Connect with us

Artikel

Apa Perbedaan Kopi Arabika dan Robusta?

Published

on

Bagi penikmat kopi, istilah arabika maupun robusta sudah tidak asing.

KEDUA jenis biji kopi tersebut merupakan bagian dari famili tumbuhan yang disebut Rubiaceae. Dalam famili ini akan ditemukan enam ribu spesies. Para ahli botani menganggap seluruh biji-bijian tersebut sebagai tanaman kopi, tapi jenis kopi yang dapat diminum hanya dua, yaitu arabika dan canaphera –disebut juga robusta).

Dikutip dari laman Perk Coffe, kopi arabika memiliki kafein yang lebih sedikit dibanding robusta, tetapi kopi jenis arabika seringkali diakui dari segi kualitas rasa yang lebih baik, hal ini karena arabika cenderung memiliki rasa yang lebih lembut dan manis. Oleh sebab itu, kopi jenis arabika lebih cocok disajikan sebagai single kopi origin supaya penikmat kopi dapat menikmati rasa asli dari kopi arabika.

Sebaliknya kopi jenis robusta memiliki rasa yang kuat, kasar, dan cenderung lebih pahit. Tetapi meskipun pahit, biji kopi robusta disajikan dalam bentuk espresso blend karena ia memproduksi krema yang lebih baik dibandingkan arabika.

Dari segi kemampuan produksi tanaman, robusta lebih unggul dan mudah ditemui. Hal itu disebabkan varietas tanaman kopi jenis ini memiliki imunitas yang lebih kuat terhadap penyakit serta kapasitas produksi yang lebih banyak. Selain itu robusta dapat tumbuh subur di dataran yang lebih rendah dengan kelembapan yang lebih tinggi.

Sebaliknya, varietas kopi arabika lebih sulit ditanam serta cenderung rawan penyakit, jamur dan hama lainnya jika ditanam di dataran rendah. Selain itu untuk menanamnya, diperlukan lahan yang lebih luas serta waktu matang yang jauh lebih lama, dikutip dari laman Tanamera Coffee.

Meskipun terlihat sama, kedua jenis biji kopi tersebut memiliki bentuk yang berbeda. Kopi Robusta berbentuk lebih bulat sedangkan biji kopi Arabika cenderung agak lonjong. Pada ketinggian tanaman, kopi robusta dapat tumbuh hingga 4,5 – 6 meter, sedangkan tanaman kopi arabika hanya mencapai 2,5 – 4,5 meter, demikian dikutip dari laman Coffeland Indonesia.

Mengenai perbandingan harga, kopi jenis arabika tentu lebih mahal dibandingkan robusta. Hal itu dikarenakan kualitas rasa yang lebih baik serta proses penanaman atau perawatan yang sulit dan lama.

Kandungan kafein pada dalam kopi robusta berkisar antara 2,2 sampai 2,7 persen, sedangkan kafein pada kopi arabika hanya berkisar 1,1 sampai 1,5 persen. Asam klorogenik juga lebih banyak dimiliki oleh kopi robusta. Asam klorogenik pada kopi robusta dihasilkan oleh mekanisma perlindungan diri untuk mengusir hama dan penyakit. Tingginya kandungan asam klorogenik dapat mempengaruhi rasa yang tidak diinginkan pada secangkir kopi. (pelbagai sumber)

Artikel

TRIPIA RESEARCH: Siapa Chris Limahelu, Orang Indonesia yang Mencetak Rekor di Rose Bowl Game? (2)

Published

on

By

Namanya dikenang publik California bukan hanya karena rekor field goal. Tetapi juga karena pertandingan paling epik dalam sejarah The Rose Bowl Game.

INFORMASI yang dihimpun Tripia.id menyebut, perpindahan Christian Adrian Limahelu –Chris Limahelu– dari Indonesia ke Belanda bersama keluarganya terjadi saat dia masih bayi. Sayangnya, tak ada keterangan tahun berapa Chris angkat kaki dari Tanah Air. Di usia 10 tahun, Chris sudah tertarik pada football. Entah dari mana inspirasinya. Namun saat tahun berikutnya, dia mempelajari secara serius olahraga ini dan mulai mengembangkan teknik menendang bola berbentuk lonjong itu. Setelah dari Negeri Kincir Angin, keluarga Chris kemudian pindah ke Amerika Serikat. Dalam pelbagai literasi, tak diketahui kapan Limahelu mulai menjejakkan kaki di Amerika Serikat.

