Terancam Punah

Published

on

Bahasa Paser tak banyak digunakan dalam keseharian. Fenomena ini justru terjadi saat Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dipilih menjadi ibukota Indonesia.

NASIB bahasa Paser setali tiga uang dengan bahasa Dayak Benoa; terancam punah. Generasi baru di kawasan kota, memang tak pernah menggunakannya ketika saling bercakap. Namun sejumlah sumber menyebut, bahasa asli suku Paser masih digunakan di pedalaman.

Umumnya, anak-anak suku Paser menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Biasanya, mereka baru bisa menggunakan “bahasa ibu” ketika beranjak dewasa karena baru mempelajarinya.

Contoh bahasa Paser seperti; “Isik kabar?” yang berarti “Apa kabar?” Atau, “Guen” yang berarti “Baik“. Rumpun-rumpun bahasa dari beragam suku di Kabupaten PPU telah bercampur aduk jadi satu. Namun, ada satu ujaran dari salahsatu rumpun bahasa yang telah menjadi identitas dalam percakapan tiap orang di Kabupaten PPU.

Bahasa itu adalah bahasa suku Banjar, untuk ucapan “Kah“. Dalam buku berjudul “Kesantunan Berbahasa pada Masyarakat Banjar” karya Rissari Yayuk, dijelaskan bahwa kata “Kah” seperti kata penegasan kalimat tanya. “Kah” adalah kata komplementer. Hampir setiap orang di Kabupaten PPU selalu menambahkan kata “Kah” dalam setiap percakapannya. Tak peduli apa pun logat bahasa mereka.

 

UNTUK mengukur apakah sebuah bahasa itu dianggap punah atau tidak, The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan 9 indikator. Yakni, transmisi bahasa antargenerasi, jumlah penutur absolut, proporsi penutur dengan jumlah penduduk keseluruhan, kecenderungan dalam ranah penggunaan bahasa, daya tanggap terhadap ranah baru dan media, materi untuk pendidikan bahasa dan keberaksaraan, kebijakan bahasa oleh pemerintah dan institusi–termasuk status resmi dan penggunaanya, sikap masyarakat penutur terhadap bahasa mereka, dan jumlah dan kualitas dokumentasi bahasa.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) punya ukuran tersendiri untuk mengukur eksistensi sebuah bahasa daerah. Yakni dengan menggunakan parameter yang disebut dengan dialektometri. Status eksistensi bahasa suku Paser sendiri bisa dilihat di data pokok kebahasaan dan kesastraan yang ada di laman resmi Kemendikbud.

Berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Pasir –Paser– merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar 81 persen sampai 100 persen jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lainnya yang ada di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Misalnya dengan bahasa Basap, bahasa Benuaq, bahasa Bulungan, bahasa Punan Merah, bahasa Dusun, dan bahasa Long Lamcin. Dalam data tersebut, bahasa Paser disebut merupakan termasuk salahsatu bahasa yang memiliki jumlah penutur yang cukup besar di Kaltim. Kelestarian bahasa ini masuk kategori aman, meskipun statusnya masih belum terkonservasi.

Namun, tentu saja, di tengah meresapnya pelbagai rumpun bahasa dalam percakapan masyarakat di Kabupaten PPU, bahasa Paser mestinya tetap harus hidup. Seperti halnya bahasa Betawi yang tetap hidup di Jakarta, ibukota saat ini. Jadi, bagaimanakah nasib bahasa Paser ketika ibukota dipindahkan ke Kabupaten PPU?

 

KABAR ancaman kepunahan bahasa Paser ini disampaikan Paidah Riansyah, Ketua Laskar Pertahanan Adat Suku Paser. Lantaran terancam punah, Paidah mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) PPU sudah menyetujui bahasa Paser masuk pelajaran Muatan Lokal atau Mulok dalam kurikulum sekolah.

Di salahsatu pasar, sejumlah masyarakat lokal yang dijumpai mengaku tidak tahu bahasa Paser. Bahkan, untuk mengucapkan satu kosakata saja mereka tak bisa.
Ketidaktahuan bahasa Paser itu salah satunya dialami oleh Adisa, seorang pedagang ikan di pasar tersebut.

Adisa berdarah suku Bugis yang lahir dan hidup di Kabupaten PPU. Ia mengaku tidak tahu bahasa Paser. Bahkan, menurut Adisa, bahasa asli Kabupaten PPU adalah Bahasa Bugis.

