Connect with us

Artikel

Alfred H. Peet, Guru Spiritual Kopi Pendiri Starbucks

Published

on

Publik mengenal Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bowker, sebagai pendiri Starbucks. Tapi tanpa Alfred H. Peet, mereka mungkin tak akan bisa menyajikan kopi paling laris di dunia.

PERUSAHAAN kedai kopi berlogo putri duyung Siren itu merupakan raksasa kopi dari Amerika. Namun tidak banyak yang tahu kebesaran itu berkat jasa Peet, pria yang menemukan kembali cintanya kepada kopi saat tinggal di Pulau Jawa dan Sumatera.

Dalam buku “The Starbucks Story“, Peet disebut sebagai “Guru Spiritual Starbucks”. Dua dari tiga pendirinya, Jerry Baldwin dan Gordon Bowker, ternyata pelanggan setia kopi yang dijual Peet. Ya, inspirasi utama di balik pendirian Starbucks adalah Alfred Peet, seorang pengusaha kopi yang mengimpor kopi arabika berkualitas ke Amerika Serikat selama 1950-an. Peet merupakan seorang imigran dari Belanda. Pada 1966, dia membuka toko kecil bernama Peet’s Coffee & Tea di California yang menyajikan kopi-kopi dan teh impor kualitas wahid.

Starbucks lantas mengikuti gaya bisnis Peet, khususnya dalam penjualan biji kopi serta peralatan pembuat kopi berkualitas tinggi. Peet juga menjadi pemasok awal biji kopi bagi Starbucks. Dari situ, kemitraan antara keduanya berkembang hingga ke impor peralatan pembuat kopi bekas dari Belanda. Para pendiri Starbucks yang memang penggemar kopi itu lantas berksperimen dengan teknik coffee roasting dari Peet untuk menciptakan cita rasa mereka sendiri.

Di antara sejarawan kopi, Peet disebut sebagai orang Belanda yang mengajari masyarakat Amerika cara minum kopi yang benar. Makanya, Peet dinobatkan sebagai pencetus “Revolusi Kopi Gelombang Kedua” —second wave coffee— di Negeri Abang Sam. Peet lahir 10 Maret 1920 di Alkmaar, Belanda. Ayahnya, Henry Peet, punya usaha kecil pengolahan kopi. Dari sana Peet belajar soal seluk-beluk minuman berkafein.

Saat Perang Dunia II pecah, Peet sempat bekerja di perusahaan importir teh dan bertugas di New Zealand. Lalu pada 1948, dia mendarat di Pulau Jawa. Di sinilah kecintaannya akan kopi kembali bersemi. Peet mengkampanyekan keunggulan kompleksitas rasa dan aroma kopi jenis Arabika daripada Robusta –saat itu lebih umum dibudidayakan.

Pada 1955, sentimen antiasing terjadi di Tanah Air. Peet memutuskan menyudahi petualangannya di Indonesia dan memutuskan pergi ke Amerika Serikat. Dia kemudian memilih kawasan Pantai Barat dan menetap di Berkeley. Berbekal dana warisan sang ayah, Peet membuka bisnis “Peet’s Coffee and Tea” dan menjual biji kopi dalam kemasan sekaligus menyediakan 6 kursi jika pelanggan ingin minum di tempat.

Pria berkacamata ini awalnya mengaku prihatin melihat masyarakat Amerika Serikat yang makmur tapi meminum kopi robusta kualitas rendah. Peet bahkan menyebutnya “ransum jatah perang”. Mulanya, sajian kopi di kedai Peet’s dianggap terlalu kental dan berat bagi lidah masyarakat Amerika. Pelanggan-pelanggan Peet awalnya kebanyakan dari Eropa yang kesulitan menemukan kopi hitam berkualitas tinggi sesuai selera mereka.

Lambat laun, bisnisnya berkembang pesat. Apalagi, Berkeley saat itu jadi pusat berkumpul kaum intelektual yang adaptif terhadap hal-hal baru. Saking pesatnya, kualitas kopi istimewa ala Peet menginspirasi para pendiri Starbucks menetapkan standar minuman mereka yang dikemudian hari mendunia.

Sampai saat ini, masyarakat California sangat bangga dengan Peet’s walaupun sudah bukan dimiliki oleh keluarga pendirinya. Peet’s Coffee and Tea berjumlah sekira 200 outlet dan mayoritas ada di Pantai Barat Amerika. (wikipedia)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel

Konon, Nasi Goreng Dari Tiongkok

Published

on

By

Nasi goreng menyimpan jejak sejarah panjang.