Chris diketahui pernah bersekolah di South Hills High School, West Covina –California. Di sana, dia tidak hanya menekuni olahraga football, melainkan juga tenis dan gulat. Setelah lulus, Chris melanjutkan pendidikannya di Citrus College, Glendora –California– sebelum akhirnya pindah ke University of Southern California (USC) dan mengambil jurusan sosiologi. Fase perpindahan dari Citrus College ke USC boleh dibilang menjadi titik balik Chris. Di sana, dia awalnya bergabung dengan program football USC dan bermain di tim junior pada 1972 –tahun keduanya di USC. Saat itulah, permainan football Chris untuk pertama kali menarik perhatian media setempat.

Di tim Trojans junior, Chris sudah membuat rekor tersendiri di musim 1973. Dia berhasil melakukan field goal sebanyak 14 kali dari 18 kali percobaan. Jumlah itu lebih banyak enam kali dibanding kicker Trojans junior sebelumnya yang dilakukan dalam satu musim. Rekor lainnya, tentu saja saat melawan Ohio State Buckeyes di The Rose Bowl Game musim kompetisi 1974. Dua field goal sejauh 42 yard dan 47 yard yang diciptakannya, menjadi field goal terpanjang kedua di kompetisi itu dan menjadi field goal terpanjang yang pernah dilakukan kicker di USC. Disamping itu, Chris juga berhasil menciptakan 31 poin lewat tendangan konversi dari 34 percobaan tendangan konversi setelah touchdown.

 

Medio 1974 disebut-sebut sebagai tahun keemasan Chris bermain football. Bahkan puncaknya terjadi saat USC melawan Stanford University Cardinals di kompetisi Pacific-8 (Pac-8) Conference. USC awalnya sempat tertinggal 23-10 di kuarter ketiga. Namun, Chris membalik keadaan. Lewat field goal sejauh 34 yard, Chris berhasil menempatkan bola di antara dua tiang gawang. Fakta yang mengejutkan, pertandingan di kuarter keempat itu hanya menyisakan 3 detik sebelum Chris melesakan tendangan. USC akhirnya menang 26-27 dari Stanford.

Tripia.id yang melakukan penelusuran secara digital menemukan potongan video pertandingan bersejarah itu di Youtube, dimana Chris yang mengenakan nomor punggung 11 melakukan field goal. Video berdurasi 1 menit 17 detik itu menggambarkan detik-detik kemenangan USC atas Stanford yang dilaksanakan 11 Oktober 1973. Sejak saat itu, karir football Chris berubah. Dia bahkan mendapat tawaran untuk bermain di Trojans senior dan bermain di Rose Bowl pada musim kompetisi 1975.

Di tim USC senior, prestasinya lebih mentereng lagi. Limahelu berhasil melakukan 10 field goal dari 17 kali percobaan dan berhasil mencipatakan 39 poin dari peluang 43 poin lewat tendangan konversi setelah touchdown. Berkat penampilan apik itu, dia bahkan masuk dalam tim utama All Pac 8 ketika USC memenangkan gelar nasional. Lalu pada pertandingan melawan University of California, Los Angeles (UCLA) Bruins pada akhir November 1974, Chris sekali lagi membuat field goal sejauh 30 yard. Di pertandingan yang sama, dia kembali menciptakan field goal sejauh 50 yard –memecahkan rekornya sendiri di tahun sebelumnya. (bersambung/fa)

Continue Reading

Artikel

TRIPIA RESEARCH: Siapa Chris Limahelu, Orang Indonesia yang Mencetak Rekor di Rose Bowl Game? (1)

Published

on

By

Perjalanan karir Christian Adrian Limahelu –akrab dikenal Chris Limahelu– sebagai atlet football di Amerika Serikat tak banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia.

ISTILAH football di Amerika Serikat dan di negara lain –termasuk Indonesia– berbeda. Di sana, football dipakai untuk olahraga American Football. Sementara sepak bola disebut soccer. Football adalah salah satu olahraga paling populer di Negeri Abang Sam –selain baseball dan basket. Laman Wikipedia menulis, kompetisinya paling terkenal di dunia adalah NFL —National Football League.