Kondisi serupa juga terjadi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 010 di Desa Sepaku –Kecamatan Sepaku. Tidak ada satu siswapun yang tahu apa itu bahasa Paser.
Mutia, Wakil Kepala Sekolah SDN 010 Desa Sepaku menjelaskan, bahasa Paser tidak diajarkan. Para siswa di SDN 010 Desa Sepaku umumnya diisi oleh anak-anak dari keluarga transmigran Pulau Jawa.

“Jadi, di sini bahasa Paser tidak diajarkan. Saya memang pernah mendengar wacana itu dari Pemkab kalau bahasa Paser ini akan masuk di pelajaran Mulok. Tapi untuk saat ini yang masuk Mulok malah bahasa Inggris,” tuturnya, seperti dikutip dari Detik. (fa)

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

Cobain Nih! Jengkol Khas Kalimantan: Tahilala

Published

on

By

OLAHAN jengkol rendang dan semur tentu sudah biasa kamu konsumsi. Lalu bagaimana kalau jengkol diolah dengan santan manis pakai tepung disantap jadi camilan?

Yap, camilan khas Kalimantan ini menyajikan olahan jengkol dengan kuah santan manis mirip bubur kanji dengan bahan dasar santan, gula, dan tepung terigu. Jadi penasaran bagaimana rasanya? Cobain dulu resep Jengkol Tahilala.

Bahan:
– 2 butir kelapa ukuran besar yang sudah diparut, dan kulit arinya dikupas bersih karena kalau tidak akan menghasilkan tahilala yang berwarna kecoklatan.
– Air kurleb 800 ml.
– Secukupnya gula pasir, garam.
– Secukupnya tepung maizena.

Cara Membuat:
– Peras kelapa menggunakan air kurleb 800 ml (menjadi santan kental)
– Hidupkan kompor, rebus santan hingga menyusut,mengental dan mengeluarkan minyak.
– Beri gula pasir dan garam secukupnya, menghasilkan rasa gurih ada manis asinnya.
– Campurkan tepung maizena dengan sedikit air lalu aduk rata.
– Dinginkan suhu ruang, siap disantap.

Tata di piring jengkol rebus lalu siram dengan tahilala, tambahkan merica bubuk agar rasanya semakin nikmat. Nyummy, Jengkol Tahilala kaya akan rasa bakal bikin ketagihan. (*)

Continue Reading

Berita

Kuliner Kalimantan Nyaris Punah

Published

on

By

Ironi, ini mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kuliner Kalimantan. Sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia, Kalimantan kurang banyak tereksplor dibanding pulau lainnya. Kekurangan eksplorasi ini mencakup berbagai sektor, termasuk pariwisata, budaya bahkan yang paling universal, makanan.

SESUNGGUHNYA, Kalimantan tak ubahnya seperti pulau lainnya. Kalimantan menyimpan potensi kuliner yang luar biasa kaya. Tak dimungkiri, untuk bisa menonjol dan dikenal, setiap makanan memang harus punya ciri khasnya sendiri. Jika kuliner Jawa identik dengan cita rasa manis, kuliner Sunda identik dengan rasa pedas, bagaimana dengan Kalimantan?

“Kalimantan itu punya makanan yang khas dengan rasa gurih, asam dan pedas,” kata chef Meliana Christanty di Signatures Restaurant, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta Pusat.

Meli, demikian sapaannya, meyakinkan bahwa cita rasa Kalimantan tidaklah terasa asing di lidah. Bahkan dia mengatakan, hampir mirip dengan makanan yang biasa disantap.

Bayangkan saja aneka makanannya dibuat dengan sayur mayur segar yang diambil dari tanah subur Kalimantan. Aneka seafood segar berkualitas ekspor yang ada di lautan luas Kalimantan. Semuanya diracik dengan bumbu khas Kalimantan dan diolah oleh tangan terampil ibu rumah tangga.

Hampir mirip tak berarti sama persis. Sekilas penampakannya sama dengan makanan lain. Namun ini tak seharusnya jadi alasan menyepelekan dan menyamaratakan makanannya.

“Setiap provinsi Kalimantan dan setiap suku punya jenis makanan yang berbeda-beda.” Perbedaan yang dimaksud Meli ini sama halnya seperti bedanya makanan di Jawa Tengah dengan Jawa Timur dan Jawa Barat.

MAKANAN YANG TAK POPULER

Meli sendiri bukanlah perempuan asli Kalimantan. Dia adalah perempuan keturunan Jawa namun sejak 1996, dia menetap di Kalimantan. Di situlah dia mulai beradaptasi dengan lingkungan yang asri dan tradisional. Dia pun belajar dan mulai mendalami cita rasa masakan Kalimantan bersama ibu rumah tangga di sana.

Cintanya pun mulai timbul. Dia menyayangkan jika makanan yang enak hanya diam dan bercokol di pulau itu sendiri, tak populer di seluruh Indonesia dan dunia.