SEJAK 4.000 Sebelum Masehi (SM), konon nasi goreng bermula di Negeri Tirai Bambu. Dari catatan yang ditemukan –dikutip dari The Thousand Recipe Chinese Cook Book (1966) karya Gloria Bley Miller– nasi goreng mulai cukup dikenal pada era Dinasti Sui (581–618 Masehi), tepatnya di Kota Yangzhou.

Tercetusnya ide nasi goreng berawal dari kebiasaan sederhana. Awalnya, orang-orang Tiongkok pada masa itu ingin memanaskan nasi agar tidak basi dan terbuang percuma. Maka, nasi tersebut diproses ulang dengan cara digoreng. Agar lebih nikmat dan bercitarasa, maka ditambahkan bumbu dan rempah sebelum disantap. Inilah alasan di balik memanaskan nasi yang kemudian dikenal sebagai nasi goreng dan menjadi makanan yang sangat populer.

Tersebarnya nasi goreng terjadi akibat migrasi yang dilakukan orang-orang Tiongkok. Di Indonesia, nasi goreng yang dibawa bangsa Tionghoa beradaptasi dan berkembang sesuai dengan daerah yang mereka tinggali. Maka tidak heran jika kini ada banyak sekali jenis nasi goreng di Tanah Air.

Meskipun nasi goreng kerap disebut-sebut berasal dari Tiongkok, namun tidak demikian dengan pendapat Hillary Keatinge dan Anneke Peters yang terungkap dalam buku The Flavour of Holland (1995). Dua penulis kuliner ini yakin bahwa nasi goreng memang berasal dari Indonesia. Nasi goreng –tulis Keatinge dan Peters– adalah makanan asli Indonesia yang merupakan olahan nasi sisa yang dimasak kembali untuk dihidangkan bersama irisan omelette –telur dadar– dan menjadi menu yang biasanya dinikmati di pagi hari. (tirto)

Continue Reading

Artikel

Dari Mana Asal Kecap Manis?

Published

on

By

Kecap manis berasal dari Pulau Jawa, kemudian menyebar ke banyak pojokan Nusantara.

MEMANG, secara asal-usul, kecap manis adalah bentuk lanjutan dari kecap asin. Menurut buku History of Soy Sauce yang ditulis William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, sejarah kecap bisa ditarik sejak abad ke 3 di jazirah Tiongkok.

Dalam buku itu, disebutkan bahwa kecap dikenal dunia barat pada 1680. Kecap mulai masuk Nusantara pada 1737. Saat itu serikat dagang Hindia Belanda membawa kecap ke Batavia –sekarang Jakarta– untuk kemudian dikemas dan dikirim ke Amsterdam. Namun, diperkirakan kecap sudah masuk Nusantara jauh sebelum itu, dibawa oleh imigran dari Tiongkok.

Dalam menulis sejarah kecap di Nusantara, Shurtleff dan Aoyagi juga merujuk pada buku lawas, Pemimpin Pengoesaha Tanah (1915) yang mencantumkan bahan baku pembuatan kecap, yakni: ground fish (ikan yang hidup di dasar air, di buku itu dituliskan contohnya: ikan pikak), jamur kuping, daun salam, daun pandan, laos, jahe, sereh, bawang merah, dan suwiran daging ayam.

Di berbagai babad soal kecap, bahan lain yang kerap disertakan sebagai bahan baku adalah bunga lawang, ketumbar, akar laos, hingga kepayang, alias kluwek. Tentu beda merek kecap, beda pula racikan resepnya. Karenanya, tiap kecap manis pasti punya karakter rasa masing-masing. Kecap-kecap ini yang jadi andalan warga lokal, dan seringkali ada rasa yang hilang kalau kecap itu diganti merek lain.

Ada banyak merek kecap manis lain. Di Madiun ada kecap Cap Tawon. Di Medan, ada trivium Cap Sempurna, Cap Panah, dan Cap Angsa. Orang Majalengka kenal dua kecap legendaris, Maja Menjangan dan Segi Tiga. Di Semarang, yang terkenal adalah kecap Cap Mirama. Di Palembang ada kecap Cap Bulan dan Cap Merpati. Di Tegal, orang kenal merek Djoe Hoa. Di Makassar ada merek Sumber Baru dan Sinar. Kebumen punya kecap andalan Banyak Mliwis. Tuban punya merek Cap Laron. Tak ada yang nomor dua. Semua kecap itu nomor satu.