Di luar NFL, ada kompetisi profesional lain. Namanya adalah The Rose Bowl Game –selanjutnya ditulis Rose Bowl. Jika di NFL dimainkan oleh atlet profesional, maka kompetisi Rose Bowl khusus dimainkan oleh mahasiswa perguruan tinggi. Kompetisi ini sendiri dilakukan di stadion Rose Bowl di Pasadena –California. Stadion Rose Bowl sangat legendaris di Amerika Serikat karena pernah menggelar sejumlah pertandingan olahraga yang bersejarah. Satu diantaranya adalah final Piala Dunia 1994 antara Brasil dan Italia.

Rose Bowl biasanya dimainkan setiap 1 Januari –ketika 1 Januari jatuh pada Minggu, permainan dimainkan pada Senin 2 Januari. Kompetisi ini juga dijuluki sebagai “The Granddaddy of Them All” lantaran menjadi kompetisi football tertua dibanding NFL sejak pertama kali diselenggarakan pada 1902. Awalnya, Rose Bowl hanyalah turnamen kecil yang mempertemukan perguruan tinggi di wilayah timur dan wilayah barat Amerika Serikat.

Rose Bowl lalu digelar saban tahun sejak 1916 dan menjadi kompetisi football antar perguruan tinggi yang paling banyak ditonton masyarakat Amerika Serikat. Rose Bowl sendiri merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru yang digagas Pasadena Tournament of Roses Association. Rose Bowl menjadi laga puncak bagi tim football perguruan tinggi yang juara di kompetisi dan wilayah masih-masing, yakni Big Ten Conference dan Pacific-12 (Pac-12) Conference.

Sejarah Rose Bowl pernah mencatat nama seorang atlet kelahiran Indonesia. Dia adalah Chris Limahelu. Dia lahir 16 Oktober 1950 di Kota Ternate –Provinsi Maluku Utara. Chris menghembuskan nafas terakhir pada 7 April 2010 di Los Angeles –California– karena kanker ketika berusia 59 tahun. Kabar kematiannya mengejutkan publik California dan menjadi headline di sejumlah media ternama di Amerika Serikat. Dalam biografi singkatnya, ibunda Chris bernama Juliana. Saudara kandungnya bernama Al, Robert, Frank, Henry Rocky, Patrick, serta saudari perempuan bernama Juliette. Sementara nama sang ayah tidak diketahui.

 

Chris adalah seorang kicker yang bermain untuk University of Southern California (USC) Trojans yang terletak di Los Angeles –California. Mengenakan nomor punggung 11, Chris tercatat bermain selama musim kompetisi 1973, 1974, dan 1975. Saat itu, USC dipimpin kepala pelatih John McKay yang mengarsiteki tim ini dari 1950 hingga 1975.

Di football, setiap tim memiliki unit khusus yang hanya bertugas menendang bola. Diantaranya Punter, dimana pemain melakukan tendangan Punt yang dilakukan dengan cara bola dari tangan ke kaki lalu menendangnya ke arah tengah lapangan sebelum bola tersebut menyentuh tanah. Unit khusus ini juga diisi placekickerkicker— yang bertugas melakukan kick off, field goal, dan tendangan konversi setelah touchdown. Chris sendiri berperan sebagai kicker.

Bila melihat rata-rata postur tubuh atlet football yang besar dan gempal, perawakan Chris justru kebalikannya. Laiknya orang Indonesia pada umumnya, dia hanya memiliki tinggi 1.65 meter dan berat badan 61 kg. Meski hanya membela USC selama tiga musim, Chris justru membuat rekor tak biasa dalam sejarah Rose Bowl dan USC.

Buku “Buckeye Glory Days: The Most Memorable Games of Ohio State Football” yang ditulis Eric Kaelin, serta buku “The USA TODAY College Football Encyclopedia 2009-2010
yang ditulis Bob Boyles dan Paul Guido, mencatat rekor fantastis Chris di sejumlah pertandingan. Diantaranya yang diingat publik Amerika Serikat adalah field goal Chris sejauh 47 yard di pertandingan Rose Bowl pada 1974 melawan Ohio State Buckeyes –musim kompetisi kedua Chris bersama USC. Jarak tendangan itu ternyata menjadi field goal terpanjang kedua dalam sejarah Rose Bowl saat itu. Bahkan yang pernah diciptakan USC –kabarnya memecahkan rekor field goal USC yang telah bertahan selama 64 tahun.