Jika rasanya enak, bagaimana mungkin makanannya kurang populer. Meli sendiri mengatakan kalau masalah popularitas ini bukan berakar pada cita rasanya.

“Yang bikin kurang terkenal adalah, si pembuat masakan tradisional dari kampung ke kampung ini belum berani tampil,” kata Meli. “Mereka belum berpikir kalau makanan ini akan bisa jadi warisan kuliner untuk Indonesia dan dunia.”

Bukan hanya soal tak berani tampil, kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah pun dinilai sangat kurang. Dia mengatakan, kendala lainnya yang dihadapi adalah soal presentasi makanannya. Makanan yang disajikan seringkali kurang menarik perhatian.

“Padahal sebenarnya, beberapa kali saya jadi private cook untuk pesta orang Indonesia dan juga pesta orang luar negeri, semuanya bisa menerima makanan ini. Mereka suka,” ucap dia.

Lalu mungkinkah juga masalah tak populernya kuliner Kalimantan juga disebabkan karena sulitnya mencari bumbu khas Kalimantan? Meli sebelumnya mengatakan, bahwa kuliner Kalimantan juga memiliki banyak pengaruh peranakan, baik dari Arab maupun China.

Beberapa makanan Kalimantan harus dibuat dengan bumbu yang hanya tumbuh di pulau itu, atau harus dibeli di pasar Kalimantan. Mungkinkan ini jadi penyebabnya? “Tidak juga, justru itu seninya. Di situlah letak nilai otentik dari makanan tersebut. Makanan Kalimantan itu anti-mainstream.”

BATAS TIPIS NILAI OTENTIK

Kabar menyedihkan dari kekayaan Kalimantan bukan hanya karena kemungkinan besar Anda tak bisa mencicip makanan tradisional Kalimantan. Namun, makanan ini juga terancam punah nilai otentiknya.

Meli bercerita, hutan-hutan di Kalimantan sekarang sedang terancam kelangsungannya, pembabatan hutan di mana-mana. Padahal, hutan-hutan inilah tempat tumbuhnya beragam jenis rempah bumbu dan bahan baku yang dipakai untuk membuat sajian khas tersebut.

“Ada jeruk kitkia, terung asam dan lainnya. Semua tumbuh hanya di hutan Kalimantan dan memberikan sensasi khas di masakannya.”

Mungkin saja bumbu-bumbu dan bahan baku ini bisa diganti dengan bumbu yang nyaris sama. Jeruk kitkia misalnya, jeruk ini merupakan sejenis jeruk nipis. Mungkin saja bisa diganti, tapi sudah tentu rasanya tak akan sama dan tak otentik lagi.

Sembari menyajikan beraneka ragam makanan Kalimantan di hadapan, Meli mengucapkan keinginan harapan dan keinginannya untuk melestarikan makanan Kuliner. “Semoga pembabatan hutan berhenti, dan makanan Kalimantan mendapatkan tempat di lidah serta berbagai tempat di ibu kota. Bukan cuma Soto Banjar saja yang terkenal, tapi juga makanan lainnya.” (*)

Continue Reading

Berita

Makanan Khas Kalimantan dan Cara Membuatnya, Bercita Rasa Unik (2)

Published

on

By

MAKANAN khas Kalimantan Tengah berupa makanan ringan yaitu keripik kelakai. Camilan ringan yang satu ini merupakan olahan dari tanaman ganggang yang tumbuh di hutan rawa.

Tanaman ini sangat cocok diolah menjadi camilan keripik yang renyah dan bisa menjadi pendamping lauk segala hidangan. Tidak hanya enak, keripik ini konon mempunyai beragam khasiat kesehatan hingga awet muda. Berikut resep keripik kelakai yang bisa Anda coba.

Bahan:
1 ikat kelakai
125 gr tepung beras
2 sendok makan tepung Tapioka
1 butir telur

Bumbu:
Garam secukupnya
2 siung bawang putih
1 sendok makan ketumbar
1 butir kemiri

Cara Membuat:
– Cuci bersih kelakai, pisahkan antara daun dan tangkainya.
– Haluskan semua bumbu.
– Campurkan tepung beras dan tepung tapioka bersama bumbu yang telah dihaluskan.
– Masukkan telur dan campurkan air hingga membentuk adoanan kental.
– Masukkan kelakai pada adonan tepung.
– Siapkan minyak panas, masukkan adoan kelakai lalu goreng hingga kekuningan. Angkat dan tiriskan kelakai. (*)

Continue Reading

Trending

© 2021 Dibuat dengan Bangga di Kota Tepian — Tripia.id