Menurut Bondan Winarno di Kecap Manis: Indonesia’s National Condiment, kata kecap merupakan penyerapan dari karakter Hanzi, koechiap. Namun, tulis Bondan, kata itu juga punya arti lain: tomat. Karena itu pula, dunia barat mengenal ketchup sebagai saus tomat. Kecap manis jadi bukti pendatang dari Tiongkok yang datang ke Pulau Jawa amat lihai beradaptasi.

Bondan menyebut bahwa para pendatang Tiongkok yang bermukim di Tuban, Gresik, Lasem, Jepara, dan Banten pada abad 11 menyadari bahwa orang-orang di Pulau Jawa suka rasa manis. Maka mereka memodifikasi kecap asin yang mereka bawa dari kampung halaman. “Mereka,” tulis Bondan, “menambahkan gula palem yang merupakan produk lokal. Dan, voila, lahirlah kecap manis!”

Karena kelahirannya di Jawa, tak heran kalau kecap manis banyak berkembang di sana pula. Bondan menyebut, hanya sedikit merek kecap manis di Sumatera Utara dan Selatan, Kalimantan, juga Sulawesi. Ini yang kemudian membuat banyak orang berkelakar bahwa kecap identik dengan orang Jawa. “Di Sumatera Barat, yang terkenal dengan makanan Padang, tak ada pembuat kecap manis. Di Bali juga tak ada, padahal letaknya tak jauh dari Jawa.”

Kata Bondan, “Kecap manis adalah hadiah dari pendatang Cina untuk tuan rumah. Dan karena ia lahir di Nusantara, maka kita bisa berbangga hati menyebut kecap manis adalah produk asli Indonesia. Kecap manis benar-benar permata di warisan kuliner Indonesia.” (tirto)

Continue Reading

Artikel

Siapa Sosok Pertama yang Memerankan Badut Legendaris McDonald?

Published

on

By

Setiap anak kecil di dunia pasti mengenal karakter Ronald McDonald, maskot restoran cepat saji asal Amerika Serikat, McDonald’s.

BERSAMA dengan tiga temannya, Mayor McCheese, the Hamburglar, Grimace, Birdie the Early Bird, dan The Fry Kids, Ronald menjadi magnet utama bagi anak kecil untuk mengunjungi McDonald’s. Lantas, siapa sosok dibalik badut legendaris itu?

Ada dua versi klaim yang beredar mengenai figur asli yang memerankan Ronald pertama kali. Versi pertama datang dari Willard Scott. Versi kedua, dari George Voorhis dan Terry Teene. Namun, McDonald’s sebagai perusahaan sebenarnya tidak menyebut Scoot sebagai pencipta Ronald. Apalagi dengan Voorhis dan Teene. McDonald’s hanya menyatakan Ronald memang diperankan oleh Scott.

McDonald’s menyatakan, “Senyumnya dikenal di seluruh dunia. Ronald McDonald berada di urutan kedua setelah Sinterklas soal dikenali anak-anak. Menurut sebuah survei, 96 persen dari semua anak-anak sekolah di Amerika Serikat mengenali Ronald. Dalam iklan televisi pertama McDonald’s pada 1963, badut tersebut memang diperankan oleh Willard Scott”.

Klaim Scott sebagai Ronald yang asli didukung 28 Maret 2000 lalu oleh Henry Gonzalez, Presiden Divisi Northeast McDonald’s. Dia secara khusus berterima kasih kepada Scott untuk jasanya menciptakan tokoh Ronald dalam tribut yang direkam untuk Scott dalam acara Today Show.

Kehadiran Ronald sebagai maskot terjadi pada awal 1960-an dan memiliki peran besar dalam proses penjualan McDonald’s. Saking populernya Ronald, pada 1970-an bahkan ada komik khusus yang memuat cerita ringan soal Ronald.

Dari komik ini satu-persatu karakter lain ikut bermunculan. Di 1990-an, Ronald dan teman-temannya menjadi maskot ikonik dari McDonald’s. Pelbagai miniatur dan mainan karakter fiksi ini hadir dalam tema McDonaldland dan banyak di jual di restoran cepat saji ini.

Perjalanan panjang Ronald dan teman-temannya berakhir pada 2003 dimana McDonald’s menyasar pasar orang dewasa dibanding anak-anak. Munculnya kampanye “I’m Lovin It” menjadi awal hilangnya sosok Ronald dan teman-temannya. (pelbagai sumber)

Continue Reading

Trending