Dalam permainan footbal, pemain memang tidak hanya bisa menciptakan gol –poin– melalui touchdown. Yakni saat pemain membawa lari bola atau menangkap lemparan bola di bagian end zone –garis terakhir– lawan. Gol juga bisa diciptakan melalui field goal –dalam bahasa Indonesia berarti gol lapangan– yang dilakukan dengan cara menendang bola agar melewati dua tiang gawang di bagian belakang end zone lawan.

Sebenarnya, di akhir karirnya di USC, Chris telah mencetak tiga dari lima field goal terpanjang dalam sejarah USC. Rekor Chris itu kemudian dipatahkan Steve Jordan –52 yard– saat melawan Stanford pada 1982 dan saat melawan Washington State University Cougars pada 1983. Rekor Jordan kemudian dipecahkan kembali oleh Don Shafer –60 yard– pada 1985 saat melawan melawan University of Notre Dame Fighting Irish.

Tripia.id mencoba menelisik catatan pertandingan berbahasa Inggris antara USC dan Buckeyes saat itu. Diketahui, pertandingan kedua tim terjadi di Rose Bowl edisi ke 60 yang dilaksanakan Selasa 1 Januari 1974. Dalam pertandingan itu, USC harus menerima kekalahan saat melawan Buckeyes dengan skor 21-42. Namun, Chris memberikan sumbangsih besar bagi USC dengan mencetak dua field goal. Yakni saat kuarter pertama sejauh 47 yard, dan saat kuarter kedua sejauh 42 yard. Di kuarter ketiga, tendangan konversi Chris menjadi pelengkap touchdown yang dilakukan Davis setelah berlari sepanjang jarak 1 yard.

Dalam catatan pertandingan lain berbahasa Inggris yang ditemukan Tripia.id, kedua tim sebenarnya bermain imbang saat quarter pertama. Buckeyes kemudian mendominasi permainan di quarter kedua. Kebangkitan USC terjadi di quarter ketiga saat memimpin skor 21-14. Sayang, keunggulan itu tidak dapat dipertahankan di kuarter keempat. Buckeyes berbalik dengan melakukan empat kali touchdown dan menutup pertandingan dengan skor 21-42. Meski USC kalah, dalam pertandingan itu Chris meciptakan rekor yang diingat sampai saat ini oleh publik California. (bersambung/fa)

Continue Reading

Artikel

Solo Exhibition by SENA: Bomber Grafiti yang Melahirkan 476 Karya di Jalanan Kota Samarinda

Published

on

By

Street artist dari Kota Samarinda, SENA, menggelar pameran tunggal di Kedai Kopi Muzzle. Berlangsung sejak Sabtu 27 Agustus 2002 hingga Minggu 4 September 2022, sejumlah karya dihadirkan lewat instalasi atraktif.

DI ruang depan, disajikan sebuah pengantar dari Samar Project –kurator “Solo Exhibition by SENA“. Lewat media tembok berwarna putih, Samar Project mengejawantahkan sosok SENA sebagai bomber grafiti paling produktif di Provinsi Kalimantan Timur saat ini. Predikat itu tentu bukan sesumbar. Sejak 2011 hingga 2022, ada 476 karya dengan tag SENA yang dapat ditemui di Kota Samarinda dan sekitarnya. “Keberadaannya tentu tidak lepas dari kontroversi. Namun bagaimanapun, praktiknya yang dirangkum di ruangan ini adalah respon terhadap praktik seni dan produk visual yang ada di Samarinda,” tulis Samar Project.

Bagi Robby Oktovian dan Syahrullah –Samar Project– bila diamati, produk visual di ruang terbuka Kota Samarinda hanya didominasi tiga citra dominan. Pertama adalah kampanye politik, kedua adalah iklan, dan ketiga adalah mural. SENA sendiri mewakili citra dominan mural yang cukup konsisten menghiasi pelbagai ruang terbuka Kota Tepian. Berbeda dengan produk visual lain, mural SENA tidak memiliki tendensi promosi apapun selain aktualisasi. Samar Project menangkap pesan, secara ideologis apa yang dilakukan SENA adalah bentuk “provokasi”, bahwa warga sipil pun mempunyai hak untuk berkarya secara radikal di ruang terbuka.

Samar Project melihat, meskipun pada tingkat global grafiti telah terestablish menjadi bagian dari praktik seni publik, namun di Kota Samarinda praktik itu kerap dilihat sebelah mata. Praktik seni di Kota Samarinda sendiri berjalan dengan cara organik dan institusional yang kaku. Akibatnya, keberadaan galeri sangat minim. Pun hanya dikuasai oleh kelompok tertentu. Beberapa praktik tak lagi sesuai dengan visi estetik, berdampak pada perkembangan seni yang berjalan pincang. “Praktik SENA yang membuat seisi ruang kota sebagai ‘galerinya’, memecahkan dan melawan kondisi tersebut,” jelas Samar Project.

Pengantar “olo Exhibition by SENA” oleh Samar Project. (FOTO: Tripia.id)

UNTAIAN tirai plastik bergoyang perlahan menuju ruang utama pameran. Lewat variasi warna cerah dan gelap, SENA mengucapkan selamat datang melalui kalimat “Outside In“. Grafiti yang terkesan asal itu nampak estetik jika diamati, baik dari depan maupun dari belakang. Dan seperti banyak karya yang telah dia dibuat, tag SENA hadir diantara coretan-coretan grafiti itu.

Tirai plastik menjadi medium pembeda di “Solo Exhibition by SENA”. (FOTO: Tripia.id)

SENA yang dikenal akrab dengan medium dinding beton, mencoba mengimplementasikan idenya lewat medium lain di solo exhibition ini. Selain di tirai plastik, penggunaan medium berbeda juga terlihat di instalasi 4 rambu jalan berbentuk lingkaran dan segi empat. Cerita dibalik hadirnya rambu jalan ini juga cukup menarik. SENA mendapatkannya di pelbagai lokasi di Kota Samarinda. Namun salah satunya justru ditemukan di Kota Sangatta –Kabupaten Kutai Timur. Rambu itu berbentuk larangan untuk kendaraan dengan spesifikasi tertentu.

Instalasi kaleng cat semprot bekas dan rambu lalu lintas di “Solo Exhibition by SENA”. (FOTO: Tripia.id)

Deretan 4 rambu jalan yang tergantung rapi di atas koleksi kaleng cat semprot bekas itu, turut pula diubah menjadi artistik. Selain itu, ada pula road barrier. Selain berisi coretan cat semprot, diantaranya juga bersanding deretan stiker ucapan para pengunjung yang menjalar hingga di sebuah tiang ruangan yang digunakan sebagai pengganti daftar buku tamu.

Medium lainnya adalah kertas. Sebanyak 40 desain grafiti di paper itu juga dihadirkan sebagai bagian dari proses kreatif SENA memadukan pelbagai warna. Jenis grafiti seperti bubble, throw up, dan roll up, menghiasi keseluruhan karya ini.

Desain grafiti bubble, throw up, dan roll up dengan medium kertas milik Sena turut dihadirkan di “Solo Exhibition by SENA”. (FOTO: Tripia.id)

Maju selangkah, peta Kota Samarinda kemudian terlihat terbentang di dinding tembok berwarna putih –tepat di sebelah kanan ruang pameran utama. Beberapa kelurahan di sekitar 10 kecamatan, diberi pin bertali yang dihubungkan dengan deretan dokumentasi foto-foto grafiti yang pernah dibuat SENA. Dari peta tersebut tergambar, jejak karya SENA banyak berpusat di Kecamatan Samarinda Ilir. “Dokumentasi ini baru sebagian,” jelas Sena.

Instalasi dokumentasi yang dikombinasikan dengan peta Kota Samarinda. (FOTO: Tripia.id)

Di samping instalasi itu, tersedia pula televisi dan Playstation 2. Gim yang disediakan bagi pengunjung adalah Marc Eckō’s Getting Up: Contents Under Pressure. Ruang kecil ini seolah menceritakan bagaimana SENA memulai ketertarikannya terhadap dunia grafiti lewat sebuah gim. Ya, perjalanan Sena dan grafiti memang bermula pada gim Marc Eckō’s Getting Up: Contents Under Pressure di Playstation 2. Trane, seniman amatir yang menjadi tokoh di gim itu, menggunakan grafiti sebagai bentuk protes terhadap Kota Orwellian yang mengalami distopia dan korup. Di gim itu, kebebasan ekspresi ditekan oleh pemerintah kota yang kejam. “Saya terinspirasi karena gim ini,” akunya.

Di bagian lain, tembok putih besar lain disediakan bagi pengunjung yang ingin mencoba membuat mural langsung ditembok. SENA menyediakan secara gratis beragam cat sempot untuk digunakan. Selanjutnya adalah instalasi koleksi cat semprot bekas. Beberapa diantaranya termasuk jadul dan tidak dijual di Kota Samarinda. Cat semprot merek Diton 300 CC –misalnya– turut dipamerkan dan menjadi saksi perjalanan SENA di dunia grafiti. “Dulu dibuang begitu saja. Baru ini mulai dikumpulkan lagi,” katanya. “Ini baru sebagian, di rumah masih ada,” timpal Sena.

Karya SENA dengan medium plywood, dikombinasikan dengan uang pecahan Rp 1.000. (FOTO: Tripia.id)

Dari semua instalasi itu, yang paling menarik adalah karya grafiti lewat medium plywood yang membentuk nama SENA. Di dalam media itu, disusun rapi lembaran uang pecahan Rp 1.000 dari waktu ke waktu. Paling dominan tentu saja uang pecahan Rp 1.000 yang dirilis pada 2000 dan 2016. SENA juga menyelipkan easter egg dalam karya itu berupa uang pecahan Rp 1.000 bergambar Danau Toba dan Loncat Batu di Nias yang beredar pada 1992.“

CERITA GRAFITI DI FLYOVER JEMBATAN MAHAKAM IV

Solo exhibition by SENA” merupakan puzzle penting dari perjalanannya selama 1 dekade lebih Sena sebagai street artist. Meski banyak terlibat dalam pelbagai eksibisi grafiti, pameran tunggal ini menjadi bukti tak terbantahkan eksistensinya dalam dunia street art lokal. Sepanjang perjalanan itu, salah satu karya yang diingat publik adalah grafitinya di flyover Jembatan Mahakam IV di Jalan Slamet Riyadi –tepat di depan Polres Samarinda. Kepada Tripia.id, Sena mengungkapkan banyak hal mengenai cerita dibalik grafiti itu.

Kata Sena, dalam setahun sekali, dia selalu memiliki “tradisi” melakukan sesuatu yang berbeda. Aktivitas ini dilakukannya sejak 2017. Mulai dari kolaborasi hingga kegiatan antar komunitas. Di 2021 –setahun setelah peresmian Jembatan Mahakam IV– Sena memutuskan untuk melakukan grafiti di flyover Jembatan Mahakam IV itu. “Saat itu belum ada yang grafiti di sana. Daripada menunggu yang lain, saya nekat saja bikin grafiti di lokasi itu,” terangnya.

Instagram @real_sena

Sena mengaku sempat melakukan survei lokasi lebih dulu. Setelah setengah jam berada di sana, dia lalu mulai menyemprotkan cat ke dinding flyover. Berbeda dengan kebanyakan karya yang dibuat, grafitinya kali ini memang terlihat sederhana dengan menggunakan warna hitam. Namun menariknya, grafiti tersebut dibuat menggunakan Alat Pemadam Api Ringan atau APAR yang telah dimodifikasi. “Medianya juga besar. Makanya pakai APAR. Kalau pakai cat semprot, jaraknya hanya 2 meter. Dengan APAR jaraknya bisa sampai 4 meter dan mudah dinotice orang,” sebutnya.

Bagi Sena, lokasi itu dipilih karena terlihat sangat kaku. Apalagi saat itu belum ada penghijauan di sekitar flyover. Penerangan yang minim saat malam hari juga menambah kesan muramnya flyover Jembatan Mahakam IV di Jalan Slamet Riyadi tersebut. Sena menyatakan, grafiti pada dasarnya tak mengubah fungsi dari medium yang digunakan. Grafiti hanya memberi warna bagi bagian bangunan yang monoton. “Setidaknya saat orang lewat, mereka melihat sesuatu untuk dinotice,” paparnya.

Keberadaan grafitinya di flyover tersebut tentu saja menimbulkan pro-kontra. Pagi harinya, kabar munculnya grafiti di flyover Jembatan Mahakam IV tersebar di media sosial. Alih-alih memperbincangkan tujuan hadirnya grafiti di tempat tersebut, publik justru lebih tertarik memperbincangkan siapa sosok yang melakukannya. Bahkan, akun Instagram miliknya tak luput dari pesan dari pelbagai pihak seperti pemerintah dan aparat. (fa)

Continue Reading

Trending